East Venture Alpha : The Story (Part 2)
Dulu saya kira, membuat bisnis internet itu hanya coding saja, setelah produk selesai, duduk senyum-senyum, produk terjual. Ternyata tidak begitu
Apakah merasa impiannya dibantu diwujukan oleh EV Alpha ?
Arnold : Saya selalu memiliki impian menjadi technology entrepreneur karena dengan menjadi entrepreneur, saya merasa memiliki dampak lebih lebih besar kepada orang banyak, kalau tidak dibimbing EV Alpha ya saya tidak tahu sama sekali cara mewujudkan impian saya, bagaimana jalannya mewujudkan impian saya menjadi entrepreneur di bidang teknologi, benar-benar tidak tahu sama sekali, EV Aplha memberikan kita gambaran jalan seperti apa yang harus ditempuh.
Dulu kepikirannya untuk buat bisnis internet itu coding. Pokoknya 80% itu isinya coding, kalau produk selesai tinggal duduk-duduk senyum-senyum tau-tau produk terjual. Ternyata tidak, dulu memang karena tidak ada pengalaman sama sekali di startup, mana berani memulai sesuatu yang kita blank. Dulu kepikirannya jadi karyawan dulu untuk belajar lalu jadi entrepreneur, tetapi dengan dibimbing di EV Alpha seperti ini ya kenapa tidak dicoba dulu, apakah bisa dalam kondisi tidak ada pengalaman seperti ini dengan bimbingan EV Alpha, bisa untuk membangun bisnis teknologi.
Handri : Idem. Flashback sedikit, sebelum masuk EV Alpha, ide saya adalah Chronoz, sinkronisasi HP dan gagal total karena saya tidak tahu kemampuan saya sendiri sampai sejauh apa, saya terlalu fokus pada ide yang menurut saya hebat, belum ada yang punya dan direspon bagus oleh teman-teman di mailing list, saya coba bawa ide ini, saya cari investor di salah satu incubation berbayar dan … gagal total, sampai beberapa bulan di sana dan tidak maju-maju. Karena saya butuh uang untuk hidup sehari-hari akhirnya saya balik lagi mengerjakan project outsource dan hilang fokus dari startup.
Sampai suatu hari saya dapat ide Promoote ini, saya berpikir, apakah akan seperti dulu lagi ? sempat pesimis awalnya tidak akan jalan, ya sudahlah saya sharing-sharing saja ke teman-teman, saya punya ide ini, kalau kamu mau jalankan, silahkan. Karena ini kesulitan saya juga untuk mencari service.
Suatu hari saya lihat iklan EV Alpha, apalagi dibantu pendanaan juga, sehingga bisa fokus, akhirnya saya coba dan beruntung bisa masuk, setelah masuk pun saya harus menerima kenyataan bahwa ide saya belum sempurna, banyak masukan dari mentor yang meng-improve Promoote menjadi seperti sekarang, sekarang pun belum sempurna dan masih banyak improvement.
Awalnya tidak terpikir bahwa EV Alpha akan memberikan inputan yang bagus banget, awalnya saya hanya ingin bisa fokus ke product dengan adanya pendanaan.
Kami ber-3 sempat melalui sebuah diskusi yang sangat serius dan emosional, dimana kami ber-3 berjanji memberikan komitmen untuk bersama-sama bekerja keras bagi Buzzle Mall
Ada kekuatiran produknya gagal ? Seperti apa komitmen tim kalian ?
Arnold : Pasti ada kekuatiran kalau produk kami gagal, karena kami semua masih muda, tetapi ya kami coba saja yang terbaik, pasti ada jalan-jalan yang bisa ditempuh. Kami ber-3 sempat melalui sebuah diskusi yang sangat serius dan emosional, dimana kami ber-3 berjanji memberikan komitmen untuk bersama-sama bekerja keras bagi Buzzle Mall, David yang punya ide awal untuk ikut EV Alpha, mengatakan bahwa Buzzle Mall adalah produk awal yang nantinya menjadi perusahaan yang bisa menjadi wadah bagi talent-talent teknologi terbaik di Indonesia.
Kami tidak ada jam kerja, tapi adanya jam online, karena co founder saya sulit hadir bersama kami secara fisik karena lokasi berjauhan tapi kami komitmen selalu bisa dihubungi lewat online.
Handri : Sebelum masuk Promoote saya ikut kerja dengan dosen saya, yaitu Bayu (Co Founder Promoote), saya banyak sharing passion startup dan ide dengan beliau, sampai suatu saat menemukan EV Alpha dan kenapa tidak kami coba saja. Setelah masuk EV Alpha, kami bingung juga karena kami berdua orang teknikal dan tidak bisa desain, akhirnya kami ajak teman yang designer dan sedang bekerja di tempat lain, bahkan dia keluar dari pekerjaan untuk bergabung dengan kami.
Ada ketakutan setelah Demo day, kita ngapain ? Apakah EV Alpha akan lepas tangan ? Ternyata EV Alpha tidak lepas tangan dan tetap membantu kita.
Kami bersama-sama membuat komitmen untuk bekerja keras, kami bekerja tanpa jam kerja, asal progressnya kelihatan, misalnya kami pagi ngobrol lalu sore atau besok paginya memberikan progress report di internal tim Promoote, lalu seminggu atau dua minggu sekali memberikan progress report ke Peter.
Apa harapan Peter dan EV Alpha ke depannya ?
Peter : Ke depannya saya ingin bertemu talent-talent yang bagus, memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat. Kami ingin mereka bergabung untuk bersama-sama membantu mewujudkan impian mereka




