Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Contoh Business Model Generation untuk Online Store Busana Muslim : Menggunakan Customer Empathy Map

Posted by & filed under Ecommerce, Featured.

Business-Model-Canvas

Di postingan berseri ini saya akan membagikan sedikit ilustrasi tentang contoh business model generation, lebih detil lagi tentang cara menggunakan emphaty map.

Dalam contoh ini saya menggunakan contoh online store untuk busana muslim. Contoh yang saya berikan belum tentu tepat karena saya bukan pelaku usaha busana muslim.

Mulai dari Customer Empathy Map

Produk yang Anda punya harus mensolve sebuah problem.

Produk yang Anda punya harus mem-fill gap yang ada di market, misalnya gap antara demand/needs dan ketersediaan produk.

Seorang inventor di Jepang, Dr.Nakamatsu meng-invent “flying shoes” yaitu sepatu yang punya pegas di bawahnya untuk membantu orang melompat lebih tinggi dan lebih jauh.

Tetapi invention ini tidak terjual dengan baik.

Kenapa ?

Karena manusia tidak memiliki masalah untuk melompat lebih tinggi (sudut pandang lain mengatakan : menggunakan flying shoes tidak seasyik menggunakan sepatu roda).

Sekarang bagaimana kita bisa menemukan gap yang ada di market ? Bagaimana kita bisa menemukan sebuah problem untuk kita solve ?

Gunakan customer emphaty map.

Customer emphaty map ini memiliki banyak manfaat, nantinya juga akan mempengaruhi value proposition brand Anda.

Customer Empathy Map

Customer Empathy Map

Bagaimana cara menggunakan customer empathy map ?

Ambil kertas dan buatlah gambar seperti di atas dan isi pertanyaan sebagai berikut :

Misalnya, Anda sebagai pemilik online store busana muslim, Anda seorang perempuan berusia 23-30 tahun dan memutuskan orang-orang yang seperti Anda adalah target marketnya, yaitu perempuan berusia 23-30 tahun dengan Social economic status B dan A atau kalangan menengah atas.

  • Apakah “Pain” atau kesulitan yang dihadapi oleh target market Anda ? Mungkin saja : Kegalauan karir, galau buka usaha, cari jodoh, membahagiakan orang tua.
  • Apakah “Gain” atau cita-cita mereka ? Mungkin saja : Ingin sukses, ingin lebih cantik, ingin kerja mapan, punya suami mapan, hard working tapi tetap fashionable.
  • Apa saja yang mereka lihat ? Mereka memfollow orang-orang “seperti mereka” yang memiliki influence lebih besar di Twitter, seperti Salsabeela, mereka juga suka memfollow akun-akun positif yang mengandung motivasi di Twitter. Kenapa mereka memfollow orang-orang ini? Apa ekspektasinya ? Mereka biasa belanja jilbab secara offline dan online di mana saja ?
  • Apa yang mereka pikir dan rasakan ? Apa saja yang benar-benar penting untuk mereka ? Oke kalau mereka ingin sukses, definisi sukses itu seperti apa ? Apakah produk saya relevan kalau membantu mereka untuk sukses ?
  • Apa yang mereka dengar dari teman, boss dan influencer mereka ? Mungkin saja mereka selalu dikejar deadline dari bos mereka di kantor ? influencer mereka selalu mengajak jadi entrepreneur tetapi tidak pernah benar-benar memberitahukan dengan detil caranya.
  • Apa yang mereka katakan dan lakukan ?  Mereka selalu terlihat dan memiliki kepribadian yang anggun di public sesibuk apapun pekerjaan mereka.

Nampaknya memang seperti pertanyaan random, tetapi benar-benar bisa membantu Anda menemukan gap yang ada di market apabila Anda pikirkan dengan mendalam.

Karena itu kami selalu menyarankan Anda untuk makan, minum, tidur di niche yang Anda target (tapi pastikan juga niche nya ada duitnya) jika Anda memiliki obsesi yang cukup maka Anda akan senantiasa menemukan insight yang valuable untuk mengisi gap yang ada.

Dari jawaban pertanyaan di atas, lakukanlah pengecekan apakah produk sejenis di market sudah memenuhi kebutuhan mereka, adakah gap yang bisa Anda isi ?

Bagaimana kira-kira hasilnya ?

Target customer saya ingin melihat banyak hal (karir, fashion, motivasi, relationship) dari sudut pandang seorang yang menggunakan jilbab, yang memiliki value islami, perempuan yang anggun, rukun dsb.

Tetapi online store lain nampaknya hanya sekedar jualan busana muslim di internet kemudian berlomba menjadi nomor 1 atau page one di Google. Anda sendiri tidak terlalu bisa SEO, website Anda pun dibuatkan orang lain, Anda tidak mengerti programming, anda hanya bisa menulis.

Sebagai founder non teknikal yang tidak mengerti teknis Search Engine Optimization, Anda bisa melihat di market belum banyak online store yang memposisikan diri untuk memperkuat movement yang ada, melalui online content yang memiliki kredibilitas tinggi dan bersifat “open” artinya yang menjadi expert dalam content Anda bukan cuma diri Anda sebagai founder tetapi juga para industry influencer hijabers yang relevan.

Don’t just sell. Make a movement.

Saya bukan pengamat busana muslim, saya tidak pakai jilbab dan tidak tahu pasti apakah insight di niche jilbab yang saya berikan di atas benar atau tidak, tetapi nampaknya Hijup.com mengeksekusi insight di atas dengan sangat baik.

Lihatlah blog dan social network mereka yang semuanya berawal dari customer empathy map :

http://hijupblog.tumblr.com/

http://www.facebook.com/HijUpcom

http://www.youtube.com/user/HijUpCom

http://statigr.am/hijup

Saya masih ingat tahun lalu saya mampir ke kantor mereka di Mampang, Zaky dan istrinya, Diajeng masih ada di kantor jam 8 malam (mereka bilang biasa di kantor sampai jam 9 malam, yang mengingatkan saya pada tweet ini), di kantornya yang kececeran banyak buku tentang bisnis dan ecommerce kami membicarakan content strategy Bukapak, waktu itu  Hijup baru berusia 1-2 bulan dan sudah memberikan revenue lumayan dengan team member hanya 1-2 orang.

Sebenarnya, saya cukup surprise dengan willingness mereka menjalankan content strategy untuk ecommerce seniat ini.

Saat ini Hijup sudah berusia 1 tahun lebih, Achmad Zaky akan membagi pengalamannya menjalankan online store dalam acara Startupbisnis workshop ecommerce for UKM hari Sabtu tanggal 30 Maret 2013 di acara ini saya sendiri akan membagi topik marketing for online store. Sampai bertemu tanggal 30 Maret nanti.

Don’t just sell. Make a movement.