Bagaimana Menggunakan Single Metric Untuk Menjalankan Startup Anda | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Bagaimana Menggunakan Single Metric Untuk Menjalankan Startup Anda

Posted by & filed under Running a Business, Startup.

 

Mengumpulkan data itu mudah. Ada banyak tool dan cara untuk mengumpulkan segala jenis data yang berkaitan dengan bisnis Anda, mulai dari lead generation hingga customer satisfaction.

Tapi apa yang harus kita lakukan dengan semua data itu? Bagaimana data tersebut membantu kita fokus, menyediakan insight untuk langkah bisnis selanjutnya, dan membawa kesuksesan?

Data yang Anda kumpulkan mungkin bermanfaat untuk beberapa hal; tapi jika Anda tidak bisa menyeleksi data tersebut, Anda akan kewalahan. Itulah mengapa Anda harus memikirkan single metric yang paling penting untuk tahap perkembangan perusahaan Anda, satu hal yang menjadi fokus perusahaan untuk ditingkatkan performanya. Disebut dengan One Metric That Matters.

One Metric That Matters (atau OMTM) merupakan satu hal yang menjadi fokus pada tahap startup Anda saat ini. Pertama, kita harus pahami lebih jauh mengenai OMTM, lalu membahas apa yang membuat sebuah metric dikatakan bagus, dan akhirnya bagaimana memilih metric yang tepat untuk dijalankan.

Empat Alasan Anda Membutuhkan OMTM Untuk Startup Anda

Seperti yang disampaikan, OMTM merupakan single metric yang Anda perhatikan pada beberapa poin di waktu tertentu, bagi tahap tertentu startup Anda. Jadi hal pertama yang harus diingat adalah: OMTM akan berubah. Ini bukan satu-satunya metric yang penting bagi keberadaan startup Anda. Kita akan bahas bagaimana OMTM berubah nanti. Untuk mengawalinya, mari pahami dulu mengapa Anda memerlukan One Metric That Matters:

1.     OMTM menjawab pertanyaan paling penting yang Anda miliki.

Pada saat tertentu Anda harus menjawab ratusan pertanyaan yang berbeda dan berurusan dengan jutaan hal lainnya. Anda perlu mengidentifikasi area bisnis yang paling beresiko secepat mungkin – inilah tempat munculnya banyak pertanyaan penting. OMTM bertanggung jawab dan penting untuk mengukur dan menjawab pertanyaan tersebut.

Jika Anda menggunakan Lean Canvas (atau model bisnis canvas Alex Osterwalder) sebagai halaman-1 “business plan” Anda, maka lumayan mudah untuk mengidentifikasi area beresiko bisnis Anda. Saya sangat mendukung Anda untuk melihat Lean Canvas milik Ash Maurya di http://leancanvas.com. Dan ini tool lainnya untuk menggali masalah sebenarnya yang dihadapi startup Anda (yang tidak selalu terlihat): Problem-Solution Vancas.

 2.     OMTM memaksa Anda menentukan batas dan memiliki tujuan yang jelas.

Setelah Anda mengidentifikasi masalah utama yang perlu diselesaikan, Anda perlu menentukan goal. Anda perlu cara dalam mengartikan kesuksesan. Sangat sulit bagi kebanyakan startup untuk menentukan batas. Katakan saja conversion website untuk mendapat trial account adalah OMTM Anda, dan saat ini berada di angka 0.5%, yang artinya terlalu rendah. Jadi Anda akan mengerahkan semua SDM yang Anda miliki untuk meningkatkan angka tersebut. Tapi apa seharusnya? Bagaimana Anda tahu jika conversion tinggi maka Anda sudah berhasil?

Dalam hal ini Anda perlu menentukan batas dan memilih target. Batasan yang Anda buat ada alasannya; Anda bisa menggantinya karena Anda sedang belajar dan bereksperimen dengan solusi. Anda hanya perlu jujur dengan diri sendiri mengapa Anda melakukannya – jangan pasang target terlalu tinggi, lalu terlewat, dan menurunkan target agar bisa bilang Anda berhasil dan lanjut ke tahap selanjutnya. One Metric That Matters merupakan faktor paksaan untuk mendorong Anda menetapkan target dan menganalisa hasilnya secara jujur dan transparan.

3.     Fokus pada keseluruhan perusahaan.

Fokus itu baik. Nyatanya, lebih baik Anda menerima resiko akibat fokus berlebihan (dan melewatkan beberapa secondary metric) daripada mengabaikan metric dan mengharapkan hasil (yang terakhir adalah yang disebut Avinash Kaushik sebagai Data Puking.) Letakkan OMTM di depan dan tengah, yang terlihat secara fisik oleh siapa pun setiap saat.

4.     Menginspirasi budaya bereksperimen.

Gerakan Lean Startup sudah menunjukkan seberapa pentingnya eksperimen. Penting untuk melewati proses cycle “Build -> Measure -> Learn” (dijelaskan dalam buku Eric Ries, The Lean Startup) secepat mungkin untuk menghasilkan pembelajaran yang cukup jadi Anda bisa mulai mengeksekusi di jalur yang tepat. Anda mau menanamkan dan menginspirasi budaya eksperimen melalui organisasi Anda – yang bisa dibantu dengan One Metric That Matters.

Seperti Apa Metrics yang Baik ?

good metric

Kita semua pernah mendengar vanity metrics kan? Vanity metrics sangat bisa menarik dan mengganggu Anda, tapi metric tersebut tidak bagus untuk menjalankan bisnis Anda. Inilah lima aturan mengenai apa yang membuat metric dikatakan bagus:

 1. Rate atau ratio lebih baik daripada value mutlak atau kumulatif. Contohnya, “Pengguna baru setiap harinya” lebih baik daripada “Total pengguna.” Angka mutlak cenderung tergolong sebagai vanity metric.

2. Terhitung relatif untuk periode waktu, situs, atau segmen lainnya. “Meningkatkan conversion dari minggu lalu” lebih baik daripada “2% conversion.” Kuncinya adalah cohort analysis, di mana Anda mengikuti metric dari kelompok orang yang berbeda, khususnya dari periode waktu yang berbeda. Contohnya, Anda mengarahkan traffic ke situs melalui Google AdWords dan mengukur conversion dalam seminggu. Tapi Anda juga harus mengukur engagement dan mengurangi churn rate pelanggan. Kemudian Anda membuat perubahan (untuk website, produk, atau yang lainnya) dan mengawasi hasilnya untuk kelompok lainnya. Setiap kelompok yang visit dan sign up termasuk dalam cohort.

3. Tidak lagi serumit golf handicap. Metric yang baik harus sangat simpel dan mudah dipahami; kalau tidak orang-orang tidak akan ingat dan membicarakan metric tersebut.

4. Untuk metric “accounting” Anda harus melaporkan keadaan bisnis (ke jajaran direksi, investor, media, dll), metric yang baik adalah yang membuat prediksi Anda lebih akurat.

5. Untuk metric “experimental” Anda harus mengoptimasi produk, harga, atau market, pilih yang bisa menghasilkan jawaban/hasil yang akan mengubah perilaku Anda secara signifikan. Metric yang tidak menghasilkan perubahan perilaku mungkin termasuk vanity metric dan value-nya sedikit.

Bagaimana Memilih One Metric That Matters

bagaimana memilih one metric that matters

Ada beberapa faktor yang berperan dalam pemilihan One Metric That Matters. Dua faktor terpenting adalah tipe bisnis Anda dan tahap bisnis Anda saat ini. Mari kita lihat:

Pertama: apa bisnis yang Anda jalankan?

Ada beberapa model bisnis besar Key Performance Indicators (KPI) yang diikuti oleh perusahaan, dan mereka diperintahkan oleh tujuan utama perusahaan. Tentu saja, mayoritas perusahaan mau menghasilkan uang pada akhirnya; tapi cara mereka sampai ke sini – dan apa yang mereka inginkan dari user dan customer – berubah secara signifikan. Inilah enam defisini bisnis model bisnis secara luas; Anda harus bisa mengidentifikasi tipe yang sesuai dengan Anda:

1. Transactional: Seseorang membeli sesuatu.

Situs transactional fokus pada conversion shopping cart, cart size, dan cart abandonment. Terutama bagi perusahaan e-commerce, tapi tipe ini juga berlaku bagi bisnis subscription. Tipe ini adalah transaction funnel khusus, dan siapapun yang pernah menggunakan web analytics pasti tidak asing lagi. Supaya bisa bermanfaat, Anda harus mengubah jadi long funnel yang termasuk source, email metric, dan dampak media sosial. Pelajari lebih lanjut dari KISSmetrics mengenai optimasi long funnels.

2. Collaborative: Seseorang melakukan vote, comment, atau membuat konten untuk Anda.

Collaboration merupakan jumlah good content dibandingkan dengan bad content, seperti jumlah persenan antara lurkers dan creator. Ini termasuk engangement funnel, yang terlihat seperti engagement pyramid milik Charlene Li.

3. SaaS: Seseorang menggunakan sistem Anda, dan value yang didapat berarti mereka tidak melakukan churn atau membatalkan langganan mereka.

SaaS membahas conversions (dan yang terkait cost of acquisition) dan churn. Apa yang diperlukan untuk mendapatkan customer, engage customer, dan mempertahankan mereka? Lifetime Value customer merupakan kunci untuk memahami skala bisnis SaaS Anda.

4. Media: seseorang meng-klik banner, ads pay-per-clik, atau link affiliate.

Media adalah tentang time on page, pages per visit, dan click-through rates. Mungkin hal tersebut terdengar biasa, tapi variasi model revenue bisa mempersulit hal tersebut. Contohnya, model rewriting URL affiliate Pinteres meminta situsnya masuk ke akun yang kemungkinan seseorang akan membeli barang sama seperti presentasi click-through.

5. Game (dan banyak aplikasi mobile gratis lainnya): Player membayar untuk additional content, time savings, extra lives, in-game currencies, dan lainnya.

Startup game memperhatikan Average Revenue Per User Per Month dan Lifetime Average Revenue Per User (ARPUs). Perusahaan seperti Flurry banyak melakukan berurusan dengan hal tersebut, dan banyak developer aplikasi menghasilkan code mereka sendiri untuk menyesuaikan cara penggunaan game mereka.

Developer game melakukan kerja bagus antara membuat konten yang menarik dan pembelian in-game yang menghasilkan revenue. Mereka perlu mengumpulkan pembayaran tanpa membocorkan gameplay, menjaga user agar kembali terus sementara mengumpulkan uang setiap bulannya.

6. App (dan banyak aplikasi mobile gratis dan berbayar lainnya): User membeli dan meng-install software Anda di device mereka

Serupa dengan kategori Game, tipe Apps sedikit lebih luas. Tapi jelas ada banyak overlap. Dengan model bisnis ini (entah apps gratis dengan in-app monetization atau apps berbayar), model bisnis ini fokus paa jumlah user, presentasi user yang telah menggunakan versi terbaru, uninstalls, ratings, dan reviews.

Jumlah engagement juga sangat penting: user aktif harian, user aktif bulanan.

Tentu saja tidak sesimpel itu. Tidak ada perusahaan yang memiliki semuanya dalam sekejap. Seorang developer game memperhatikan KPI “app” ketika mendapatkan user, dan KPI “Game” atau “SaaS” ketika menjaga user; Amazon memperhatikan tentang KPI “transactional” ketika converting buyer, dan KPI “collaboration” ketika mengumpulkan review.

one metrics that matter

sumber gambar : Lean Analytics Slideshare

 

Kedua: apa tahap perusahaan Anda saat ini?

Menetapkan jenis bisnis yang Anda jalankan cukup mudah, tapi menentukan tahap bisnis bisa lebih kompleks. Di sini founder cenderung berbohong pada diri sendiri – di mana mereka percaya sudah berada pada tahap yang lebih jauh dari sebenarnya; dan inilah di mana Lean Startup sangat penting.

One Metric That Matters Anda akan sangat dipengaruhi oleh tahap bisnis Anda. Fokus yang terburu-buru atau mengoptimasi hal-hal yang tidak penting pasti akan membunuh startup Anda. Jadi mari kita lihat:

  • Problem validation: Inilah langkah pertama untuk startup apapun, menjawab pertanyaan, “Apakah saya menyelesaikan masalah yang cukup menyakitkan yang orang benar-benar pdulikan?” One Metric That Matters di sini kualitatif. Bukan hanya angka yang bisa Anda pantau; tapi penilaian usaha Anda dalam menanyakan prospek dan mendapatkan feedback mereka. Ada indikator kuat yang bisa Anda dapat dari penjelasan orang mengenai seberapa peduli mereka terhadap masalah yang Anda coba selesaikan.

Data yang perlu Anda perhatikan adalah jumlah orang yang diwawancara. Seberapa banyak Anda “keluar dari kantor?” Jika Anda belum berbicara dengan lebih dari 10 orang sebelum maju ke tahap selanjutnya, Anda tidak bisa terburu-buru.

  • Solution validation: Langkah selanjutnya adalah membuat solution interview dengan orang-orang yang menunjukkan ketertarikan terhadap permasalahan yang Anda selesaikan. Sekali lagi, datanya kualitatif. Tentu saja, jika Anda bisa membuat orang berbelanja ; tapi kissmetrics tidak akan menggunakan “dollar yang terkumpul” sebagai One Metric That Matters. Mungkin saja tidak relevan dengan tipe bisnis Anda saat ini.

Lane Halley punya beberapa tips mewawancarai customer secara efektif dalam presentasi Slideshare ini.

  • Minimum viable product (MVP) validation: Setelah Anda maju dan membuat MVP dan menyebarkan ke orang-orang, ini saatnya untuk mendapat metrics yang lebih kuantitatif dan terukur. Metrics seperti amplification (seberapa banyak seseorang memberitahu kepada temannya?) dan Net Promoter Score (akankah Anda beritahu teman Anda?) dan One Question That Matters dari Sean Ellis (dari Survey.io – “Bagaimana perasaan Anda jikda tidak lagi bisa menggunakan produk atau servis ini?”) sangat berguna.

Sebelumnya pada tahap validasi MVP, kemungkinan Anda akan dihadapkan dengan beberapa form of engagement – user aktif daily, weekly, dan/atau monthly. Anda akan menggunakan cohort untuk mengukur apakah jika engagement naik atau turun ketika Anda melakukan perubahan. Pada akhirnya, Anda coba menemukan dual hal: (1) apakah orang-orang menggunakan produknya sesuai harapan Anda, dan (2) apakah mereka mendapatkan value dari produk tersebut?

  • Generating attention/channdel development: Sambil Anda mengerjakan validasi MVP, Anda bisa meningkatkan angka orang-orang yang mendapat MVP hingga pengujian lebih jauh mengenai value proposition, messaging, dan channel / strategi user acquisition. “Attention generation” ini akan fokus pada conversion metric pada akhir “long funnel” yang memonitor proponent, kampanye, dan media mana yang menghasilkan traffic.

Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi semakin menarik. Daripada hanya melihat conversion pada beragam channel, Anda juga ingin memahami value dari user / customer. Channel tertentu mungkin membawa banyak user, tapi value mereka mungkin saja rendah, churning pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Inilah saatnya Anda menyatukan metric; gunakan One Metric That Matters untuk fokus pada satu hal dulu (contohnya channel dan conversion) kemudian pindah ke tahap value creation (engagement / churn / lifetime value).

  • Ongoing feature development: Jangan buat fitur secara sia-sia. Tes dan ukur value-nya untuk customer Anda. Contohnya, cukup mudah untuk memantau seberapa sering sebuah fitur digunakan. Mungkin ini bukan One Metric That Matters Anda, tapi memenuhi seluruh value yang Anda buat dan entah mengubah atau menambahkan (atau menghapus!) sebuah fitur memiliki dampak terhadap metrics utama, seperti conversion, churn, lifetime value, revenue, dll.
  • Business model validation: Dalam beberapa hal, Anda harus menghasilkan uang. Berdasarkan bisnisnya, tahap ini bisa datang lebih cepat, atau lebih lama. Ada beberapa cara untuk menguji bisnis model Anda, termasuk bagaimana Anda memberi tugas, kapan, dan apa tugas yang diberikan.

Anda bisa dengan mudah mengukur revenue, tapi itu bukan cara terbaik untuk menetapkan bisnis Anda. Revenue bisa saja terus naik, tapi apa hal itu bisa menandakan kesehatan dan scalabilitas bisnis Anda? “Revenue per customer” lebih bai, dan masih banyak yang bisa Anda pelajari dari metric tersebut. Contohnya, jika revenue naik tapi revenue per customer turun, artinya Anda membutuhkan customer lebih banyak lagi agar bisnis tetap bertumbuh. Apakah bisa dilakukan? Apakah masuk akal? Ratio ini membantu Anda untuk fokus membuat keputusan bagi startup Anda.

Menggabungkan Lean Startup dan Analytics Menghasilkan Apa yang Saya Sebut Lean Analytics.

Lean Startup membantu Anda menyusun progress dan mengumpulkan apa yang harus Anda kerjakan pada saat tertentu. Lean Analytics digunakan untuk mengukur progress tersebut, membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan penting. Dan One Metric That Matters merupakan salah satu tools utama untuk memudahkan analytics dan menyiapkan startup dengan fokus yang penting untuk dicapai.

Sumber: kissmetrics.com

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.