Bagaimana @lucywiryono Membangun @Steakholycow Sampai Menjadi Warung Steak Paling HIT di Indonesia | Startupbisnis.com - Part 3

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Bagaimana @lucywiryono Membangun @Steakholycow Sampai Menjadi Warung Steak Paling HIT di Indonesia

Posted by & filed under Interview, Running a Business.

Sebelumnya pernah mengalami kegagalan? Sebabnya apa dan bagaimana Mbak Lucy melihat sebuah kegagalan?

Sebenernya kita ini baru melakukan restrukturisasi bisnis. Jadi memang baru saja ada pemisahan usaha. Sekarang benar-benar hanya berdua saja dengan Mas Afit untuk mengelola usaha ini. Tadinya ada partner, tapi sekarang sudah tidak berhubungan lagi. Sekarang murni hanya saya dan Mas Afit saja berdua. Memang berat sih awalnya, perubahan itu kan memang selalu berat di awal. Karena sekarang semuanya harus serba dipikirkan sendiri. Tapi buat saya justru ini tantangannya. Kita bisa bounce back atau tidak, apa yang akan terjadi, kita harus ngapain. Dan yang paling penting, kita harus punya visi ke depan.

Makanya ada yang pernah bilang, kalau kita mau buka usaha itu kita harus tahu visi kita apa, kita mau ngapain sebenernya. Bukan hanya sekedar “gue jualan, gue dapet profit, selesai urusannya”, bukan seperti itu. Tapi visi itu emang penting. Bisnis itu kan tidak se”manis” yang kita baca di buku-buku kesuksesan, ternyata berat kok. Bisnis tidak pernah semulus itu, selalu saja ada tantangannya. Jadi kalau kita tidak punya visi, kita akan nyasar. Ketika kita lagi mentok, atau sedang ada masalah di bisnis kita, kita tidak akan tahu ingin kemana. Jadi visi perusahaan itu emang kayak kompas yang menentukan arah, “oh oke, ini gue tau gue agak nyasar, tapi gue tau ini arahnya mau kemana, jadi gue balikin lagi kesitu”.

Alhamdulillah untuk Holycow sendiri, kita tidak pernah mengalami kegagalan yang berarti, dan jangan sampai terjadi. Selama ini justru kita mengalami peningkatan yang sangat baik. Karena saya percaya, sesuatu yang memang dilandasi dengan niat yang baik, asal kita jujur pasti ada jalannya kok.

 

Makanya kenapa kita sampai menyediakan menu yang 400 gram, itu sebenarnya karena konsumennya bisa ngomong langsung ke Afit

 

Menu andalan dan yang paling mahal di sini apa?

Di Holycow ini yang paling mahal ada Wagyu Tenderloin, itu harganya cuma Rp 150.000. Sementara waktu itu Mas Afit pernah makan Wagyu di sebuah Restoran, itu harganya sampai Rp 600.000. Pertama kali kita nemu daging Wagyu, kami bingung “kok harganya segini ya? Berarti harganya bisa murah dong ya kalo bikin sendiri?”. Akhirnya kita coba masak sendiri di rumah, ternyata enak. Kita pikir, “harusnya bisa nih kalo dijual murah”. Karena memang kalau di Restoran itu ada AC-nya, sewa tempatnya di Mall juga mahal.

Andalannya disini adalah Wagyu Sirloin. Ada juga “Big Bites” yang beratnya 400 gram. Itu emang gede banget, dan yang banyak mesen justru perempuan. Biasanya kalau ada Mas Afit, dia akan keliling ke setiap meja pengunjung untuk mendapatkan feed back. Karena banyak juga yang tidak tahu kalau ternyata medium well itu tengahnya masih ada sedikit merah, nanti Afit akan memberi tahu mereka kalau medium itu tingkat kematangannya seperti apa, dan Sirloin itu seperti apa. Lalu yang lemaknya paling sedikit itu Tenderloin, kalau yang middle itu Rib Eye. Makanya kenapa kita sampai menyediakan menu yang 400 gram, itu sebenarnya karena konsumennya bisa ngomong langsung ke Afit. “Mas Afit, saya mau dong pesen yang 400 gram diadain”, itu kebanyakan perempuan yang minta. Karena mereka bilang, “soalnya kalo lagi laper banget tapi cuma pesen yang 200 gram, kayaknya aku bisa nambah tuh. Tapi kalo nambah rasanya malu, jadi bikin dong yang 400, kalo yang 300 gram kayaknya juga nanggung”. Karena Afit sering berinteraksi langsung dengan customer seperti itu, akhirnya dibuatlah yang 400 gram itu berdasarkan permintaan konsumen. Bukan kita yang sengaja menyediakan.

Ada hal unik yang terjadi di Holycow?

Uniknya kalau di Holycow ini, orang-orang tidak bisa reservasi, dan mereka harus rela sharing table. Apalagi kalau datangnya hanya berdua. Dan saya pun merasakan hal itu, kalau misalnya datang kesini tapi tidak janjian atau tidak bilang ke karyawan bahwa saya mau datang. Pernah waktu itu setelah dari acara seminar, saya datang berdua dengan teman saya, karyawan pada bingung “yaah Ibu kok gak bilang mau dateng?”. Ya saya memang tidak berencana mau datang waktu itu. Akhirnya saya juga harus nunggu giliran, masuk daftar waiting list. Sama aja kayak pengunjung lainnya, bukan karena saya pemiliknya lalu pengunjung yang lain disingkirkan, tidak seperti itu. Kita nunggu juga dan sharing table dengan yang lain.

Ada lagi kisah yang lucu waktu itu, pas hari minggu, ada yang ngetweet dan mention ke twitternya Holycow :

“Gila, baru juga pergi pertama kali sama gebetan gue, tapi harus sharing table sama Andi Malarangeng dan istrinya”

Jadi kebayang kan baru juga mau PDKT, ini harus berhadapan dengan Pak Andi Malarangeng. Mau makan juga susah rasanya. Pak Marty Natalegawa sering juga makan disini, dan dia juga ikut ngantri. Biasa aja tuh, karena dia tahu konsep warungnya emang seperti ini modelnya. Dia sering datang kesini dengan anak dan istrinya, dia juga sharing table dengan yang lainnya. Akhirnya jadi pengalaman tersendiri juga bagi orang yang satu meja dengan dia. Tapi itu serunya, jadi making friends. Karena ada cerita-cerita yang seru. Misalnya kita saling tidak kenal tapi harus sharing table. Lalu ada juga yang satu meja dengan sepasang suami-istri yang sudah sepuh, pas mau bayar ternyata udah dibayarin sama mereka. Saking enak ngobrol, terus akhirnya temenan.

Sebenernya untuk bersenang-senang itu tidak dibuat terlalu gimana-gimana. Tidak harus dikonsep yang advance marketing atau harus mengadakan riset segala. Dan background saya juga bukan orang iklan, bukan orang agency. Pada dasarnya, point of view nya dari point of view konsumen aja.

“Kalau saya diperlakukan seperti ini di tempat makan, saya seneng gak?”

Sesederhana itu kok. Kadang-kadang kan pola pikir kita kalau sudah buka usaha itu belum-belum sudah “pengusaha banget”. Mikirnya cuma profit, profit, dan profit. Kompromi ini-itu, pokoknya marginnya harus besar. Tidak seperti itu. Sebenernya konsepnya sederhana aja kok. Beda sudut pandang aja.

Promo seperti apa yang sering diadakan oleh Holycow?

Sekarang Holycow sedang bagi-bagi Galaxy Notes. Caranya cukup dengan mengumpulkan bendera sebanyak-banyaknya, yang paling banyak bisa langsung dapet Galaxy Notes tanpa diundi. Tahun lalu kita juga bagi-bagi iPad. Bendera itu ada di atas steak yang kita pesen, tapi tidak harus satu nama. Yang tahun lalu menang, itu dia mengumpulkan 625 bendera, padahal dalam 1 tahun kan ada 365 hari! Dia tidak tiap hari datang, tapi mengumpulkan juga dari saudara atau keluarganya. Jadi misalnya ada keluarganya yang makan di Holycow, dia nitip benderanya untuk dibawakan. Bahkan dia juga sampai nungguin di tempat cuci piring, demi dia bisa mendapatkan iPad 2. Sampai seperti itu perjuangannya.

Sebenernya kalau dipikir-pikir, ini gampang banget caranya. Bisa aja kita minta bendera ke pengunjung lain yang tidak tahu ada promo ini, atau dia memang tidak sengaja mengumpulkan benderanya. Sebenernya itu untung-untungan juga sih. Kalau misalnya, ada yang cuma dapet 50 bendera, tapi orang lain males mengumpulkan, ya berarti yang 50 bendera itu yang terbanyak. Tidak harus 600 bendera. Tapi kebetulan pemenang yang kemaren itu beruntung, sebenernya dia cuma dapat 300an. Terus ada ibu-ibu yang udah mengumpulkan sampai 300an juga, tapi merasa benderanya masih kalah banyak. Akhirnya Ibu itu ngasih benderanya ke pemenang itu. Jadilah dia dapet 600, yang tadinya tidak sampai 600, tapi dapet “hibah” dari orang lain. Dan itu memang tidak diundi. Jadi kalau kita bikin apa-apa, marketing gimmicknya itu tidak pernah terlalu banyak syarat. Bahkan saking mudahnya, orang-orang sampai heran, “masa gampang banget sih?”.

Dulu itu awalnya Holycow bagaimana?

Untuk cek pasar, dulu itu awalnya kita seperti membuka jasa catering, baru dibuat kalau ada pesanan saja. Untuk tahu saja, bagaimana reaksi orang-orang terhadap hasil masakan Mas Afit. Karena dulu awalnya yang mencicipi itu keluarga, tapi kalau keluarga kan agak diragukan juga objektifitasnya. Ternyata setelah cek pasar, responnya bagus. Karena responnya cukup bagus, akhirnya kita buka warung steak ini.

Pada dasarnya Holycow itu gampang-gampang aja. Sama sekali tidak se-advance itu. Saya sering banget denger orang yang bilang, “wah ini pasti marketingnya pake apa, gimana gitu konsepnya dipikirin njelimet banget”. Padahal tidak sama sekali, cari yang simple aja. Dan kalau bisa juga marketingnya ini bisa menghasilkan pendapatan buat kita, tapi konsumen jangan sampai merasa diakalin.

Bagaimana dengan sistem franchise, apakah berencana untuk membuka cabang franchise?

Kalau franchise itu masalahnya steak ini kan sangat personalize. Beda dengan restoran ayam goreng misalnya, yang tinggal dikasih bumbu terus digoreng 5 menit bisa kelar, sudah ada standarisasi waktunya sendiri. Tapi ini kan beda. Contoh simple, ini sama-sama 200 gram nih antara Wagyu Rib Eye sama Prime Tenderloin, tapi ketebalannya kan beda, masaknya juga harus beda. Dengan tingkat kematangan yang berbeda pula. Susah loh itu.

Sekarang Holycow ini kan kalau ibarat perempuan, umurnya lagi “mateng-matengnya”, lagi cantik-cantiknya dan banyak yang godain. Semua pasti tertarik untuk bikin franchise. Tapi bisnis itu kan tidak semanis itu, tidak semuanya pasti berhasil. Belum tentu buka cabang dimana-mana dengan sistem franchise itu bisa berhasil semua. Kalau saya mau ringkesnya aja nih sama suami saya, itu gampang. Saya bilang sekian milyar misalnya, itu pasti ada yang mau. Uangnya masuk ke kita, tapi bisa nggak control qualitynya? Orangnya passionate dalam menjalankannya atau tidak. Yang dipertaruhkan adalah nama brand Holycow-nya sendiri. Sebenernya sayang banget kan, kita udah bikin ini 2 tahun. Kalau misalnya orang itu cuma mengejar keuntungan semata, dia tidak menjalankannya dengan hati, ngeri deh taruhannya terlalu besar. Bukan berarti kita tidak mau punya partner, tapi sistemnya bukan franchising yang kita pilih. Kita lebih memilih mitra aja. Kalau dia punya tempat dan modal, ayo aja bekerja sama.

Banyak kok yang menawarkan kerjasama. Pernah ada orang Surabaya yang sampai mengejar Afit ke Singapura waktu itu. Orang itu bilang, “Waktu pertama kali saya melihat Holycow ini, saya mikirnya 2: orang yang punya Holycow ini ‘gila’, atau memang konsep bisnis seperti itu yang tidak memikirkan growth”. Bukan ‘gila’ sih, tapi kayaknya kita memang tidak terlalu memikirkan growth. Alasannya, karena untuk maintain kualitas di 2 outlet aja susah payah. Pertimbangan kita kan di kualitas. Bukan masalah uang aja. Kalau mengejar sampai 10 outlet, siapa sih yang tidak tertarik dari segi kalkulasi bisnisnya. Tapi untuk menjaga 1 hari disini aja, dengan kualitas yang sama setiap hari, itu juga tidak mudah. Dan ini udah kayak “anak” kita sendiri, jadi sayang aja rasanya kalau dilepasin gitu aja.

Kepikiran sih mungkin, tapi memang belum ada. Justru mungkin kita akan bikin line baru selain ini. Sebenernya kita sudah ada konsepnya, untuk kita jual ke orang lain. Ini tuh sebenernya portofolio kita dulu, tapi kita sudah punya konsep yang berbeda. Bisa steak atau yang lainnya. Tapi dengan portofolio kan kita sudah berhasil dengan Holycow Steak House. Itu yang mau dijadikan “raport” kita istilahnya. Jadi buat siapapun yang nanti mau beli, dengan harga yang mahal misalnya, kita tidak cuma asal jual “pepesan kosong”. Tapi ini memang yang beneran dan sudah ada buktinya.

Hal apa yang membuat Mbak Lucy berani menyewa tempat di Senopati (Jl. Bakti) ini?

Karena melihat responnya sih. Responnya juga luar biasa banyak. Awalnya kita memang di emperan sebenernya. Kita ngantrinya bisa sampai 3 jam, dan itu di pinggir jalan. Sementara kita kan punya anak. Saya ingat kalau bawa anak, untuk makan di pinggir jalan, banyak mobil dan harus ngantri segala kan kasihan. Karena kita lihat responnya sangat baik, kita cari-cari tempat, dapatlah di daerah Senopati ini. Lagipula ini letaknya agak di tengah, dekat dengan SCBD perkantoran. Terus perumahan juga banyak, dan tempat parkirnya juga enak dan luas. Ya sudah kita pilih disini. Dan ini tidak terlalu di pinggir jalannya Senopati, tapi agak masuk ke dalam. Jadi enaklah parkirnya.

Apa ada hubungannya dengan socmed, misalnya karena followernya sudah banyak jadi berani nyewa tempat disitu?

Nggak. Kalau di social media itu kan kadang beda sama aslinya. Yang ramai di social media belum tentu kenyataannya begitu. Bisa saja dia heboh ngetweetnya padahal tempatnya sepi. Ada juga yang tidak pernah ngetweet, taunya sangat ramai tempatnya. Banyak banget pengusaha-pengusaha kuliner yang saya temui, bisnisnya sudah laris dan ramai, bahkan outletnya ada ratusan, tapi mereka takut bermain di social media. Jadi tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur juga, yang terjadi di lapangan aja gimana. Karena kita lihat orang-orang daerah sini juga sudah banyak, kita juga perlu tempat yang lebih permanen, lebih bagus, dan lebih nyaman buat orang-orang. Harga sewa disini juga lumayan, tidak terlalu mahal-mahal banget. Jadi rejeki banget lah dapet disini. Pemiliknya juga cukup kooperatif.

Kalau bisa mengulang waktu, adakah yang ingin diperbaiki terkait Holycow?

Tidak ada sih kayaknya. Bisnis itu kan semua memang proses yang belajar terus menerus, kita tidak mungkin jadi seseorang yang hebat kalau semuanya tidak dipersiapkan dengan sangat baik. Contoh misalnya, apa enaknya kalau jadi orang yang “pokoknya gue mau jadi orang baik, jadi lo semua harus dukung gue jadi orang baik”, kan itu tidak fair. Dunia ini tidak bekerja dengan cara seperti itu. Di dunia ini ada baik dan buruknya, dan yang tidak baik itu sebenarnya bisa membentuk kita menjadi pribadi yang baik asal kita tahu caranya. Kayaknya tidak ada yang mau diulang deh, karena semuanya sudah diatur. Apapun yang dialami, enak tidak enak, itu sudah rejekinya. Sudah pasti jalannya, dan itu pasti baik pada akhirnya.

Ada hal lainnya terkait Holycow yang ingin disampaikan?

Pokoknya datang dan bersenang-senang aja di Holycow Steak House by Chef Afit ini. Karena biar bagaimanapun, ini adalah sebuah bisnis yang awalnya tumbuh dari kecintaan Afit terhadap memasak. Dan kita selalu percaya, kalau apapun yang dikerjakan dengan hati, orang yang merasakannya juga dengan hati, itu kita percaya banget. Makanya kita tidak pernah mau ngakal-ngakalin, kita tidak pernah mau kompromi soal kualitas. Orang selalu bilang “ada harga, ada barang”. Kalau mau sesuatu yang bagus, harus rela bayar mahal. Tantangan kita waktu itu, the most impossible thing about Holycow adalah gimana caranya kita bisa challenge itu. Bahwa mereka bisa dapet barang yang bagus tapi harganya murah.

Nah itu caranya gimana. Salah satu caranya adalah kita memang “gila” hitung-hitungan profit. Profit marginnya kita memang menyalahi aturan FnB. Karena kalau aturan yang sebenarnya, itu tidak mungkin. Akhirnya kita pilih marginnya dikecilin, tapi kita lebih bermain di volume. Kita juga bikin tempat yang tidak terlalu nyaman banget, seperti di kafe yang menggunakan AC dan sofa segala macem, tidak seperti itu. Jadi memang konsep warungnya seperti ini, meja dan kursinya memang seperti ini dari awal berdiri, tidak berubah. Dengan konsep warung yang seperti ini, makanya kita bisa kompromi harganya jadi lebih murah dari yang dijual di restoran. Saat awal-awal Holycow buka, banyak orang yang penasaran, “kok lo jual wagyu bisa murah sih? Itu dari sisa hotel atau apa?” banyak banget yang ngomong kayak gitu. Kita jawab aja, “Nggak. Lo boleh cek kalo setiap kali supplier kita dateng itu memang baru, masih fresh, dan itu memang dikirim khusus buat kita.”

Konsep di Holycow itu memang kesederhanaan seperti ini. Karena saya dan Mas Afit percaya bahwa kita tidak bisa bersaing “bagus-bagusan” tempat. Apalagi di Jakarta, kalau mau bikin tempat yang bagus, misalnya pake beludru semua, atau mau pake lapis emas semuanya, besok juga ada yang bisa lapis emas lebih banyak. Tidak akan ada habisnya kalau kita mau bersaing disitu. Orang yang punya uang lebih banyak, pasti akan bisa membuat tempat yang lebih bagus lagi. Tapi kita kan punya values yang kita jual disini, kita punya cerita yang kita jual disini. Ya ini memang warungnya, yang kita jual adalah makanannya. Dan pengolahannya memang beda, lebih dengan cara “rumahan” yang awalnya karena iseng aja kita coba masak Wagyu sendiri. Bukan resep yang diciptakan dengan sengaja untuk membuat warung Steak, sampai dipikirkan secara detil racikannya harus seperti apa. Tapi memang karena suka masak-masak di rumah, dan ternyata enak.

 

Modal kita itu kemarin, bukan 100% dipakai untuk beli peralatan, tapi ada bagian untuk safety net, dengan perhitungan tidak ada yang beli sama sekali

 

Ada saran untuk teman-teman yang ingin memulai bisnis?

Sarannya: jangan kebanyakan mikir. Kemarin saya diberi kesempatan bertemu Bu Martha Tilaar, karena diundang ke seminar Caring Colours. Terus akhirnya diundang ke rumahnya buat ngobrol-ngobrol, dan Beliau bilang sebenernya sama kok yang apa yang dikerjakannya. Mulainya dari bisnis kecil-kecilan aja, bahkan Beliau mulainya dari garasi. Sama dengan apa yang saya dan Afit pernah lakukan, jadi startnya dari kecil dulu aja. “Start small but fast”. Karena ide orang kan juga jalan terus, bukan tidak mungkin kita punya ide yang sama dengan orang lain. Tapi ketika kita sudah punya ide, sudah punya bisnis tertentu, ya sudah kerjakan saja, tapi harus dengan perhitungan. Itu yang kadang-kadang tidak terpikirkan oleh orang  yang mau memulai bisnis. Terlalu diawang-awang. Baca success story, keliatannya gampang ya. Terus mereka langsung running business, tanpa pakai pertimbangan apa-apa, cuma karena napsu. “Oke, gue udah punya passion, gue punya kemampuan masak, gue jalan”. Tapi di balik itu mereka tidak memikirkan secara lebih detail.

Seperti waktu saya pertama kali buka Holycow sama Mas Afit, yang dipikirkan Afit pertama kali adalah “gimana caranya kalo pertama kali kita buka dan tidak ada orang yang beli?”. Bukan bermaksud pesimis. Tapi kalau misalnya bisnis kita gagal, kita baru buka dan tidak jalan karena tidak ada yang beli. sementara kita punya karyawan yang hidup dari sini. Kalau saya masih bisa jadi presenter, Mas Afit juga masih bisa masuk kantor lagi. Sedangkan para karyawan kita gimana nasibnya? Jadi yang kita pikirkan adalah “gimana kita bisa sustainable setidaknya untuk setahun”. Modal kita itu kemarin, bukan 100% dipakai untuk beli peralatan, tapi ada bagian untuk safety net. Supaya kita masih tetap bisa menggaji karyawan kita selama satu tahun dengan catatan perhitungan kalau tidak ada yang beli sama sekali. Itu maksudnya. Jadi memang tidak semanis itu.

 

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.