Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Cara Mencari Modal Usaha : Startup Founders, Berhati-hatilah Dengan Dumb Money

Posted by & filed under Featured, Finance, Startup.

Cara mencari modal :dumb money

Editor’s note : Pagi ini saya ada di Event IMJ Fenox, Venture Capital patungan Jepang dan Silicon Valley yang baru saja melakukan investment di Indonesia kepada Urbanindo.com yang didirikan oleh Arip Tirta. Dalam event ini saya melakukan livetweet di mana salah satu tweetnya adalah kalimat yang disampaikan oleh Anis Uzzaman, Founder dan Director IMJ Fenox “I want money + advice = smart advice. Kalau hanya money = dumb money. Founder don’t want dumb money”.  Beberapa detik setelah tweet ini saya mendapatkan pesan BBM dari  rekan founder yang pernah learnt the hard way menerima dumb money dan bersedia memberikan sharing pengalamannya di artikel ini. Rekan saya ini minta namanya dirahasiakan, tetapi saya bisa jamin bahwa ia adalah founder yang bagus dan valid, bukan kisah fiksi, kami di Startupbisnis.com tidak pernah membuat artikel fiksi.

Apa itu dumb money ? dumb money adalah ketika kamu pertama kali raise funding dari pihak luar di luar tim inti, namun pihak investor sama sekali tidak mengerti tentang how a startup investment works, even how YOUR BUSINESS WORKS, mereka tahunya hanya naruh duit, dapet share saham sama dengan founder,  alasannya karena “saya keluar duit, sedangkan kamu tidak keluar apa – apa”, ketika bisnis jeblok atau tidak sesuai ekpektasi, mereka menghentikan komitmen investasinya, atau bahkan lebih parah, mereka minta duitnya balik 100%.

Kenapa founder tidak boleh sembarang menerima uang, kenapa investor (startup) tidak boleh beralasan demikian dalam berinvestasi ( saya punya duit, saham saya minimal sama dengan kamu ), dan kenapa investor tidak boleh meminta duitnya balik 100% saat perusahaan dalam kondisi struggle, dan kenapa founder tidak boleh sembarang memilih co-founder, dan kenapa kita tidak boleh split saham fix dengan co-founder diawal ( 70:30 atau 50:50 ), akan saya jabarkan sebagai berikut :

Semuanya berawal ketika saya ingin membuat sebuah software yang bisa memudahkan pekerjaan profesi saya dan semua orang. Basic skill saya sebelumnya bekerja di perusahaan jasa keuangan, dan saat itu saya sama sekali tidak tahu istilah startup dan apa itu startup, i learnt the hard way, setelah tanda (v) adalah kesalahan saya yang fellow founder jangan pernah ulangin ya!, so here it goes :

  • Salah memilih co-founder

Desember 2011, dengan modal split saham 70% : 30% (v) saya dan seorang teman programmer yang juga seorang pegawai tetap di sebuah perusahaan BUMN, akhirnya memutuskan mengeksekusi ide tersebut. Pada awalnya kami terlihat sangat bersemangat dan antusias, daring the world to stop us!, saat kita akan mulai, terlihat beberapa kompetitor yang sudah bernama besar, ugh, it’s okay, we’ll do better!, namun kata “we’ll do better” ini konsekuensinya sangat besar baik dari segi biaya yang harus dikeluarkan, resiko berurusan dengan hukum, dan permasalahan teknologi yang tampak impossible.

Selain masih sibuk dengan pekerjaan utamanya sebagai pegawai BUMN (v), co-founder juga mulai menciut nyali dan komitmennya, akhirnya 3 bulan startup kami tidak berbentuk apa – apa kecuali landing page dengan background warna oranye polos norak dan beberapa text yang posisinya menceng – menceng. Akhirnya saya memutuskan untuk memecat co-founder saya dan menyuruh dia mengerjakan startup serupa yang sesuai keinginannya. Dan ternyata keputusan saya tepat karena beberapa bulan kemudian co-founder saya terlibat tindakan kriminal yang menyebabkannya masuk penjara.

 

  • Mendapatkan Dumb Money Investor

May 2012, one lesson learnt, another trouble comes. Dari pelajaran sebelumnya, saya memutuskan bahwa saya harus memiliki full time programmer yang fokus hanya di startup ini, which means kita harus membayar gaji full time penuh selama minimal 1 tahun. Saya membuat business plan terperinci untuk biaya operasional 2 tahun(v), kebutuhan dana pun otomatis membengkak. Di antara biaya operasional itu, ada gaji founder sebagai CEO, co founder sbg CTO dan cofounder2 sebagai CMO, ada gaji full time programmer, gaji operasional hosting server dll, dan biaya marketing, di mana kalau ditotal kurang lebih sekitar 500 juta. Saya pitch ke beberapa teman kaya, dan nyantol lah satu orang pengusaha business offline yang ingin berinvestasi. Setelah melihat kebutuhan dana, dia minta semua bujet dipotong, di mana biaya yang dianggarkan hanya uang untuk gaji programmer selama 3 bulan ( tidak full time ), hingga terkumpullah dana 25 jt, dan kami sepakat untuk membagi saham dengan split (again), 30%, 20%, 20%, 20%(v). “Gak usah muluk – muluk yang penting jalan dulu! Ujar investor saya waktu itu”, ada benarnya juga sih, tapi tetap salah kalau hubungannya dalam pembagian saham, tapi nanti kita bahas.

Karena bujet gaji eksekutif dan marketing dihapus total, akhirnya saya pitch ke seorang pengusaha kapal dan mendapatkan dana tambahan untuk biaya marketing sebesar 40 jt, dengan adanya investor baru otomatis mendilusi porsi saham sebelumnya yang artinya angka saham mu akan berkurang (saat itu saya tidak mengerti akan ber-efek demikian), investor sebelumnya pun marah2 karena dia pikir porsi sahamnya adalah 20% until eternity (v), walaupun di business plan sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa ini adalah tahap garage funding, artinya akan ada seed funding, seri A, seri B dst, dan pastinya akan ada dilusi (tapi saat itu saya masih belum paham apa itu dilusi)

Long story short, akhirnya kami mencapai kesepakatan dan masing – masing investor setuju porsi saham terdilusi, tapi modalnya disetor perbulan sesuai kebutuhan ( tidak langsung di depan ). Lalu kami melakukan eksekusi, I felt quite happy and proud a little, but NOT SO FAST buddy…

Kemudian permasalahan muncul dari diri saya sendiri. Hell I’ve never run a company before!, memang saya punya pengalaman 5 tahun di industri jasa keuangan dan penjualan, namun  memimpin sebuah tim startup adalah pengalaman pertama buat saya, saya harus handle recruitment, marketing, accounting, product development, legal mostly – myself (v).

Dan akhirnya saya minta bantuan investor saya untuk handle recruitment karena saya pikir dia lebih berpengalaman, saya minta pendapat dia dalam pengambilan keputusan dan bagaimana cara memimpin tim, hingga pada suatu saat dia jengah dan bersikap “i pay you, i give you money, you should know what you’re doing, and you should figure out everything yourself!” , saat itu rasanya pengen nangis karena saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kondisi diperburuk dengan CMO yang tidak komitmen karena side project dia yang bejibun(v) dan startup kami terbengkalai tidak mencapai target pre user acquisition yang seharusnya.

Investor pertama mutung dan menghentikan funding bulanannya (v), dana untuk programmer tersubsidi dari investor kedua serta dana pribadi (porsi saham tambah acak adut), hingga  kemudian investor pertama meminta dana yang telah dikeluarkan agar dikembalikan secara utuh(v).

Saya merasa sangat sedih namun merasa ada yang tidak pas dengan sikap investor pertama, hingga mendapatkan wangsit dari google dan berbagai buku, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Founder tidak perlu membuat business plan terlalu rinci karena hanya akan membuang waktu.
  2. Jangan pernah merekrut half-assed-comitted-founder, founder demikian hanya akan memberikan half-assed-value!. Cari founder yang mau FOKUS, kalau tidak ada uang, gunakan metode Dynamic Equity Split (nanti dijelaskan dibawah), jangan Fixed Equity Split, fixed equity split akan menyulitkan kalau co-founder tidak perform dan ingin dikeluarkan dari tim.
  3. Investor tidak fair dalam pembagian saham di awal karena dia tidak turut andil dalam operasional harian, meminta porsi saham cukup besar, dan meminta exit dengan full liquidity ketika bisnis kacau.
  4. Kenapa tidak fair, karena seluruh tim telah sepakat dan berkomitmen ( CEO, CTO, CMO, investor ) untuk menciptakan suatu produk yang belum tentu berhasil, dengan mengorbankan OPPORTUNITY COST masing – masing, tanpa kompensasi gaji. (Opportunity cost artinya, tim seharusnya bisa mendapatkan pendapatan ditempat lain, namun tidak bisa karena harus fokus di startup, opportunity cost saya 15jt perbulan, menjadi 0 perbulan tanpa kompensasi apapun di startup)
  5. Ketika modal telah disetor, dan komitmen adalah saham, maka investor harus tahu bahwa modal tidak akan kembali kecuali perusahaan menciptakan value terlebih dahulu. Seluruh tim saat ini sedang dalam kondisi merugi ( opportunity cost yg belum kembali ), tapi investor dengan enaknya menarik diri dari komitmen, dan meminta eksekutif mengembalikan uang secara penuh.
  6. Pengembalian uang secara penuh hanya memungkinkan jika komitmen di awal adalah hutang piutang, dan dapat ditagih ketika jatuh tempo.
  7. Opportunity cost eksekutif yang tidak dikompensasi gaji ( gaji bisa dibuat minimal, tidak harus sama dengan opportunity cost), seharusnya diperhitungkan sebagai modal disetor, dan otomatis akan mendilusi saham investor, ini adalah resiko buat investor yang tidak mau tau dan terlibat dalam operasional sehari – hari.
  8. Metode tersebut namanya Dynamic Equity Split ( mulai canggih bahasanya )
  9. Pada dasarnya keseluruhan masalah adalah karena cacat komitmen dari semua pihak, co-founder dengan sidejob nya, investor stop komitmen funding yang membuat cashflow berantakan.
  10. Dear fellow founders, ketika bisnis sudah menggunakan uang (orang lain), gunakan agreement hitam diatas putih, dan kukuhkan kepemilikan saham dengan badan hukum berupa PT ( Perseroan Terbatas ). Badan hukum bukan cuma buat gaya – gaya an, buat dipinjem namanya ketika ada tender, BUKAN, badan hukum adalah kendaraan investasi yang melindungi komitmen, hak dan tanggung jawab para pemegang saham!

Well, at least itu cerita saya selama merintis startup, startup saya belum sukses, belum, masih struggle untuk launching sampai sekarang karena kekurangan dana, tapi saya tidak akan menyerah, saya tahu satu fitur simpel ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat orang banyak, saya selalu bermimpi menjadi seperti Thomas Alfa Edison, dan saya yakin startup ini dapat mewujudkannya. Inti dari cerita saya teman – teman, jangan ulangin kesalahan yang telah saya perbuat, ingat, never choose a half-commited co-founder, and never take dumb money investor!!

Sampai jumpa dan TETAP SEMANGAT !!

 

Referensi buku wangsit saya

  1. Slicing Pie – Funding your company without fund
  2. Venture Deals – Smarter Than Your Lawyer & Venture Capitalist
  3. The Lean Startup
  4. Rework
  5. The Millionaire Fastlane
  6. Startupbisnis.com 

 

Baca juga :