East Venture Alpha : Graduate’s Testimonials (Part 1)

Posted by & filed under Startup.

Editor’s note : Guest post ini ditulis oleh Arnold Nugroho (Founder BuzzleMall), Handri Pangestiaji (Founder Promoote) dan Hapsari Muthi Amira (Founder Whappa Games), ketiganya adalah graduates dari East Venture Alpha, yang merupakan program inkubasi 100 hari dari East Venture. Sumber Gambar : TechinAsia

 

Arnold Nugroho, CEO Buzzle Mall

Hi! Saya Arnold, CEO dari Buzzle Indonesia. Saya dan kedua teman sekaligus kolega saya di kampus, David Soendoro dan Gerard Edwin mendirikan Buzzle Indonesia setelah mengikuti inkubasi dari EV Alpha. Produk kami bernama BuzzleMall, sebuah aplikasi mobile yang berperan sebagai asisten anda saat berada di Mall.

Latar belakang dari pembuatan aplikasi BuzzleMall adalah kondisi pusat perbelanjaan di Indonesia yang jauh berbeda dengan negara lain. Di Indonesia, toko-toko berkelas selalu berada di dalam Mall. Fakta juga menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota dengan jumlah Mall terbanyak di dunia (lebih dari 130 Mall). Kondisi inilah yang meyakinkan kami untuk membuat BuzzleMall.

Fitur utama yang ada di BuzzleMall adalah : Direktori dan Navigasi. Dalam direktori, kami memberikan informasi ter-uptodate tentang promo-promo dan daftar toko di Mall tersebut. Setelah user menentukan promo/toko yang ia ingin tuju, kami memberikan arahan step by step untuk sampai ke sana melalui fitur navigasi kami.

What is your driver to become entrepreneur?

Saya ingin berdampak, memiliki efek (yang positif tentunya), berperan bukan hanya untuk kehidupan saya sendiri tapi juga untuk orang lain. Hal ini saya rasa hanya dapat saya capai secara optimal melalui 3 cara : jadi ulama agama, politikus, atau pengusaha. Saya pilih cara ketiga.

Kenapa ikut east venture alpha?

Saya mengikut program inkubasi ini langsung setelah saya lulus dari Teknik Informatika ITB. Waktu itu, sebetulnya saya lagi gencar-gencarnya untuk mendaftar di perusahaan-perusahaan.Tetapi, suatu  hari teman baik saya sekaligus co-founder Buzzle Indonesia, David, menawarkan saya untuk mengikuti program ini dengan dia. Setelah saya pikir-pikir, ini adalah kesempatan bagus. Mumpung ada yang membimbing, kenapa tidak langsung saja jadi entrepenuer?

Apa saja kesan secara general, apakah ev alpha memotivasi kalian? kenapa?

Terus terang, saat saya masuk program inkubasi ini, saya tidak tahu apa-apa mengenai dunia start-up. Saya benar-benar merasa menjadi alien di dunia ini. Saya cuma berbekalkan ilmu pengetahuan programming dari perkuliahan. EV Alpha lah yang menjadi “tour guide” mengenai dunia yang baru saya kenal ini. Kata “memotivasi” mungkin lebih tepat jika diganti menjadi “membimbing”. EV Alpha membimbing saya untuk melakukan apa yang saya lakukan sekarang.

Advice apa yang didapat terkait product dan product sekarang pivotnya sejauh apa dibandingkan ide awal

Kesalahan utama dalam pembuatan BuzzleMall adalah menganggap bahwa membuat produk itu mudah. Saya pikir dulunya ketika program itu jadi, maka 60% perjalanan sudah ditempuh. Ternyata tidak, 10% pun belum dilalui. Implementasi produk ke masyarakatlah yang menjadi permasalahan utama. Sudah berbagai ide yang sebetulnya sudah selesai kami implementasi secara program tetapi pada akhirnya tidak terpakai karena gagal untuk diimplementasi secara bisnis.

Advice apa yang didapat terkait team building atau founders team

Setiap tim founder harus memiliki tujuan bersama dimana setiap anggotanya berkomitmen untuk berusaha sepenuh hati mencapai tujuan tersebut. Karena membuat start-up itu tidak mudah dan butuh kerja keras. Kalau tidak ada komitmen untuk tujuan bersama, founder pasti akan tergoda oleh opsi lain yang mungkin lebih menguntungkan dirinya sendiri. Alhasil, kita akan kehilangan aset perusahaan kita yang paling berharga. Ataupun jika tidak kehilangan, mereka akan berusaha setengah hati. Skill atau ilmu masih bisa dipelajari, tetapi komitmen dan passion bagaimana cara menumbuhkannya?

Advice utk anak2 muda yang baru mau mulai startup

Advice utama yang bisa saya berikan berdasarkan pengalaman saya adalah carilah pembimbing yang baik. Banyak hal di dunia start-up yang tidak kita ketahui, carilah orang-orang yang memang sudah makan asam garam di sini.

 

Handri Pangestiaji, Founder Promoote

Hi Saya Handri, bersama 3 teman Saya yaitu: bayu raharjo, ihsan rama dan Andri Setyawan, kami membuat Promoote.

Promoote adalah situs pencarian dan penyedia informasi layanan lokal di sekitar Anda, yang membantu Anda untuk menemukan layanan lokal terpercaya di dekat Anda. promoote mencoba untuk menyelesaikan masalah kesulitan dalam mencari sebuah layanan lokal / jasa yang dapat dipercaya. ketika Anda ingin menggunakan jasa sebuah supir atau guru les gitar, Anda tidak perlu bersusah payah untuk mencari di segala tempat. buka promoote.com dan temukan usaha jasa supir atau guru les gitar sesuai lokasi yang Anda inginkan.

What is your driver to become entrepreneur ?

menurut pendapat pribadi saya, saya belum pantas untuk dibilang sebagai entrepreneur karena masih banyak hal yang harus saya lalui dan buktikan agar menjadi seorang entrepreneur.  tapi alasan kenapa saya mencoba hal ini, karena “kebebasan”, kebebasan ini dalam arti bebas melakukan sesuatu yang positif dan melakukan sesuatu yang baru bagi saya itulah alasan kuat saya kenapa saya mencoba untuk menjadi seorang entrepreneur. bahkan tidak terbatas pada apa yang saya lakukan itu selalu benar, terkadang apa yang saya lakukan itu pasti salah. seperti dalam sebuah kutipan dari fisikiawan Albert Einsten “Anyone who has never made a mistake has never tried anything new“, kutipan ini yang selalu saya pegang dalam saya menjalani hidup saya sekarang ini.