@AndiSBoediman : Trends in Advertising, Social Media, Content, Ecommerce (2010)

Posted by & filed under Featured, Interview, Running a Business.

Editor’s Note : Berikut ini obrolan saya dengan Andi S Boediman di sekitar akhir tahun 2010, ya, 2010 ! Saya tidak punya tujuan yang jelas ngapain saya menulis ini, just for fun or artikel yang direject oleh media tempat saya bekerja atau gimana sudah lupa. Obrolan ini sebenarnya sudah saya tulis sejak lama dan mangkrak selama nyaris 2 tahun sampai saya tiba-tiba ingat bahwa saya sudah punya tempat yang layak untuk membaginya lewat Startupbisnis.com. Btw, Andi Boediman adalah Ex CIO Plasa.com, dan founder IDS (International Design School), sejak 2011 menjalankan Venture Capital Ideosource. Beliau juga pernah menantang saya apabila saya berhasil membangun bisnis dengan nilai 5 miliar, beliau akan mengundang kung fu master ke hadapan saya, tetapi sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa harus “kung fu master” ? kenapa tidak Megan Fox atau Kate Hudson saja ?

 

Ngomong sih gampang, ngerjainnya ? Mau mati.

Talk is cheap.

Saya tahu ini tapi melakukannya is completely two different things.

 

Design & Fashion Trends

Tantangan dari industry desain saat ini adalah sustainability, proliferasi munculnya generasi muda yang memberikan harga murah, berkompetisi dengan generasi senior yang bermain di harga tinggi, mengakibatkan kompetisi dari industry desain akan challenging. Dari segi price, kalau desainer tidak memberikan value added akibatnya harganya akan menjadi murah, perusahaan senior yang besar akan kalah dengan perusahaan kecil yang memberikan harga murah, perusahaan besar yang bisa bertahan adalah perusahaan yang bisa memberikan value-added dan meng-convert dirinya bukan hanya “tukang desain” tapi in the end mereka akan bertransformasi menjadi services, mereka akan mengatakan “aku akan menjadi temennya kamu, partner, dan semakin mirip menjadi marketing consultant”, designer tidak lagi mengoutput flyer atau brosur, tetapi yang survive adalah yang memiliki design thinking.

Misalnya untuk membuat sebuah mal, saya perlu konsultan yang memiliki latar belakang desain, orang ini mempunyai kreatifitas, kemampuan untuk melihat bagaimana membuat mal ini memiliki sense of places yang menarik, orang tertarik untuk datang, saat ini semua desainer yang senior, pindah ke area ini semua dengan posisi sebagai retainer,  dengan fee per bulan misalnya, 10,20 atau 30 juta dengan tugas memaintain brand, look and feel, desain, yang senior ini akan duduk sebagai temannya klien dan mensupervise yang muda-muda sebagai eksekutor.

Mulai muncul lagi trend dimana desain menjadi product based, contoh yang paling noticeable dan yang paling ekstrim adalah radio Magno dari Temanggung, yang membuat anak ITB, dia pergi ke Temanggung membuat radio dari kayu, dia menghitung jumlah tumbuhnya pohon harus sesuai dengan banyaknya produksi yang dia buat, dia membuat desain yang sustainable, produksi tidak boleh melebihi output dari kemampuan tumbuhannya bertumbuh, dia ngajarin skillset kepada orang-orang daerah bagaimana mengolah bahan dari sisi produksinya. Hal semacam ini eksekusinya very tough, tapi menurut saya direction dari industry akan seperti ini.

Sedangkan contoh yang lebih sederhana, lulusan graphic design saat ini terlalu banyak, mereka tidak akan survive kalau semua berusaha melayani klien membuat logo atau brosur, designer yang kreatif akan berpikir untuk survive mereka harus membuat produk, produk yang sederhana adalah t-shirt, kaos, agenda, album foto.

Tetapi ada juga desainer yang tidak kreatif,  “desain” dan “kreatifitas” itu beda, desain itu craft, tetapi creativity bukan craft , orang desain itu punya taste – bisa bedakan desain yang bagus dan tidak – tetapi belum tentu punya creative thinking behind it, yaitu pemikiran sustainability business, bagaimana menjualnya dengan biaya promosi semurah-murahnya.

Nah, designer yang tidak kreatif seperti ini akan terus mengerjakan project untuk klien, mereka akan survive kalau mereka menjadi yang the best secara ekstrim, top of the line.

Design akan masuk ke berbagai bidang, desain event, kursi, lampu, tempat, baju, semua butuh desain, makanya menurut saya yang akan grow luar biasa keywordnya adalah : design thinking dan designing a product . Productnya tidak harus menciptakan product design, tapi bisa juga design bagian productnya, misal motifnya, kancingnya, perhiasannya, everything design.

Tetapi  graphic design seperti yang kita lihat hari ini akan ketinggalan kalau designer hanya duduk di sini.

Fashion ?

Saya sangat impress dengan Pacific Place, tempat ini punya sumbangan besar ada dunia event, ada 2 event yang sangat saya sukai, bazaar art dan Jakarta Fashion Week.

Bazaar art itu membuat sesuatu yang high end menjadi mass, lukisan dari galeri-galeri top dikumpulkan di sini, lalu dibuat menjadi rancangan event, artinya orang datang kesitu melihat lifestyle, mereka tidak memahami lukisannya, tetapi merasakan lifestyle orang kaya.

Jakarta Fashion week, tadinya adanya high art, tetapi dengan diletakkan di Pacific Place, orang yang tidak paham high art juga bisa merasakannya, high art menjadi mass consumption, leapnya dibantu oleh Pacific Place.

Contoh klasiknya adalah Java Jazz, dulunya high art, dari orang yang mendengarkan jazz karena mereka punya taste jazz, pindah ke mass jadi eksekutif muda yang mendengarkan karena punya taste keren.  Sehingga yang diperdengarkan di Java Jazz, bukan Jazz yang hardcore, tetapi jazz yang sudah jadi pop culture. Selera orang kaya menjadi selera yuppies.

Trend desain mengarah ke sana juga, dari high art pindah ke mass.

Dulu di saat saya muda, mencintai negara itu dianggap tidak keren, kita play jokes saat upacara, karena represents mocking up to the government, tetapi begitu ada kerusuhan, Malaysia mau mengambil budaya kita, tiba-tiba mencintai Indonesia itu menjadi cool, hal ini unik, karena ada perubahan jaman di situ, ada transisi dari yang tahun 60an dipandang obsolete, kembali menjadi cool .. because of this.

Jika hal ini dipandang dari sisi konsep kreatif, apa yang di masa lalu jika akan diangkat kembali di hari ini, supaya bisa diterima taste dari anak muda sekarang, harus mengalami perubahan.

Misalnya, elemen desain yang umum adalah pola, bahan, bentuk, warna.

Sebuah “baju batik” dikatakan batik karena exactly elemen desainnya mengacu ke sebuah batik.

Batik misalnya, akan menjadi cool lagi setelah pola batiknya dipertahankan, tetapi bahannya bukan di kain, tetapi di furniture, baja diukir dengan pola batik. Makanya furniture batik menjadi keren, polanya (batik) lama, tetapi bahannya baru. Kombinasi-kombinasi baru dari elem desain ini akan muncul dan menjadi the next trend.

SociaBuzz

Tags: