Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Denny Santoso, Pebisnis Muda Yang Tidak Pernah Menjadi Karyawan

Posted by & filed under Blog.

13104_10151521698408755_330872024_n

Editorial notes : Artikel tentang Denny Santoso (Founder Duniafitnes, Storigraph, Startupbisnis, Beautiplan) ini pertama kali muncul di PortalHR.com.

 

Mencapai puncak karir tidak harus menunggu usia senja. Di usianya yang baru beranjak 33 tahun, Denny Santoso sudah sukses menjadi Founder dan CEO PT Jaya Sportindo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang supplemen kesehatan. Kepada PortalHR, Denny yang kami temui beberapa hari yang lalu mengaku semangat bisnisnya sudah dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMA.

Denny menceritakan awal ia berkecimpung di dunia bisnis adalah di saat games sedang booming di sekolahnya. Ia terpikir untuk menjual CD games kepada teman-temannya di kelas, karena permainan itu sedang banyak digemari. “Ya lumayanlah, saya jual ke teman-teman bisa dapat untung 10%, untungnya bisa saya pakai untuk main games lagi,” imbuhnya sambil tersenyum.

Pria kelahiran Malang ini akhirnya menjadi ketagihan menjalani hobby berbisnisnya. Selepas lulus dari kampus STIKI Malang, Denny malah tercebur ke dalam hobby barunya yaitu nge-gym. Dari sana ia menjadi aktif mengkonsumsi suplemen kesehatan. Bukan Denny bila tidak bisa mencuri peluang. “Karena suplemen itu hanya ada di Surabaya, dan saya tinggal di Malang. Kami jadi kesusahan membelinya. Saya memutuskan untuk membelinya melalui internet. Dan teman-temannya jadi titip beli ke saya,” kenang Denny.

Kini perusahaannya telah menjadi distributor resmi di Indonesia untuk produk supplemen asal Farmington, Connecticut, USA. Padahal dulunya ia masih menjual produknya itu dari pintu ke pintu. “Selama 2 tahun, saya keliling sendirian. Saya marketing sendiri, packaging sendiri dan anter sendiri,” cerita Denny. Sampai akhirnya di tahun 2003 ia memutuskan memakai jasa seseorang untuk membantunya mengemas produknya.

Denny mengaku edukasi adalah hal yang diperlukan untuk mendapatkan perhatian market. “Saat itu market saya belum sebesar sekarang. Untuk itu saya membuat majalah yang kita bagikan ke tempat fitnes,” ujar Denny. Majalah yang digratiskan itu ia tujukan untuk mengenalkan produknya kepada customer. “Orang tidak akan membeli suplemen mahal-mahal, kalau mereka tidak mengerti itu untuk apa. Oleh karena itu, kita edukasi, kita beri informasi melalui majalah yang tidak dijual,” ujar Denny.

Denny mengaku sangat terbantu dengan perkembangan teknologi saat ini. Menurutnya kemudahan akses internet tersebut seharusnya dimanfaatkan CEO untuk pengembangan produk perusahaan. “Untuk memudahkan konsultasi customer, saya aktif memberikan panduan diet dan lain-lain di blog pribadi saya,” ujar Denny.

Kalau jadi Karyawan, Tidak Bisa Tidur Siang

Puluhan tahun bergelut untuk mengembangkan bisnisnya, rupanya sosok yang baru menikah tahun lalu ini baru mengenal business model setahun belakangan. “Saya memang suka bisnis dari dulu, dan saya terbiasa learning by doing,” ujar Denny. Menurut Denny business model itu hanya dugaan dan prakiraan CEO. “Yang namanya business model itu hanya guesswork. Semua yang digambarkan di kerangka kanvas itu adalah dugaan si owner,” jelas Denny. Yang mesti ditekankan di bisnis adalah aksinya. “You need to validate it with going out and meet your customer,” ujar Denny.

Yang menarik, Denny mengaku tidak pernah mencicipi menjadi seorang karyawan. “Saya belum pernah mencicipi menjadi employee. Pernah menjadi freelance, itupun karena bisa tidur siang,” ujarnya sembari tertawa. Meski begitu, Denny sangat serius dalam hal mengurusi karyawan. “Kita nilai mereka dari performance setiap individu. Maksudnya, reward yang kita berikan kita nilai secara objektif dan merata,” ujarnya.

Pembagian bonus setiap bulan kepada karyawannya ia bagikan berdasarkan jenjang dan prestasi individu. Hal itu untuk menyelaraskan pembagian bonus dengan benar. “Kita kan tidak bisa menyamakan reward untuk staff dan manager, semua ada ukurannya,” ujar Denny.

Untuk me-manage karyawan yang ‘bandel’ biasanya Denny menentukan dulu tujuannya dari awal. “Kita jangan selesaikan berdasarkan emosi, tetapi menentukan dulu apa yang harus kita lakukan untuk orang ini,” lanjut Denny. Menurutnya jika orang tersebut masih bisa dibentuk, maka kita berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. “Namun jika tim kita sudah mempunyai data yang menguatkan untuk memberhentikan ia, maka tidak perlu debat, pecat dan selesai,” ujar Denny.

Namun hal itu ia akui sangat jarang ditemui di bisnisnya. “Turn-over di tempat kita hampir tidak ada. Menurut saya every people is unique. Kita tidak bisa retain secara general,” ujarnya. Untuk memberikan semangat yang sama kepada karyawannya, ia terbiasa menjalankan bisnisnya dengan rasa kekeluargaan. “Saya selalu tekankan kepada mereka  bahwa ini adalah family business. Ini bukan corporation. Semua orang mempunyai hak untuk didengar,” ujar Denny.

Saat ditanya apa yang membuat karyawan loyal di perusahaanya, ia menjawab kuncinya adalah komunikasi. “Kita ngobrol dengan mereka, not all about money, digaji besar belum tentu mereka loyal. Tetapi kita lebih ke arah pendekatan. Mereka semua butuh diperhatikan,” ujar Denny.

Pentingnya menyatukan tujuan dan mendengarkan keluhan juga salah satu hal yang perlu dilakukan leader. “Dalam start-up memang perlu mindset yang agak keras, tetapi bila kita benar memberikan penjelasannya, mereka akan merasa sebagai bagian dari keluarga perusahaan ini,” pungkas Denny tegas. (*/@nurulmelisa)