Bagaimana Anak Muda Ini Belajar Gagal di Usia Sangat Muda

Posted by & filed under Blog.

 

Minggu lalu, Nafi Putrawan memposting tulisan di Facebooknya, dengan judul Kolaps (Gagalnya Proyek Faper Magazine) yang menceritakan pengalamannya bersama teman-teman SMA dalam menjalankan project online magazine yang kemudian ditutup. Nafi adalah student SMA yang pada 2011 saya moderatori di acara Compfest “Bangun perusahaan digital sejak muda.”

Reaksi saya setelah membaca tulisannya adalah

 I wish I tried something at very young age like you guys…

Saya sendiri sama sekali tidak melihat tulisan ini sebagai kegagalan … karena di sisi lain banyak anak-anak kuliah semester akhir yang tidak punya pengalaman riil membuat sesuatu, tidak punya pengalaman gagal. You build experience from your failure. Seperti kata Steve Blank ““Di Silicon Valley, entrepreneur yang pernah gagal disebut ‘Experienced Entrepreneur’”

 

 

Mungkin artikel ini “sedikit-agak” menggelikan. Betapa tidak, dari judulnya saja sudah kolaps yang berarti runtuh. Tapi bukan, bukan runtuh itu sendiri yang akan ku jadikan benang merah dalam artikel ini. Namun lebih kepada ke arah pembelajaran dan peringatan kepada kita semua mengenai betapa pentingnya perencanaan managerial rencana dalam bisnis, organisasi, dan apapun sebelum semuanya terealisasi. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari artikel ini.

Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada teman-teman saya yang telah menganggap saya sudah berada di puncak kesuksesan di usia muda melalui mungkin opini-opini saya di media sosial, foto bersama tokoh, mengikuti berbagai event teknologi, membangun bisnis, dan sebagainya. Sesungguhnya saya belumlah mencapai apa yang kalian kira.

Seseorang dengan mimpi-mimpi yang banyak hanya menjadi mimpi jika tidak bertindak tepat.”

Kutipan di atas sedang terjadi pada diri saya saat ini (setidaknya saat tulisan ini dibuat, tidak ingin selamanya). Saat mimpi-mimpi yang tinggi terbanting oleh realita yang ada. Oke, kalimat sebelum ini sangat ironi.

Banyak hal dalam kepala saya, mulai dari topik sosial-realita hingga teknologi energi terbarukan yang menurut saya sangat menarik untuk dipelajari dan dipahami. Namanya juga masih mengarungi lautan tujuan kehidupan, apasih yang tidak menarik untuk diikuti kan?

Singkat cerita, tujuan ku hanya satu (mungkin ini terdengar klise untuk sebagian orang), yaitu bermanfaat untuk sesama umat manusia. Dari cita-cita itulah aku mulai mencari-cari hal yang tepat dan terbaik bagi masa depanku dan orang-orang di sekitarku. Ku pilih teknologi internet.

Membangun startup

Dunia teknologi internet menjadi yang aku fokuskan mulai dari kelas delapan SMP. Karena alasan yang simpel, di rumah terpasang akses internet maka dari itu ku coba menggunakannya dengan sebaik mungkin. Memanfaatkan potensi yang ada. Alhasil internet menjadi konsumsiku sehari-hari. Bereksplorasi mengenai pengetahuan umum, berdiskusi dakam forum keamanan sistem, hingga bereksperimen pemrograman dalam teknologi dunia maya ini. Termasuk bertemu dan bergabung dengan forum yang didalamnya saya dapat bertemu orang-orang inspirarif dari berbagai latar belakang pendidikan, perusahaan, ataupun wawasan mengenai IT preneurial, tepatnya komunitas startuplokal. Asyik.

Startup. Sebuah kata yang begitu populer dalam beberapa tahun belakangan ini oleh para penggiat teknologi komunikasi dan informasi. Startup semakin berkembang dalam meramaikan inovasi anak bangsa dalam sektor IT. Ringkasnya, startup merupakan perusahaan ataupun produk dalam sektor IT yang masih dalam tahap awal perkembangan dari segi pendanaan maupun ekspansinya, namun mempunyai visi dan misi untuk menuntaskan berbagai masalah ataupun gap dalam dunia nyata/produktivitas (umum). Besarnya pun berbeda-beda dari setiap startup yang dibuat – semua tergantung kreatifitasnya masing-masing bagaimana startup menyikapi tubuhnya yang baru lahir itu. Jika belum tahu contoh dari startup, mari kita bicara tentang awal perkembangan Facebook tahun 2004 atau Kaskus dan Koprol mengenai awal sejarahnya. Itulah startup. Oke, ini sebuah potensi yang besar menurutku untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu. Saya ambil satu target pasar untuk salah satu proyek startup ini. Menyediakan konten inspiratif untuk remaja.

Saat saya mencoba membangun salah satu startup saya yang bernama Faper, tentunya bersama teman-teman saya, ternyata membangun startup tidak semudah yang dibayangkan yah? Bayangan membuat startup nan kemudian menciptakan produk yang hebat bersama tim yang solid, dan beberapa hari kemudian mendapat pendanaan dari venture capital sehingga membuat kantor sebesar Googleplex dan mengeluarkan IPO? Jika semudah itu membuat startup, maka penghasilan per kapita Indonesia mungkin sudah melebihi Singapore dalam satu tahun kurang. Dan mungkin bisa menjadi negara adidaya pesaing Amerika Serikat dalam lima tahun, haha.

Tidak banyak yang tahu tentang ini. Rapat terakhir Faper bertemakan penonaktifan perusahaan dilakukan pada bulan April 2012. Dalam proses pembuatan Faper dari awal hingga matinya saat ini (entah sedang mati suri atau mati yang sebenarnya), belumlah tercapai main produk. Pada visi misi yang tertulis, Faper diciptakan untuk membuat sebuah majalah digital yang bermuatan konten inspiratif untuk remaja, menginginkan remaja Indonesia untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan mensolve problem sosial di sekitarnya, serta menyajikan trend saat ini yang diharapkan menambah wawasan dan kreatifitas remaja untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Keren kan? Ckck.

Terlintas visi misi ini seperti IFL dan IYC. Jika mereka adalah organisasi kepemudaan, maka Faper yang menyajikan konten-konten inspiratif dari organisasi semacam itu. Ya semacam content provider news app Flipboard, Scoop, ataupun Google Currents.

SociaBuzz