Kesalahan Paling Pertama yang Dilakukan oleh Banyak Founder Startup : Pembagian Saham Founder | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Kesalahan Paling Pertama yang Dilakukan oleh Banyak Founder Startup : Pembagian Saham Founder

Posted by & filed under Featured, Startup.

startup di indonesia'

Pembagian saham antar sesama founder adalah hal yang critical, banyak sekali founder yang melakukan kesalahan dalam hal ini. Kenapa saham saya 15%? kenapa dia 40% padahal saya bekerja dan berkontribusi lebih banyak? kenapa advisor yang cuma kerja beberapa jam sebulan tanpa invest uang dapat 10% ? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab- apalagi kalau telat disadari. Artikel ini ditulis oleh Noam Wasserman dan Thomas Hellmann untuk Harvard Business Review akan sangat bermanfaat untuk Anda. Noam Wasserman adalah penulis buku Founder’s Dilemma.

Sangat baik untuk menunda (pembagian saham), karena banyak hal yang belum diketahui dan terus berubah

Cofoundernya bahkan tidak keluar dari pekerjaan fulltimenya dan hanya memberi kontribusi dari pinggir lapangan

 

Founder menghadapi berbagai jenis keputusan yang harus diambil ketika membangun startup: market, produk, keuangan, dan banyak lagi. Membagi equity juga merupakan tantangan tersendiri, menurut penelitian kami, pembagian founder equity – cara para founder mengalokasi kepemilikannya di antara mereka sendiri ketika memulai perusahaan – juga memiliki perangkap unik tersendiri,

Sejak tahun 2008, kami telah mempelajari pembagian saham yang digunakan oleh lebih dari 3.700 founder dari lebih 1.300 startup di US dan Kanada. Penilitian juga mengambil basis dari Noam Wasserman (peneliti Harvard dan penulis Founder’s Dilemma) selama 15 tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa ide terbaik pun dapat goyah ketika tim founder mengabaikan untuk mempertimbangkan early decision tentang timnya: relationships, role dan reward yang akan membuat timnya menjadi winning team..

Disebutkan bahwa sebuah tim baru berhasil membagikan equity ketika semua cofounder sama-sama merasa tidak senang dengan kadar yang setara (equal). Sayangnya, ketidakbahagiaan founder malah menjadi lebih parah: persentasi founder yang mengatakan mereka tidak bahagia dengan pembagian equity telah meningkat sebanyak 2.5 kali seiring bertumbuhnya startup mereka. Meningkatkan ketidakpuasan di antara tim founder merupakan tanda utama bahwa turnover mungkin akan terjadi. Facebook. Seperti yang tergambar di film The Social Network, pembagian equity Mark Zuckerberg dengan Eduardo Saverin tidak berjalan baik. Usaha Mark untuk meminta kembali saham milik Eduardo berakhir di pengadilan – mungkin cerita ini bagus untuk memenangkan Academy Awards, tetapi tidak untuk bisnis, apalagi hubungan personal.

startup Indonesia

Kapan dan Bagaimana Membagikan Saham Founder

Tim yang berbeda memiliki cara pembagian sahamyang berbeda juga: beberapa melakukannya di awal, yang lain menunggu sampai mengenal satu sama lain, beberapa menentukannya dengan proses negosiasi, yang lainnya hanya dengan berjabat tangan dan selesai untuk urusan saham. Yang paling penting, beberapa membagikan saham sama rata untuk semua founder, yang lain menyimpulkan bahwa hasil yang adil sebenarnya adalah membagikan secara tidak rata yang menggambarkan perbedaan diantara setiap founder.

Robin Chase, cofounder Zipcar, perusahaan car-sharing, telah mendengar cerita mengerikan dari temannya tentang bagaimana negosiasi tentang equity founder telah menggoyahkan startup temannya. Bermaksud menghindari hal tersebut, Robin mengajukan ke cofoundernya pembagian 50/50 pada pertemuan pertama mereka, tepat saat baru saling mengenal secara pekerjaan. Cofounder segera berjabat tangan dan menerima pembagian 50/50. Robin sangat lega, karena mereka telah menghindari tekanan yang kerap dihadapi oleh perusahaan lain ketika melakukan negosiasi pembagian saham.

Di Smartix, Inc., startup yang membuat sistem pembelian tiket untuk tempat olahraga, founder mengadopsi cara pembagian saham yang sangat berbeda. Tim founder percaya bahwa “sangat baik untuk menunda (pembagian saham), karena banyak hal yang belum diketahui dan terus berubah.” Ketika mereka akhirnya membagikan saham, mereka melakukan pendekatan secara hati-hati, takut akan dampak yang akan terjadi ketika ada founder yang merasa sahamnya dibagikan secara tidak adil. Pada percakapan mereka, tim menggali kontribusi setiap founder di masa lalunya, peluang, preferensi, dan kontribusi yang diharapkan di masa mendatang. Mereka memutuskan untuk membagi saham tidak merata, di mana founder-CEO menerima dua kali saham lebih banyak dari pada cofounder dengan saham terendah.

Ketika founder membagikan saham lebih awal di saat pendirian perusahaan, mereka menghadapi berbagai ketidakpastian – tentang strategi bisnis mereka dan model bisnis, tentang peran mereka dalam tim, tentang apakah setiap founder akan berkomitmen terhadap startup-nya, dan banyak lagi hal yang tidak diketahui yang menjadi jelas ketika mereka menghadapinya. Hal-hal akan menjadi lebih tidak pasti bagi para cofounder yang tidak pernah bekerja bersama. Melewatkan pembicaraan serius tentang apa yang diinginkan oleh setiap founder mungkin lebih mudah dalam jangka pendek, tetapi tidak untuk kebaikan perusahaan dalam jangka panjang.

Langsung Lakukan atau Butuh Waktu untuk Mencari Tahu?

Robin Chase dari Zipcar yang secara langsung membagi equity 50/50 dengan partnernya tak butuh waktu lama menjadi gamang dengan keputusan “quick handshake”. Dia tidak pernah bekerja dengan cofounder-nya sebelumnya, dan telah membuat beberapa asumsi tentang seberapa baik mereka bekerja bersama, kemampuan siapa yang akan bernilai, dan tingkat komitmennya. Dia mencoba membangun startup sendiri, membuat business plan, dan pergi kesana kemari, mencari tempat yang sangat dibutuhkan oleh perusahaannya.

Sedangkan cofounder dia? Dia bahkan tidak keluar dari pekerjaan fulltimenya dan hanya memberi kontribusi dari pinggir lapangan. Robin segera menyadari resiko dari melakukan deal dengan cepat. Negosiasi yang terlalu terburu-buru telah membahayakan efektivitas tim jangka panjang dengan menyebabkan “angka kecemasan yang besar untuk lebih dari satu setengah tahun kedepan.”

Penelitian kami memberikan pencerahan dari apa yang dipelajari oleh Robin the hard way. Kami melihat jumlah waktu diskusi yang dihabiskan oleh tim founder mengenai pembagian saham, dan menemukan perbedaan yang signifikan di antara tim yang membagi dengan cepat ( mengabaikan pembicaraan serius mengenai ketidakpastian dan kontribusi yang diharapkan ) – dan mereka yang melakukannya dengan serius, pembicaraan yang lebih panjang dan menyeluruh tentang equity . Robin melewatkan diskusi ini, memperkirakan pembicaraan tentang apa yang membuat cofoundernya tetap bersamanya, apakah cofoundernya menikmati pekerjaan fulltimenya saat ini, apakah ia ingin join Zipcar fulltime, dan lain-lain.

Data kami menunjukkan tim yang melakukan negosiasi lebih lama, kemungkinan besar akan memutuskan pembagian saham yang tidak rata, semakin kritis Anda melihat, semakin mungkin Anda menemukan perbedaan-perbedaan penting di antara founder. Menurut kami, jika cofounder tidak menemukan sesuatu yang mengejutkan satu sama lain dalam dialog mereka, mereka mungkin tidak cukup terlibat dalam diskusi yang serius.

Bahaya dari Keluarga

Data kami juga mengindikasikan bahwa membagikan saham founder yang baik antara anggota keluarga cukup menantang. Cofounder yang merupakan kerabat biasanya percaya bahwa mereka sudah mengenal satu sama lain secara intim dan karena itu tidak memiliki banyak hal untuk diketahui. Namun, kita sering bertindak sangat berbeda di rumah daripada yang kita lakukan di kantor, dan juga sangat berbeda di bawah tekanan dalam kehidupan startup. Jika Anda belum pernah mendirikan bisnis bersamanya, kemungkinan Anda akan terkejut dengan bagaimana keluarga Anda bertindak sebagai cofounder, seringkali dalam hal yang negatif. Singkatnya, anggota keluarga yang menjadi partner biasanya melewatkan pembicaraan detil mengenai equity dan tentu saja ini sangat berbahaya, tetapi mereka secara statistic tentu banyak yang melewatkannya.

Menurut analisis kami, kami menemukan bahwa tim founder yang termasuk keluarga (relatives) ternyata menghabiskan waktu lebih sedikit untuk melakukan negosiasi pembagian saham. Mereka juga lebih mungkin untuk membagikan saham secara merata. Memang, penelitian kami menunjukkan bahwa banyak tim founder (yang adalah anggota keluarga) memegang konsep “equality” : semua orang mendapatkan saham yang sama, semua orang juga mendapatkan gaji yang sama. Dengan begini tidak ada orang yang mengatakan bahwa ini tidak “adil”. Logika ini kerap kali mengalahkan logika alternative yang mengatakan bahwa pembagian yang “adil” harus dibagi berdasarkan kontribusi dan skill masing-masing founder, waktu yang dihabiskan oleh founder di perusahaan, atau yang menolak peluang pekerjaan lainnya (di luar startup mereka – berarti opportunity cost untuk bergabung ke startupnya) .

Pembagian Saham/equity memiliki Dampak Jangka Panjang

Founder sering berpikir “pembagian equity terjadi di antara kita; tidak mempengaruhi orang lain.” Bagaimanapun juga, “first deal” antara founder bisa menjadi pertanda awal akan masalah yang akan terjadi nanti.

Apa pandangan investor tentang startup yang membagi equity sama rata? Data kami menunjukkan bahwa mereka sedikit cemas.

Walaupun faktor dari fundraising ada banyak, tetapi dari data statistic yang kami punya menunjukkan pesan yang sama: perusahaan dengan pembagian equity yang sama rata lebih sulit mendapatkan pembiayaan dari pihak luar, terutama venture capital. Venture capital bisa blak-blakan meminta founder membagikan saham secara tidak rata, tetapi bisa menyebabkan banyak perselisihan dan guncangan pada tim cofounder. Mengingat bahwa venture capitalist berinvestasi kurang dari satu dari sekian ratus perusahaan yang menghampiri mereka, mereka bisa mencari alasan untuk menolak. Pembagian yang merata bisa merupakan tanda kekhawatiran tentang kemampuan tim dalam bernegosiasi dengan yang lain dan menangani isu sulit dengan kemampuannya sendiri. Menariknya, penelitan kami menunjukkan bahwa pembagian saham yang merata lebih merupakan “gejala” / “symptom” daripada penyebab (cause) dari suatu masalah. Bukan pembagian saham merata yang membuat investor mundur, melainkan pembagian merata merupakan gejala/symptom dari masalah perusahaan yang lebih besar.

Go Organic

Lesson learned dari pelajaran pahit yang dialami Robin Chase: adopsi cara mengambil kesepakatan tentang saham yang lebih organic daripada menggunakan kesepakatan statis yang pada umumnya diadopsi oleh founder. “vesting”, di mana setiap founder akan mendapatkan saham dengan terlibat (mengalokasikan waktu) dalam startupnya atau mencapai pre-defined milestone tertentu. Pendekatan ini dianjurkan oleh Robin. Namun, untuk pembagian saham awal founder, beberapa perjanjian tersebut belum bisa diterapkan semuanya karena ada banyak hambatan untuk membicarakan pengadopsian mekanisme tersebut.

Pada dasarnya, perjanjian tersebut sama saja dengan pasangan yang baru tunangan sedang menghadapi janji pra-pernikahan. Meski tahu tentang tingginya angka perceraian pada pasangan yang telah menikah, kita tidak bisa membicarakan hal tersebut dengan tunangan kita. Sama halnya dengan pembicaraan “pra-pernikahan” antara tim founder. Menyiapkan perjanjian yang menguraikan kemungkinan negative yang akan terjadi di masa depan, dengan tindakan dan solusi untuk menghindarinya, dapat membantu founder menghindari masalah dan meningkatkan kemungkinan startup untuk sukses.

 

Baca Juga :

Dave Morin (Cofounder Path) : Lakukan “Hard Conversation” Sedini Mungkin

Pilihlah cofounder yang tidak sucks

Cara Pembagian Saham : Mengenal Founder Equity Calculator

 

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.