Apa Yang Dipelajari Nanda Ivens ( @Nanda_I ) COO @XMGravity Dalam 17 Tahun Perjalanan Karirnya | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Apa Yang Dipelajari Nanda Ivens ( @Nanda_I ) COO @XMGravity Dalam 17 Tahun Perjalanan Karirnya Di Dunia Digital

Posted by & filed under Featured, How do I Start, Interview, Running a Business.

Nanda Ivens

 

Editor’s note : Nanda Ivens adalah COO XM Gravity dan salah satu mentor di Project Eden. Perjalanan karirnya di dunia digital sangat panjang, 17 tahun. Di artikel ini Nanda membagikan cerita seperti apa perjalanannya dan apa saja yang ia pelajari. Sumber foto : XM Gravity dan Facebook Nanda Ivens.

 

 

Saya berkecimpung di dunia online advertising dan komunikasi setelah selesai kuliah pada tahun 1997, di Boston University, Saya mengambil bidang sejarah politik, dan tidak ada hubungannya dengan marketing.

Pertama kali Yahoo muncul, Hotmail muncul, saya coba membeli bunga online untuk pacar di Jakarta lewat Interflora.com, mulai muncul passion di hati saya untuk mengetahui dunia internet, tapi jaman itu internet masih lambat dan banyak keterbatasan.

Lalu saya kembali ke Jakarta, tanpa rencana, kemudian bekerja intern di sebuah perusahaan advertising Agency, namanya Perwanal, sekitar tahun 1997. Perwanal ini sekarang jadi Saatchi & Saatchi.

Saat itu mentor saya adalah Yusca Ismail (founder Perwanal). Saya sampaikan ke mentor-mentor saya, bahwa digital akan menjadi sesuatu yang besar, sejak tahun 1997 juga saya sudah bilang tentang possibility bahwa digital akan besar di Indonesia, namun kendala yang selalu jadi alasan adalah connectivity.

Tahun 1998, usia saya 24, saya menikah dan saya kembali ke London, homebase saya, saat itu saya sulit sekali mencari kerja karena global economic crisis, saya ambil kerjaan apapun yang bisa saya dapat, tukang pompa bensin, kuli di warehouse. Di saat bersamaan saya belajar bagaimana caranya membuat startup, apa itu online advertising, cara membuat banner, sampai membuat website, saya belajar otodidak sendiri tanpa mentor.

Tahun 1999, saya sudah punya anak 1, saya bekerja di toko handphone di London, kerjaan saya merakit handphone, tetapi pada saat yang sama saya juga sering dapat kerjaan dari teman-teman di dunia advertising untuk consulting dan membantu mereka mengerjakan project-project, saya bisa dapat side project karena punya networking baik di dunia advertising, berteman dengan banyak orang, ngobrol ke-sana ke mari.

Awal-awalnya memang saya jadi researcher, selain saya meriset untuk klien atau sebuah product, saya juga melakukan riset untuk diri saya sendiri, selama melakukan riset saya bisa mengindentifikasi trend-trend yang ada di dunia bisnis.

Waktu saya kembali ke Jakarta, tahun 2000, saya membantu men-setup Koran Merdeka yang didirikan pak B.M Diah (salah satu pahlawan kemerdekaan) juga membangun Merdeka.com. Saat itu juga saya membantu Kopitime.com milik Nirwan Bakrie, juga memberikan consulting ke beberapa dot com lainnya, salah satunya Web88, saya juga punya company kecil yang membuat website. saya melakukan ini semua sambil belajar.

Tahun tersebut adalah awal mula dot com burst. Koran Merdeka akhirnya tutup, Kopitime tutup, web88 tutup, termasuk Astaga.com juga terguncang.

Tahun 2001,  waktu itu saya merasa butuh karir, saya ditarik oleh Fortune Advertising jadi PR Executive menangani klien Campina dan Djarum, saya perform baik saat itu karena saya suka nulis dan suka riset.

Lalu saya dengar Fortune akan melakukan IPO, saya diminta pak Indra, owner Fortune untuk membantu di Public Relationnya, ini hal yang belum pernah saya lakukan, lalu saya sampaikan ke board “daripada saya bantu kegiatan PRnya IPO, lebih baik saya usulkan Fortune e-services untuk add value pada perusahaan” Saat itu saya hanya anak kecil usia 25 bermodal nyali yang menjelaskan tentang digital pada board of director bahwa karena digital marketing, dunia akan berubah, jika kita tidak siap dari sekarang, kita akan ketinggalan.

Kemudian saya dipercaya oleh board untuk membangun Fortune e-services, ini pertama kali saya tercatat sebagai leader dari sebuah startup yang di-recognize.

Di Fortune e-services kami punya banyak klien, salah satu kliennya adalah Global Sources, perusahaan B2B marketplace yang pada saat itu hanya bisa dikalahkan oleh Alibaba. Saya ditarik oleh Global Sources menjadi communication consultant dan dotcom sales consultant.

Kemudian, pada saat masa kontrak saya sudah hampir selesai di Global Sources, saya melihat ada peluang di mobile marketing Indonesia saya bentuk perusahaan di industri mobile programming. Kalau dipikir-pikir sekarang, terlalu cepat dari masanya, way ahead of its time, saat itu tahun 2002 hanya ada 1 lagi perusahaan yang masuk di mobile programming. Perusahaan lainnya mengerjakan back end system untuk perusahaan besar (B2B) seperti Erikson, Nokia, sedangkan perusahaan saya masuk ke consumer seperti membuat game mobile. Jaman dulu orang belum kepikiran ke sana, sedangkan saya sudah, bisa dibilang saya terlalu cepat.

Selain saya belajar bahwa saya terlalu cepat masuk ke suatu market yang baru, saya belajar bahwa “you can’t trust anyone”, apalagi dalam bisnis, saya merasa “ketipu” oleh seseorang di bisnis ini.

Saya sempat “lost in the darkness”, saya buat PR agency sendiri, men-set up political consulting didanai oleh salah satu saudara, bisa dibilang saya punya spesialisasi  men set-up perusahaan sampai bisa jalan, seperti Merdeka.com dan Fortune e-services.

Tahun 2003 saya balik ke Inggris, karena memang based gua dari sana, saya bawa 2 anak saya, usia saya 29 tahun, tidak ada pekerjaan sama sekali, sampai saya ditelpon oleh Mindshare “We only have 1 position, it’s an unpaid intern” lalu saya jawab “when do I start ?” dijawab lagi “No, no, you don’t get it, it’s an unpaid intern” saya jawab lagi “It’s ok, when do I start?”.

Karena saya tahu Midshare adalah leading media agency dengan brand MOne, Gabungan antara Mindshare dan Ogilvyone, saya tahu bahwa ini the hottest agency di digital yang akan tumbuh pesat dan area digital akan menjadi amazing dalam waktu singkat.

Masuklah saya di situ, sebulan jadi unpaid intern, bulan ke-2 saya jadi permanent staff sebagai Account Executive, bulan ke-6 saya naik jadi Account Managet, bulan ke-8 jadi Account Director.

Di sana saya belajar banyak sekali dan memang banyak awards di Inggris, untuk klien-klien seperti Cisco, HSBC, dan sempat menjadi bagian dari tim yang menang Cannes juga.

Saya menang banyak award, tetapi saya merasa punya passion di publishing, kebetulan saya ditawari oleh majalah The Economist yang dotcomnya baru mulai dan revenuenya masih kecil, saya datang ke situ untuk “mengobrak abrik” dan melihat “how can we increase the revenue?” untuk The Economist.com ini.

Tahun 2006 saya masuk dan kami berhasil meningkatkan revenue, awalnya The Economist menjual banner website, setelah saya masuk The Economist juga menjual ideas, pendekatan yang lebih integrated dalam digital advertising, bukan hanya sekedar jualan banner di atas, tetapi juga paket sponsorship, ada researchnya, ada micrositenya, ada offlinenya.

The Economist adalah dotcom publishing pertama yang melakukan approach monetizing digital seperti itu, seperti sebuah agency. Pemain digital seperti Yahoo dan MSN memang banyak menjual paket seperti itu, tetapi untuk pemain Old School publication seperti Economist adalah yang pertama.

Resultnya lumayan bagus, revenue naik 200% month-to-month basis.

Saya merasa tugas saya selesai, lalu pindah kerja.

Saya dulu memang gampang bosan, masih muda, ingin prove myself all the times.

Kemudian saya menerima pekerjaan di AXA Insurance saya bangun AxaBusiness.co.uk untuk menjual small business insurance. Ini pertama kali asuransi dijual secara online di UK. Bersama tim saya membuat websitenya, trainingnya, sosialisasi, sampai customer servicenya saya yang mengurusnya. Ini pertama kali saya mencoba masuk ke area online customer service.

Lalu saya pindah ke Neo[email protected] (2007-2008), di sini saya belajar pentingnya search marketing untuk small business, saya juga melakukan campaign social media pertama yang ada di Ogilvy London dan ternyata terlihat di mata orang, pada saat itu British Airways ingin melakukan pendekatan kepada orang di seluruh dunia dan ingin mensosialisasikan terminal 5 Heathrow Airport di London.

Saat itu Heatrow adalah airport paling canggih di dunia, kami membuat fan pages di Facebook, ini adalah masa awal dari munculnya Fan Pages di Facebook. Konten yang kami berikan adalah tentang keindahan art installation dan arsitektur dari terminal 5. Campaign kami buat bukan hanya di Inggris tetapi juga di Asia Pasifik : India, Singapore, Middle East, Hongkong dan tractionnya ternyata bagus, bisa dibilang ini pertama kali banyak orang tahu ternyata ada Fan Pages, kemudian kami membuat activity di setiap negara masing-masing, di Middle East dibuat sendiri, India dibuat sendiri, Asia Pasifik dibuat sendiri dan saya yang meng-koordinasikan.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Ogilvy London, social media campaign dilakukan, dulu namanya DI alias “Digital Influence” bukan digital/social media marketing. DI adalah teori dari John Bell.

 

 

Baca Juga :

Apa Yang Dipelajari Nanda Ivens Dalam 17 Tahun Perjalanan Karirnya (Page 2)

Bagaimana Saya Memulai Magnivate Sebelum Diakuisisi Advertising Group Terbesar Dunia

Kisah Inspiratif Ben Soebiakto : Kegilaan Menggambar, Tidak Naik Kelas – The Dots Will Connect

 

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.