@HootSuite_ID : How Culture Attracts Talent, Coffee Chat Bersama @Stephawie (Part 2)
One hug at a time
Apa filosofi dari VP Community di HootSuite?
“One hug at a time”. Artinya, kita menghargai setiap orang, siapapun itu. Tidak melihat follower-nya berapa banyak, tidak melihat sering pakai HootSuite atau tidak, tetap kita celebrate sebagai “a part of HootSuite”. Sebenarnya dia dulu adalah Director of Marketing di HootSuite, tapi personalitasnya lebih ke arah “casual”, lebih santai. Sehingga daridulu dia sudah sadar bahwa komunitas-komunitas itu penting banget untuk HootSuite. Pertama kali komunitas yang diluncurkan adalah untuk Jepang. Karena dia sempat tinggal di Jepang beberapa lama. Setelah lama bekerja dengan status “setengah Community” dan “setengah Marketing”, akhirnya Community dan Marketing dipisahkan. Karena Marketing lebih untuk yang berbayar, sementara Community lebih untuk yang gratisan. Sebenernya di Community natural aja, kalau memang pada dasarnya orang itu sudah suka hura-hura dan ngobrol-ngobrol, it comes naturally.
“Ability to laugh”
Apakah culture di kantor itu bisa menarik talent? Dan seperti apa pendapat talent-talent tersebut terhadap HootSuite?
Talent itu memang sangat penting, dan itu yang kita cari setiap menarik talent baru. Job description yang ada di official website HootSuite sudah tertera hint bahwa kita harus punya skill “ability to laugh”. Maksudnya adalah culture kita tidak terlalu formal, tapi casual. Kalau saya dulu, ada syarat untuk “tidak boleh takut dengan burung hantu dan anjing”.
Menurut saya culture itu penting banget, makanya sekarang bisa kangen sama kantor karena orang-orangnya asik-asik semua, dan culturenya dijaga banget. Accountant disana bisa merubah opini saya tentang “accountant”. Yang tadinya saya pikir accountant itu orangnya serius banget, ternyata ada yang bisa casual kayak dia. Dia tadinya kerja di perusahaan accountant biasa, tapi dia merasa bosen karena tiap hari kerjanya statis banget. Dan ketika dia masuk HootSuite, dia langsung suka banget karena dia bisa jadi diri sendiri. Jadi, enaknya di HootSuite adalah kita bisa jadi diri sendiri ketika kerja, tidak dipaksa harus begini-begitu, yang penting deadline tercapai semuanya.
Tempat kerja di HootSuite sendiri tidak ada sekat (cubicle). Kebanyakan startup-startup lain juga tempat kerjanya tidak ada sekat, karena mereka mengembangkan kreatifitas dan inovasi.
Menurut Stephanie, Ryan Holmes itu tipe yang seperti apa?
Ryan Holmes itu meskipun CEO, tapi tidak terlihat seperti CEO lainnya karena dia sangat dekat dengan karyawan-karyawannya. Biasanya antara CEO dengan bawahannya kan rasanya jauh kayak ada gap, tapi kalau Ryan Holmes ini tidak. Kalau di kantor dia suka duduk menggunakan Yoga Ball, katanya biar lebih tegak. Waktu itu dia juga pernah dapet Indoboard (papan untuk berdiri tegak, rada aneh juga sih namanya ada “Indo”nya :s ), dan ekspresinya seneng banget ketika dapat itu.
Pernah suatu ketika, saya bersama karyawan HootSuite yang lain pergi makan-makan di sebuah Restoran, dan kebetulan ada Ryan Holmes yang lagi meeting disitu. Kita cuma “say Hi” ke dia. Dia melihat kita sedang merayakan ulang tahun salah satu karyawannya. Ternyata ketika mau bayar, udah dibayarin sama dia. Terus kita tepuk tangan di restorannya. Kita tidak bilang “thank you”, kita cuma tepuk tangan aja.
Tepuk tangan di HootSuite terkenal karena “Clapping Owl”. Di kantor, kita sering tepuk tangan dari ujung ke ujung, tanpa tahu kita tepuk tangan karena apa. Asalkan ada satu yang tepuk tangan, semuanya ikut tepuk tangan. Waktu itu ada intern yang nanya, “why we’re clapping?”. Dan jawabannya malah, “You don’t ask, you just clap! That’s one rule”.
Ryan Holmes memang dekat dengan karyawan-karyawannya. Setiap kali ada acara, dia tidak membedakan diri dia dengan yang lainnya. Dia juga hidupnya sederhana banget. Ke kantor jalan kaki, sementara saya naik mobil. Makanya setiap ketemu dia di jalan rasanya malu sendiri, saya yang hanya karyawan naik mobil, dia sebagai boss malah jalan kaki. Dia juga satu apartemen dengan beberapa karyawannya, ada yang pernah mampir ke apartemennya dan bilang kalau ternyata apartemennya kecil banget. Ketika jalan-jalan ke manapun dia juga tidak terlihat seperti seorang CEO dan dia hanya berpakaian rapi ketika ada interview.
Untuk masalah target, kalau tidak tercapai, apakah Ryan Holmes akan marah kemudian memakan karyawannya ?
Sebenernya itu tergantung dari tim-timnya sendiri. Untuk mengelola target kami pakai tool 7geese. Jadi semua tim dianjurkan membuat account di 7geese, untuk menuliskan goal apa saja yang ingin dicapai. Dari situ bisa dipantau goal dari masing-masing tim. Dan ini bisa dishare untuk beberapa orang. Jadi, account saya di 7geese ini berisi list komitmen-komitmen yang saya buat. Kalau ini tidak tercapai, saya sendiri yang malu. Selain itu, di sini kita juga bisa dapat badge penghargaan, misalnya badge team work dapet dari siapa aja. Jadi Ryan Holmes bisa memantau dari sini, dan setiap minggu juga dia mengadakan meeting dengan team departmentnya.
Talent yang masuk ke HootSuite biasanya tertarik karena apa saja?
Yang saya tahu, kebanyakan karena culturenya. Dan HootSuite juga lagi booming di Vancouver, Canada. Sehingga ketika HootSuite mengumumkan sedang mencari talent baru, orang-orang langsung tertarik. Di daerah sana juga banyak yang di-lay-off dari perusahaan lain, sehingga mereka mencari kerja ke HootSuite. Dan HootSuite sendiri menganjurkan para karyawannya memberi rekomendasi teman-temannya untuk bergabung ke HootSuite. Jadi, para talent dari hasil rekomendasi itu biasanya punya nilai lebih, daripada talent yang apply sendiri. Untuk beberapa departemen, biasanya di awal masuk dijadikan sebagai intern dulu. Dari intern itu, nantinya bisa ditarik menjadi karyawan, bisa juga tidak. Jadi, proses seleksi biasanya dari situ juga.
Ada lagi hal yang menarik di HootSuite?
Ada salah satu user HootSuite, namanya Davey Bean. Dia cacat sejak kecil, tidak bisa menggerakkan tangannya, hanya 1 jari yang bisa digerakkan. Meskipun dengan keterbatasan fisik seperti itu, dia termasuk salah satu user yang aktif menggunakan HootSuite. Dia mempunyai alat khusus yang menghubungkan handphonenya dengan jarinya itu sehingga dia bisa mengetik. Kita sempat menemui dia, dan memberikan beberapa souvenir sebagai ucapan terima kasih karena telah menggunakan HootSuite dalam kondisinya yang seperti itu.
Selain itu ada juga yang namanya Rian yang tinggal di Houston. Dia tuli, dia sangat ingin mendengarkan HootSuite Webinar tapi tidak bisa. Dari situ saya terinspirasi untuk membuat program HootSuite yang ditujukan kepada orang-orang cacat. Sementara dari kompetitor lain juga belum ada yang membuat program seperti itu, jadi kita mau membuatnya sebagai pioneer.
Stephanie Wonderlin, yaitu host-nya TweetHeart TV di Youtube. Dia salah satu dari “70 legendary women in social media”. Dia juga user yang aktif menggunakan HootSuite.
Apa harapan Stephanie untuk ke depannya?
Harapan saya dari setiap acara adalah adanya engagement, dan dapat memberikan pelajaran baru ke orang-orang. Ada HootSuite University dimana pelajarannya tidak hanya tentang HootSuite saja, melainkan juga tentang social media yang lainnya. Dan harapan lainnya, meskipun dia pengguna HootSuite atau bukan, saya ingin mengajarkan cara menggunakan social media yang lebih baik lagi. Karena orang Indonesia biasanya hanya suka ngobrol-ngobrol aja, tidak suka sharing konten atau artikel. Saya ingin setiap ada acara-acara seperti ini juga mengajarkan bagaimana cara untuk menaikkan personal branding mereka. Karena passion saya selain di community, juga di personal branding. Beberapa orang di Vancouver yang kenal saya, menganggap saya “true personal branding”.
Personal branding saya sendiri, saya menyebutnya “The Dandelion Theory”. Di mana bunga Dandelion itu selalu tumbuh di rumput tepi jalan, lalu dia berubah dari kuning menjadi putih, dan akhirnya menyebar. Saya ingin menjadi seperti dandelion itu, dimana tumbuh di kondisi normal, keep evolving, lalu berubah menjadi diri yang lebih baik lagi, dan spread the ideas.




