Bagaimana Bukalapak.com Didirikan Sampai Sekarang Memiliki 25,000 Seller

Posted by & filed under Interview.

Fundraising

Fundraising itu sebenarnya alat untuk tumbuh mencapai visi kita. Tetapi saya melihat banyak startup yang menjadikannya tujuan.

Kalau kita tidak butuh alat, dan sudah punya alat lainnya ya kita tidak tidak perlu pakai.

Di Hijup, kami bisa profitable since first month, tidak butuh fundraising, kalau dikasih duit malah bingung buat apa?

Kalau Bukalapak, memang berbeda, sangat challenging, visinya menyediakan service bagi penjual dan pembeli supaya saling percaya via online, business modelnya unik, sekarang belum ada business model marketplace yang untung, kebanyakan tidak mengenakan charge ke user. Kompetisinya sendiri juga ketat, sehingga kami butuh “bensin” dalam bentuk fundraising supaya bisa bernafas lebih lama.

Bagaimana cara dapat fundraising? Kerja. It’s all about execution & performance, dana yang didapat itu digunakan untuk bekerja, yang menentukan nilai perusahaan kita itu ya hasil kerja kita. Kalau kerjaan kita bagus, investor akan respek dengan kita.

Kadang ada juga investor series A 10 miliar, saya bahkan harus menahan-nahan tawaran ini, karena tidak masuk akal, kami saja merasa belum show dan harus menyiapkan dapurnya.

Di Bukalapak kami cenderung ngirit dan hati-hati, tidak sembarang eksekusi strategi, hiring karyawan banyak-banyak dengan dana dari investor, saya ngetes dulu, misal kalau mau kampanye sosial media dengan target 100 ribu follower, jangan langsung bayar kanan kiri untuk tweet berbayar. Karena bisnis itu perjalanan long term, marathon, bukan sprint. Simpan dana sedikit-sedikit, yang tadinya habis 1 tahun, kalau hemat bisa tahan sampai 3 tahun. Sampai pada titik tertentu kalau kita lihat dapat tractionnya, lalu berpikir untuk expand, baru kita perlu fundraising. Misal ide kita bekerja di Jakarta, kita tes lagi di Bandung, bisa jalan, berarti make sense dong kalau kita spend budget untuk expand ke Surabaya, Semarang dan kota lainnya karena sudah ada role modelnya di Jakarta dan Bandung.

Kalau sekarang, sepeda sebagai role model tidak mudah diduplikasi ke lainnya karena momentum niche sepeda yang unik, business model kami juga belum siap untuk diduplikasi, kalau dipaksakan, kami kuatir business modelnya kurang kuat.

Saya melihat banyak startup yang besar sudah menemukan business model yang pas dan menghasilkan uang, Amazon dari awal sudah generate money, Ebay di hari pertama launching sudah generate money, untuk upload buyer harus bayar, Rakuten juga ada fixed monthly fee dan fee transaction.

Jadi kalau pendapat saya, business modelnya harus benar-benar bekerja dulu baru lakukan fundraising.

Bootstrapping

Saat Bukalapak baru ada 3 orang (hanya 2 staf dan saya sendiri, 2 orang ini pun sambil mengerjakan project di Suitmedia), kami disubsidi oleh Suitmedia, resource kami sangat terbatas, it’s all about priority, kami harus fokus pada apa yang really matter.

Satu orang ngurus teknologinya, satunya ngajakin orang. Sudah, tidak usah hiring-hiring lagi sampai itu jalan.

Prinsip ini kami pegang sampai sekarang. Apa yang paling penting itu kami kerjakan satu hal itu dengan sangat fokus. Kalau sambil mikirin yang lain, bisa tidak fokus, tidak bisa detail dan bisa-bisa tidak ada hasilnya.

Kalau investor datang, saya cenderung tidak minta-minta, saya percaya kami punya power untuk menghasilkan performance bagus, tidak di funding pun kami juga bisa jalan walaupun agak pelan.

Founder Bukalapak

Founder Suitmedia/Bukalapak awalnya saya, Achmad Zaky dan Nugroho, kami berdua dari Teknik Informatika ITB.

Fajrin teman dekat saya, masuk belakangan ke Bukalapak, resign dari BCG (Boston Consulting Group), cerita tentang Fajrin ini juga menarik.

Saya sendiri jujur sebelum memulai memulai ini semua, lulus kuliah saya apply ke BCG dan Mckinsey. Goal saya waktu itu Cuma 2 : Kerja di tempat yang paling bagus, which is BCG dan Mckinsey waktu itu. Tetapi saya gagal dapat pekerjaan di dua tempat ini, di dua tempat ini rata-rata mereka hanya hiring 1 orang, sangat challenging. Lalu saya rekomendasikan Fajrin, saat itu dia belum business minded, sangat scientist minded karena hobinya matematika. Fajrin ikut test, terus lolos.

Berjalan setahun, kami berdua sering saling kontak, suatu saat Fajrin bilang ke saya kalau dia bosan, kurang challenging Di BCG dia advice strategi kepada konglomerat, bagi dia “that’s it” selamanya dia jadi advisor aja, dia ingin bangun sesuatu dari nol, lalu suatu saat, saya bilang ke dia, “Suitmedia jalan nih!” Kami punya client base yang bagus, kami ada kas cukup lumayan, ada Bukalapak, saya juga cerita kalau saya lagi ngobrol dengan Takeshi Ebihara dari Batavia Incubator, lalu dia tanya “wah? Beneran nih?” lalu Fajrin ikut gabung dan ikut deal dengan investor. Saat itu saya keder juga karena saya tidak sanggup menggaji dia begitu tinggi, akhirnya saya kasih share.

Saya sendiri backgroundnya technical, waktu kuliah tingkat tiga sempat buat startup Deft Technology namanya, coding sendiri, sempat punya warung! Benar-benar offline store, jadi saya ada background bisnis dan juga teknikal. Sejak SMA saya juga sering jualan kecil-kecilan. Tapi sebenarnya waktu baru mau masuk ITB tujuan saya cari kerja bagus dengan gaji besar, tapi sambil berjalannya waktu di ITB, saya merasakan perubahan, kata orang-orang di ITB sangat entreprenerial, karena lulusannya bisa jadi role model, ada Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, di sana imagenya entrepreneur itu keren. Makanya pilihan saya Cuma 2 : Kerja di perusahaan seperti Mckinsey, BCG atau buat perusahaan sendiri dan perusahaannya harus jadi besar.

Kami sering membicarakan valuasi saham kami dengan detail, valuasi saham dibangun dari kerja, setiap pekerjaan yang kita buat membuat nilai pekerjaan meningkat, semakin efektif dan semakin cepat kita kerja, membuat value perusahaan cepat naik. Senantiasa kami mencari cara bagaimana kita kerja yang menghasilkan value.

Kalau saya menilai perusahaan dari kas dan people, bila orang berani bayar untuk service kami, kas akan datang, makanya bagi kami, ngirit itu penting banget, harus yakin apa yang kita spend itu building value perusahaan.

 

SociaBuzz