Cara Berbisnis Online : Belajar dari Private Leisure, Villa Rental yang Menguasai Market 3 Negara
Editor’s note : Di bulan Oktober 2012, saya sempat mengikuti NasionalBootcamp di Jogja atas undangan @Riyeke (founder Lakubgt, Ipaymu, Marketbiz) dan @PakFrans (exportir furniture dan pemenang primaniyarta award 2012), di sela-sela training saya menemui mas Adi Arifin, founder Private Leisure, sebuah perusahaan villa rental online yang mencakup Bali, Thailand, Sri Lanka, India dan saat ini rata-rata memiliki omzet 2 miliar per bulan. Bagaimana  cara ia berbisnis online ? Apa yang dikerjakan di bulan-bulan awal pendiriannya? mari kita simak.
Startup sekarang ini sepertinya sudah menjadi trend. Namun, pada zaman saya dulu jarang sekali kita dengar ada di Indonesia. Jadi, misalnya kita ingin memulai bisnis ya hanya sekedar memulai bisnis saja. Saya sendiri memulai bisnis dari apa yang saya lihat sehari-hari. Dulu, ketika saya pindah ke Bali, saya bekerja untuk jaringan agent Real Estate yang spesifiknya adalah menjual tanah atau bangunan yang segmennya adalah holiday, misalnya adalah tanah yang cocok untuk membangun sebuah villa maupun hotel.
Â
Pada tahun berapa?
Tahun 2001. Di situlah saya melihat bahwa ada banyak hotel maupun villa yang kosong karena villa itu sendiri adalah rumah peristirahatan. Jadi, banyak orang berlibur mencari villa untuk ditempati selama mereka berlibur. Namun, setelah mereka selesai melakukan liburan, tentu saja mereka meninggalkan villa tersebut.
Saat itu, villa akan kembali kosong dan baru ditempati lagi sekitar beberapa bulan setelahnya. Itulah yang membuat saya merasa begitu menyayangkannya, di mana property tersebut dibiarkan menganggur begitu saja apalagi harganya tidaklah murah. Jadi, saya pun akhirnya memutuskan untuk mendekati para pemilik villa tersebut. kebetulan juga saya tahu bahwa mereka membeli villa tersebut dari kita.
Lalu, saya menawarkan ide kepada mereka bagaimana jika villa tersebut disewakan untuk orang-orang yang berlibur dengan syarat mereka harus mempersiapkan sejumlah staff untuk membersihkan villa-villa tersebut agar tetap terawat. Dari ide itulah, banyak dari mereka yang merasa tertarik. Hal yang sebenarnya membuat mereka menarik adalah biaya dari villa tersebut bisa dijadikan sebagai pembayaran untuk staff maupun keamanan atau jika memang tidak ada yang menggunakan villa tersebut, villa tersebut tetap akan bersih karena adanya staff yang dipekerjakan di villa tersebut. setidaknya, mereka akan mendapatkan biaya operasional walaupun sedikit dari penyewaan villa tersebut. dari situlah, banyak sekali orang-orang yang saat ini membangun villa dengan tujuan untuk mendapatkan income.
Namun, sebenarnya income villa ini dilihat dari dua sisi karena itu adalah property. Sebenarnya, gainnya lah yang jauh lebih besar ketika villa tersebut dijual lagi. tapi, tetap saja biaya dari rentalnya sendiri bukan hanya untuk biaya operasional saja. Itulah awalnya mengapa saya memulai usaha ini. lalu, saat saya merasa sudah tidak cukup mampu untuk menghandlenya, saya pun memutuskan untuk berhenti kerja pada tahun 2004 di mana usaha tersebut sudah berjalan.
Pada saat itu, cara memasarkannya seperti apa?
SEO menjadi hal yang paling kuat, dimana saat itu social media marketing masih belum ada. Selain SEO, saya juga belakangan mencoba adwords, karena waktu saya memulai usaha tersebut, saya tidak memiliki modal, hanya sebatas gaji karyawan. Jadi, waktu itu saya menggunakan SEO sebagai pilihan terbaik untuk memasarkannya, kalau adwords kan berat – dibayar di depan dan belum tentu click itu menjadi konversi, jadi SEO yang satu-satunya paling masuk akal untuk saya walaupun harus lebih bersabar sedikit. Tapi, akhirnya selama tiga atau empat bulan, saya membuat website, ranking pun sudah mulai naik dan sudah mulai dapat revenue.
Keyword yang Digunakan Untuk Bali Villa Rental Ini Mengalami Persaingan Tinggi Pada Saat Itu?
Pada saat itu tidak. Memang, ada beberapa yang telah menggunakan keyword tersebut. tapi, pada saat itu banyak yang menggunakannya untuk sales / jual beli villa bukan untuk rent / sewa seperti saya. Keyword yang paling kompetitif dan paling banyak konversinya adalah Bali Villas. Saat itu, sudah ada yang menggunakan bahkan juga memiliki domain yaitu balivillas.com. namun, mereka juga menawarkan jual beli di mana mereka sendiri juga berperan sebagai Real Estate sales. Untuk Real Estate ini sendiri ada dua yaitu pertama bertindak sebagai agent. Sementara untuk yang kedua adalah Real Estate Perumahan.
Jadi, pada saat itu anda membuatnya khusus untuk rental saja ya?
Ya, benar sekali.
Bagaimana Cara Membuat Keywordnya Berada Di Nomor Satu? Membuat Content atau Apa?
Kurang lebih konsep SEO seperti yang lain, Â domain, content lalu riset keyword, kemudian domain, content, backlink.
Jadi, tersedia blognya di dalamnya?
Saat itu, saya tidak menggunakan blog karena belum cukup popular. Sebenarnya, dulu sudah tersedia Blogspot dan lain sebagainya. Hanya saja yang platform blog yang dapat diinstal seperti WordPress masih belum tersedia.
Kalau kita ingin membicarakan SEO secara spesifik, karena SEO itu menginginkan content yang secara terus-menerus update. Sementara kalau kita membuat commerce website, deskripsi produk tidak akan berubah. Jadi, ketika page tersebut jadi, maka tidak akan ada update, kamar villa tetap 4, kolam renang ukurannya tetap, mungkin tahun depan harganya update misalnya.
Itulah yang saya balance seperti blog. Jadi, berbagai macam content atau saya menyebutnya “artikel” saya tambahkan ke dalam website. Kalau ada villa di Seminyak jadi saya buat konten berita kafe baru di Seminyak. Apa sih yang menarik di Seminyak? lagi musim belajar surfing misalnya. Waktu itu seminggu 2-3x saya tambah artikel.
Tapi, setelah cukup banyak, saya pun membangun website lagi hal ini dikarenakan dalam satu website tidak bisa dipaksakan untuk menampung banyak keyword.  Jadi, saya pun memutuskan untuk membuat sejumlah website lagi untuk membidik keyword-keyword yang jauh lebih spesifik untuk menaikan popularitas industrinya juga.
Semakin populer industrinya, keywordnya makin berkembang dan spesifik, misalnya, awal-awal orang melakukan search “Bali Villas” atau “Villa in Bali” lama-lama orang akan tahu ternyata villa ada yang mahal dan ada yang murah, mulai mencari “budget villas”, “cheap villas”. Kemudian lokasinya juga, orang makin kenal “Jimbaran”, “Villa in Jimbaran”, “Villa in Ubud”.
Industrinya cukup meledak sehingga kompetisi cepat sekali meningkat karena sebenarnya industry ini adalah industry murah yang mudah dimasuki dimana anda tidak memerlukan modal apapun. Sekarang, villa-villa tersebut juga sudah semakin commercial oriented. Mereka sudah memiliki website sendiri, Bahkan sekarang mereka mendatangi agent untuk membantu memasarkan villa mereka. Jadi, tingkat kompetisinya jauh lebih ketat dari sisi konsep, bisnis, SEO, dan lain sebagainya.
Anda pernah masuk ke market Thailand ? Bagaimana bisa ? Tahun Berapa?
Pada saat itu, saya keluar dari Bali sekitar tahun 2006. Ceritanya sendiri adalah karena client-client saya dari dua sisi, yaitu orang yang berlibur dan orang yang memang memiliki property. Beberapa pemilik property memiliki villa di Thailand. Di sisi customer yang ingin berlibur, mereka bilang ingin liburan di tempat lain, mereka tanya “kamu punya villa di Thailand?”
Saya punya relationship dari ke-2 sisi, dengan customer dan suppliernya ya sudah saya coba masuk market ini.
Saya kontak owner villa yang saya kenal dulu di Bali dan punya villa di Thailand, tapi saya tekankan ke dia untuk memastikan propertynya baik, bersih karena saya tidak buat tim di Thailand, saya hanya memasarkan saja di internet, karena kenal saja saling percaya. Karena hubungan baik sudah terjalin kan lebih mudah.
Dari situlah ada sekitar lima atau enam villa yang masuk ke portofolio saya yang bisa dibilang cukup untuk mengisi website. Ternyata, sambutan pasar cukup bagus dan selain SEO, saya mendapatkan konsep cross marketing.
Contoh,tadinya orang berlibur ke Bali. Pastinya ia merasa bosan untuk ke Bali secara terus menerus. Dari situlah kita menawarkan bahwa kita memiliki villa lain di Phuket. Jadi, meskipun keyword untuk Phuket belum memiliki ranking yang tinggi, saya sudah mendapatkan penjualan lumayan.
Itulah yang menggerakkan saya untuk datang langsung ke sana melihat pasar dan potensinya. Caranya sendiri dimulai dengan real estate agent karena mereka mengetahui persis di mana ada villa, siapa pemilik villa. Orang-orang asing di sana kalau cari property juga lewat real estate agent. Untuk itulah, saya berusaha untuk meyakinkan mereka untuk bekerja sama. Cara saya kerjasamanya, saya bilang ke agent, “kamu bilang ke klienmu, kalau kamu bilang klien-klienmu, kalau kamu beli tanah ini dan bangun villa, bukan hanya  harga tanahnya yang naik, kamu juga dapat income dengan memasarkan lewat internet, kalau mau memasarkan bisa contact ke saya”. Lalu saya sudah seperti konsultan marketing villa rental di sana, klien-klien tanya ke saya tentang potensi villa di Thailand.
Begitu villanya selesai dibangun, langsung jadi supplier saya, waktu itu susah cari villa. Tidak seperti sekarang.
Jadi, sebenarnya saya membantu usaha agent-agent tersebut. Lalu, dengan penambahan portofolio saya juga adanya potensi bisnis yang cukup tentu itu tidak merugikan saya, di mana saya invest sebuah tim disana. Jadi, titik saya keluar sebenarnya pertama dengan Phuket. Setelah di Phuket, dengan mekanik yang sama kemudian menyebar di tempat wisata yang lainnya. Kalau momentumnya sudah dapat ya tinggal jalan.


