16 Metric Startup Yang Harus Di Perhatikan Dari Jeff Jordan, Anu Hariharan, Frank Chen, Dan Preethi Kasireddy | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

16 Metric Startup Yang Harus Di Perhatikan dari GMV, LTV, CAC, Churn, Burn Rate dll

Posted by & filed under Startup, Startup Indonesia.

 


 

startup metric

Artikel ini kami ambil dari blog Andreessen Horowitz, hal ini sering menjadi pertanyaan startup. Metric apa yang harus diperhatikan ? Rule umumnya adalah menemukan “One Metric That Matter” (OMTM).  Buku Lean Analytics karangan Alaistair Croll dan Ben Yozkovitz menyebutkan ” The One Metric That Matters is all about finding the right thing to track at the right time, based on the type of business you’re in and the stage you’re at.” Artikel ini memberikan gambaran metric apa saja yang dianggap penting bagi Anda untuk menjawab apakah startup Anda berjalan dengan baik.

 

Kami memiliki previlege untuk bertemu dengan ribuan entrepreneur setiap tahunnya, lalu pada pertemuan dan diskusi tersebut mereka mempresentasikan seluruh angka, ukuran, dan metric yang mengilustrasikan kesehatan dan perkembangan perusahaan kedepannya nanti. Namun terkadang metric yang di gunakan bukanlah sebuah pilihan yang tepat dengan apa yang terjadi saat ini dalam bisnis yang sedang berjalan, atau banyak orang yang salah mengartikan metric yang ada sehingga membuat kita sulit untuk mengetahui bagaimana kesehatan dan perkembangan bisnis tersebut kedepannya.

Jadi, mungkin hal ini tidak asing lagi bagi kalian yang telah menggunakan metric ini setiap saat. Kita akan menggabungkan metric yang paling dasar hingga metric yang paling membingungkan dan kami juga akan memberikan sebuah catatan mengapa investor fokus terhadap metric tersebut. Metric yang baik bukanlah tentang mendapatkan pendanaan dari Venture Capital (VC) namun bagaimana founder mengerti tentang bagaimana sebuah hal dapat berjalan (atau tidak).

Jadi inilah 16 Metric yang perlu diperhatikan.

Metric Bisnis dan Financial

#1 Booking vs Revenue

Kesalahan yang paling umum terjadi adalah banyak orang yang menggunakan bookings dan revenue secara bergantian, padahal dua hal tersebut merupakan hal yang berbeda.

Bookings merupakan sebuah nilai kontrak  antara perusahaan dengan customer. Hal yang dimaksud adalah sebuah bagian dari kewajiban kontraktual yang harus dibayarkan customer kepada perusahaan.

Revenue terjadi ketika layanan diberikan setelah perjanjian yang telah disetuji. Bagaimana revenue tersebut dapat diakui atau sah diatur oleh GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)

Surat perjanjian lisan tidak termasuk dua hal di atas.

#2 Recurring Revenue vs Total Revenue

Investor lebih menilai tinggi sebuah perusahaan yang total revenue nya lebih banyak berasal dari product revenue dibandingkan dengan service. Mengapa? Karena service revenue itu tidak pasti, memilikki margin kecil, dan kurang scaleable. Product revenue didapatkan dari penjualan produk itu sendiri sehingga dapat di prediksi dan stabil.

Ada beberapa hal yang harus perhatikan tentang hal ini

ARR (Annual Recurring Revenue) yaitu sebuah ukuran dari komponen revenue yang akan datang kembali dengan sendirinya. Jadi , one-time fees tidak termasuk dalam hal ini.

ARR per customer apakah hal ini stagnan atau terus meningkat? Jika kalian melakukan up-selling atau cross-selling maka seharusnya hal ini akan meningkat, yang merupakan sebuah indikator positif dari perusahaan yang sehat.

MRR ( Monthly Recurring Revenue) banyak orang yang mengalikan (one-month’s booking x 12 bulan) untuk mendapatkan angka ARR. Kesalahan umun dalam metode ini adalah : (1) menghitung biaya non-recurring seperti hardware, setup, instalasi, dan jasa profesional. (2) menghitung bookings.

#3 Gross Profit (Laba Kotor)

Perkembangan top-line bookings sangatlah penting, selain itu investor ingin mengerti seberapa untung kah revenue stream yang Anda miliki oleh karena itu gross profit dapat memenuhi informasi tersebut.

Apa yang termasuk dalam Gross Profit dapat bervariasi tergantung perusahaannya, namun secara umum hal tersebut termasuk biaya manufactur, pengiriman, dan customer service.

Jadi Anda harus melakukan break-down dari apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam Gross Profit.

#4 Total Contract Value (TCV) vs Annual Contract Value (ACV)

TCV ( Total Contract Value ) merupakan total nilai sebuah kontrak (jangka pendek dan jangka panjang) . Pastikan juga bahwa dalam TCV termasuk one-time charges, biaya jasa profesional dan biaya recurring.

ACV ( Annual Contract Value ) mengukur nilai kontrak selama periode 12 bulan . Beberapa pertanyaan di dalam ACV :

Seberapa besarkah? Apakah Anda mendapatkan beberapa ratus dollar dari customer Anda, atau bisa mendapatkan angka yang lebih besar?  Tentu saja hal ini tergantung dengan pasar yang Anda targetkan. (UKM vs Kelas Menengah vs Pengusaha Besar).

Apakah ACV Anda mengalami peningkatan? Jika ya, itu berarti customer membayar lebih banyak terhadap produk yang Anda tawarkan. Hal tersebut juga berarti bahwa produk Anda memilikki nilai lebih (fitur dan kemampuan) di mata customer sehingga mereka mau untuk membayar lebih banyak terhadap produk Anda.

#5 Life Time Value (LTV)

Lifetime Value merupakan suatu keuntungan yang telah diprediksi dan diantisipasi, yang dapat customer berikan kepada kita selama  customer tersebut masih berhubungan dengan bisnis kita.

Kesalahan yang umum terjadi adalah mengitung LTV sebagai pendapatan saat ini atau gross margin dari customer, bukannya menghitung net profit yang dihasilkan dari hubungan bisnis yang terjadi dari awal dengan customer tersebut.

Ini adalah cara menghitung LTV

  • Revenue per customer (per month) = Average Order Value x  Number of Orders
  • Contribution margin per customer (per month) = Revenue from Customers  – Variable Cost Associated with a Customers (Variabel Cost termasuk biaya administrasi dan operasional dalam melayani customer)
  • Avg. life span of customer (in month) =  1 / perputaran customer dalam 1 bulan
  • LTV = Contribution margin per customer x Avg. life span of customer

Jika kalian hanya memiliki beberapa data bulanan, cara terbaik untuk mengukur LTV adalah melihat data-data yang tersedia sebelumnya. Daripada memprediksi average life span dan mengestimasi seperti apa  kurva yang akan terbentuk dari retention, lebih baik mengukur 12 hinga 24 bulan LTV yang kita miliki.

#6 Gross Merchandise Volume (GMV) vs Revenue

Di dalam bisnis marketplace, kedua hal ini sering digunakan secara bergantian namun ingat bahwa GMV tidak sama dengan Revenue.

Gross Merchandise Value (GMV) adalah total transaksi penjualan dari merchandise melalui marketplace dalam periode tertentu. Hal yang paling penting adalah mengetahui apa yang konsumen sukai dalam marketplace. Hal itu penting untuk mengukur besarnya sebuah marketplace dan juga dapat berguna untuk menentukan acuan (current run rate) menghitung rate bulan terakhir atau quarter (3 bulanan).

Revenue merupakan bagian dari GMV yang di “ambil” oleh marketplace. Revenue berisi berbagai macam biaya yang marketplace dapatkan dengan menyediakan jasanya. Kebanyakan berasal dari biaya transaksi yang dikenakan oleh marketplace lalu juga yang berasal dari iklan dan sponsorship.

#7 Unearned or Deferred Revenue … and Billings

Dalam bisnis SaaS ini adalah kas yang dapat diterima yaitu uang muka (booking) sebelum menerima revenue yang akan terwujud nantinya.

Perusahaan SaaS dapat menerima revenue ketika perjanjian dari jasa yang diberikan telah dilaksanakan – meskipun customer telah menandatangani perjanjian. Jadi dalam beberapa kasus “booking” tersebut masuk ke dalam neraca keuangan pada bagian Liability yang disebut deffered revenue.

Salah satu cara untuk mengukur pertumbuhan dan kesehatan dari perusahaan ini  yaitu dengan melihat billing (tagihan), yang dihitung dari revenue yang diambil dari quarter pertama ditambah dengan deffered revenue dari quarter sebelumnya ke dalam quarter saat ini. Jika perusahaan SaaS mengalami peningkatan booking, maka billing akan meningkat.

Billing dilihat sebagai indikator yang baik untuk menilai kesehatan dari perusahaan SaaS daripada hanya melihatnya dari revenue yang di dapat karena revenue menurunkan nilai dari seorang customer. Hal ini juga sedikit tricky karena sifat dari recurring revenue itu sendiri : sebuah perusahaan SaaS bisa menunjukkan pendapatan yang stabil untuk waktu yang lama – hanya dengan menjadikan billing tersebut sebagai sebuah jaminan simpanan yang membuat perusahaan tersebut terlihat lebih bagus dari yang sebenarnya terjadi. Hal ini lah yang harus kita perhatikan ketika mengevaluasi jenis bisnis ini.

#8 CAC (Customer Acquisition Cost) … Blended vs. Paid, Organic vs. Inorganic

Customer Acquisition Cost (Biaya mengakuisisi customer) seharusnya adalah total biaya untuk mendapatkan sebuah customer yang disampaikan dalam per user basis. Sayangnya metric dari CAC  hadir dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

Masalah umum yang dihadapi dengan metric CAC adalah gagal untuk memasukkan seluruh biaya yang terjadi dalam mengakuisisi customer seperti biaya refferal, credit, atau diskon. Kendala umum lainnya adalah menghitung CAC sebagai biaya “campuran ” (biaya akuisi organic dan paid digabung menjadi satu).  CAC ini memang tidak salah, namun hal tersebut akan membuat informasi yang tidak optimal tentang campaign berbayar yang Anda jalankan, apakah hal tersebut berjalan dengan baik atau apakah hal tersebut dapat menguntungkan perusahaan.

Hal ini yang membuat investor mempertimbangkan paid CAC  lebih penting daripada CAC campuran dalam mengevaluasi kelayakan dari sebuah bisnis – karena hal ini mengiformasikan apakah sebuah perusahaan dapat meningkatkan budget untuk mengakuisisi customer. Banyak argumen yang muncul karena hal ini misalnya CAC berbayar berkontribusi terhadap organic acquisition.

Banyak investor yang senang untuk melihat keduanya (campuran dan berbayar). Mereka juga senang untuk melihat break-down dari uang yang dihabiskan untuk mengakuisisi customer dari channel lain misalnya “berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi customer melalui Facebook?”

Namun kenyataannya justru berlawanan biaya yang dikenakan akan semakin besar ketika Anda mencoba untuk mengakuisisi target audience yang lebih besar. Anda akan menghabiskan $1 untuk mendapatkan 1000 user pertama, $2 untuk 10.000 berikutnya dan $5 – $10 untuk 100.000 user lainnya. Itulah sebabnya Anda tidak mampu untuk mengabaikan metric tentang volume user yang didapatkan dari berbagai channel.

Metric Produk dan Engagement

#9 Active Users

Beberapa perusahaan memiliki definisi yang berbeda tentang apa yang dimaksud “active”. Banyak grafik yang tidak menjelaskan aktifitas apa saja yang terlibat di dalamnya, dan ada juga grafik yang menjelaskan aktivitas yang salah misalnya memiliki proporsi yang tinggi dari first-time user.

Jadi disini Anda harus jelas dalam bagaimana Anda mendefinisikan kalimat “active”.

#10 Month-on-month (MoM) growth

Seringkali hal ini di ukur sebagai rata-rata tingkat pertumbuhan bulanan, namun investor lebih suka menyebutnya sebagai CMGR (Compunded Monthly Growth Rate) karena CMGR mengukur pertumbuhan berkala, terutama untuk bisnis marketplace.

Menggunakan CMGR juga membantu Anda agar mempunyai patokan tingkat pertumbuhan yang dimilikki oleh perusahaan lainnya. Jika tidak hal ini akan cukup sulit untuk dibandingkan karena faktor ketidakpastian dan faktor lainnya.

#11 Churn (Perputaran)

‘Churn Rate’ adalah persentase subscriber dari sebuah service yang tidak melanjutkan berlangganan dengan Anda. Untuk sebuah perusahaan bisa melakukan ekspansi, maka growth rate dari perusahaan (atau jumlah customer baru yang berlangganan) harus melebihi churn ratenya.

Terdapat banyak jenis dari “Churn”, churn of money, churn of customer dan lain lain dan banyak cara bagaimana cara mengukur churn. 

Investor melihat hal tersebut kira-kira seperti ini :

  • Monthly Unit Churn = customer yang hilang / total customer yang hilang periode sebelumnya

Cara Melihat Retention

  • Bulan 1 dijadikan sebagai acuan dengan bobot 100%
  • Maka retention nya dapat dihitung dengan cara melihat jumlah %an dari acuan di atas yang masih melakukan transaksi dengan kita.

Lalu membedakan gross churn dengan net revenue churn juga merupakan hal yang penting.

Gross Churn = MRR lost in a given month/MRR at the beginning of the month. (MRR adalah Montly Recurring Revenue)

Net Churn = (MRR lost – MRR from upsells) in a given month/MRR at the beginning of the month.

Perbedaan dari kedua hal tersebut sangat signifikan dimana gross churn menghitung tentang kerugian bisnis pada saat itu, dan net churn mengurangi kerugian tersebut.

#12 Burn Rate

Burn rate merupakan tingkat dimana kas yang kita miliki berkurang. Terutama dalam perusahaan startup pada tahap awal, sangat penting untuk  mengetahui dan terus memonitor burn rate mereka karena mereka akan gagal apabila kas perusahaan mereka habis dan tidak memilikki waktu mencari pendanaan tahap selanjutnya untuk perusahaan mereka.

Berikut adalah cara untuk menghitung burn rate

Monthly cash burn = Cash balance pada awal tahun – Cash balance pada akhir tahun / 12

Penting juga untuk mengukur net burn vs gross burn

Net Burn –  [Revenue – Gross Burn] adalah cara yang benar untuk menghitung uang kas yang Anda keluarkan setiap bulan.

Gross Burn di lain hal hanya melihat beban (expense) bulanan ditambah dengan pengeluaran kas lainnya.

Investor cenderung fokus kepada net burn untuk mengetahui berapa lama uang yang ada di bank Anda akan habis untuk digunakan dalam kegiatan bisnis perusahaan. Mereka juga akan memperhitungkan tingkat pertumbuhan pendapatan dan pengeluaran Anda karena angka dari uang yang dihabiskan tidak akan konstan.

 

#13 Download

Di metric ini investor ingin melihat engagement user dengan startup Anda- contohnya DAU (Daily Active User), MAU ( Monthly Active User), photo shared, photo view, dan lain lain.

Penyajian Metric Pada Umumnya

#14 Cumulative Charts (vs. Growth Metrics)

Cumulative Chart / grafik kumulatif biasanya selalu memiliki grafik ke atas dan bergerak ke kanan untuk bisnis yang memiliki aktivitas yang cukup baik. Namun hal ini bukan merupakan pengukur yang valid karena grafik tersebut juga dapat mengarah ke atas dan bergerak ke arah kanan untuk sebuah bisnis yang mengalami penurunan sehingga metric ini tidak begitu membantu untuk dijadikan sebagai indikator dari perusahaan yang sehat.

Investor lebih suka melihat GMV bulanan, revenue bulanan, atau user baru perbulan nya untuk menilai pertumbuhan dari sebuah perusahaan terutama dalam tahap awal. Quarterly chart ( periode 3 bulan sekali) dapat digunakan dalam bisnis pada tahap selanjutnya atau bisnis yang memilikki metrics yang selalu berubah-ubah tiap bulannya.

#15 Chart Tricks

Ada beberapa trik dalam hal ini seperti tidak melakukan labeling grafik pada sumbu Y , menyusutkan skala grafik untuk melebih-lebihkan tingkat pertumbuhan, dan menyajikan data berupa presentase tanpa menyebutkan angka pastinya. (Yang terakhir ini cukup menyesetkan kan presentase yang besar dapat terlihat menarik, namun hal tersebut bukan lah indikator yang tepat untuk kedepannya).

cara membuat startup

 

#16 Order of Operations

Tidak masalah untuk menyajikan metric yang kita miliki seperti kita menceritakan sebuah cerita.

Yang penting ketika mengevaluasi sebuah bisnis, investor akan melihat kepada GMV, revenue, dan booking karena 3 hal tersebut menunjukkan seberapa besar bisnis yang kita miliki. Lalu, ketika investor mulai yakin terhadap bisnis tersebut, mereka ingin mengetahui tingkat pertumbuhan untuk melihat seberapa baik perusahaan tersebut dapat bekerja. Apabila metric dasar tersebut sudah cukup baik, maka akan membawa kita lebih lanjut.

Sama seperti partner kami yang baru saja memiliki seorang bayi : kita akan melakukan tes kesehatan kepada bayi kita, mengukur tinggi dan berat dari bayi tersebut dan membandingkan hal tersebut dengan yang sebelumnya untuk melihat apakah bayi tersebut sehat atau tidak sebelum kita bergerak lebih lanjut.

Sumber : http://a16z.com/2015/08/21/16-metrics/

 

Baca juga

Burn Rate, Unit Economics, dan Kapan Waktu yang Tepat Bagi Startup Untuk Membakar Uang Besar Per Bulan

Tentukan Fokus Target Customer Anda dengan Memperhitungkan Customer Acquisition Cost dan Customer Lifetime Value

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.