Bagaimana @Rianaree Membangun @BelowCepek Hingga Memiliki 10,000 Member Dalam 5 Bulan

Posted by & filed under Featured, Interview, Running a Business, Startup.

Tidak pernah ada ruginya bagi kita untuk menjadi seorang expert (atau setidaknya : mahir) di bidang yang kita sukai, terlebih lagi bila kita bisa melihat masalah di bidang tersebut dan membantu memecahkannya.

Bukankah impian dari  setiap entrepreneur adalah memecahkan masalah di bidang yang dicintai ?

Berikut ini sharing Riana Bismarak (Founder Belowcepek) mengenai bagaimana ia melihat permasalahan di industri fashion Indonesia, mengapa ia membangun BelowCepek, ritme pekerjaan sebagai entrepreneur, kekuatirannya sebagai entrepreneur dan strateginya mengembangkan BelowCepek.

 

Riana Bismarak mendirikan BelowCepek karena melihat permasalahan di dunia fashion Indonesia, BelowCepek didirkan pada Juni 2011 dan dilaunch pada November 2011, setelah beberapa bulan mengalami perkembangan positif, Riana memberanikan diri untuk resign dari kantornya pada April 2012.

Mau jadi entrepreneur harus dimulai dari apa yang kita suka dan apa yang kita mahir

Bagaimana seorang Riana menceburkan diri ke dunia entrepreneurship ?

Juni 2011 saya membuat PT Fortuna Adibusana dengan objektif bergerak di bidang fashion dengan visi mengangkat produk lokal Indonesia.

Sewaktu saya keluar dari dunia korporasi dan membuat usaha sendiri, saya harus mencari sesuatu yang saya suka dan yang kedua, saya harus mahir. Mau jadi entrepreneur harus dimulai dari apa yang kita suka dan apa yang kita mahir karena banyak sekali orang hanya suka, tetapi tidak mahir, akhirnya setres. Contohnya, saya suka makan, tetapi saya tidak bisa masak, lalu saya buka restoran, tetapi orang lain yang masak, begitu chefnya keluar, saya bisa mati berdiri.

Jadi jangan suka doang, tetapi harus mahir, karena entrepreneur mempertaruhkan uang, kalaupun gagal, at least kita yang mengerjakan, sehingga kita tidak menyalahkan orang lain kalau bisnisnya tidak jalan.

Yang saya pilih saat itu adalah fashion. Karena saya suka mengerjakannya, saya suka belanjanya, saya kenal banyak orang yang berkecimpung di situ. Setelah buat PT, tadinya mau buat toko, tetapi setelah riset, ternyata toko itu mahal sekali. Kalau saya buka toko, objektif saya untuk memajukan produk lokal Indonesia, menjadi tidak masuk akal, karena kalau ditambah dengan harga sewa dan staf, harga bajunya menjadi overpriced.

Akhirnya saya pilih online, karena bisa menjangkau luar Jakarta juga, dibandingkan toko fisik. Harapan saya semua orang Indonesia bisa menggunakan produk Indonesia dengan harga yang affordable.

Masalah apa saja yang ada di industri fashion Indonesia?

Habis, kalau ngomong produk Indonesia, pasti selalu batik. Kita kan tidak setiap hari pakai batik ?

Saya membuat riset tentang harga yang affordable di pasaran, ternyata di pasaran, harga baju Cina, Korea, Bangkok ada di kisaran Rp.150,000 sampai Rp.350,000, jika saya ingin memenangkan hati wanita Indonesia supaya mereka mau pakai dulu lokalnya, saya harus pasang harga di bawah itu, bukannya tidak confident dengan barangnya, tetapi saya ingin curi dulu perhatiannya, akhirnya, 100 ribu adalah harga yang paling cocok. Sekarang sudah hampir tidak ada baju 100 ribu sehingga produk saya memiliki value yang kuat di market.

Untuk membuatnya catchy, saya beri nama belowcepek, yang harga bajunya di bawah 100 ribu, margin saya tipis sekali, saya juga tidak punya budget marketing besar sekali, sehingga nama yang catchy untuk saya membantu sekali.

Kalau saya ke mall, butik-butik ternama rata-rata diisi oleh produk made in Maroko, Laos, Myanmar, India, Indonesia sangat sedikit, saya juga tidak mengerti kenapa apakah kualitas produk kita rendah ?  Lalu kalau kita ke mall-mall second grade seperti ITC, rata-rata harganya 150 ribuan, itupun bajunya dari China, Bangkok, Korea.

Anehnya, saya pernah belanja online dari Amerika, Victoria Secret, begitu barangnya sampai sini, ternyata made in Indonesia. Bete banget kan?

Nah apa problemnya dengan produk Indonesia?

Karena produk yang bagus diekspor, produk defectnya dijual di Indonesia, sisanya yang dijual di negara kita sendiri kan belum tentu bagus?

Kalaupun ada produk bagus dari desain Indonesia, rok misalnya, harganya malah 4 jutaan. Wanita Indonesia tidak bisa membelinya, padahal ingin sekali menggunakan produk lokal, akhirnya, belinya merk luar negeri.

Habis, kalau ngomong produk Indonesia, pasti selalu batik. Kita kan tidak setiap hari pakai batik ?

Apakah dalam proses membangun BelowCepek banyak mengengage desainer lokal ?

Saya bertemunya bukan dengan desainer lokal, tetapi home industry dari Jakarta, masalah yang mereka hadapi adalah mereka butuh volume produksi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana orang Makassar, Manado dan kota luar jawa lainnya bisa beli baju mereka, mereka kan tidak paham internet, buat website saja PR banget untuk mereka. Website saya menjadi online distribution channel yang efisien untuk mereka, daripada saya mahal-mahal buat shopping outlet di semua kota, lebih baik lewat online.

My second project nanti adalah mengumpulkan desainer lokal yang belum punya nama, tetapi bajunya bagus, affordable, kualitas bagus dan ingin saya satukan dalam satu wadah dan kita bisa jualan bareng.

SociaBuzz

Tags: ,