Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Kevin Mintaraga : Bagaimana Saya Memulai Magnivate Sebelum Diakuisisi Advertising Group Terbesar Dunia (Part 1)

Posted by & filed under Featured, How do I Start, Startup.

Kevin Mintaraga XM

 

Mintaraga (then 26 years old) became the youngest CEO within the WPP group, globally.

JWT Blog

 

Editor’s note : “Berarti elo retire young retire rich dong?” tanya Aryo Ariotedjo kepada Kevin Mintaraga siang tadi di sharing session Freeware.  Kevin Mintaraga memulai Magnivate di tahun 2008, sebelum diakuisisi mayoritas sahamnya oleh WPP (the largest advertising group in the world) di tahun 2012 dan direbranding menjadi XM Gravity, sampai saat ini ia memegang posisi CEO XM Gravity. Saat transaksi akuisisi dilakukan, ia adalah CEO termuda di seluruh WPP Group globally, saat itu usianya baru 26 tahun (kelahiran 1985). Berikut ini adalah sharing dari Kevin dalam sharing session Freeware, 7 Juni 2013.

 

 

Kuliah computer science, “lulus” jadi pro gamer

Saya ini accidental entrepreneur. Waktu SMA sampai kuliah kerjaan saya cuma main game counter strike.

Saya kuliah computer science, tapi hasil kuliah saya jadinya “pro-gamer” bukannya “programmer”. Saya ini “cyber athlete” menang banyak game competition nasional dan internasional dengan tim saya. Dari kecil mulai sekolah tidak pernah masuk 10 besar.

Saya tidak punya ijazah SMA dan tidak punya ijazah kuliah. Waktu SMA kelas 2 saya lompat ke diploma.

Di tahun 2006, saya harus balik ke rumah, ayah saya sakit jadi tidak bisa menyelesaikan studi. Saya harus tinggalkan comfort zone, that counter strike thingy dan fokus untuk making a living.

 

Validate your blue ocean

Untungnya, saya baca buku “Blue Ocean Strategy – How to Pick Uncontested Market and Make The Competition Irrelevant.”

Ibaratnya, lautnya biru, tenang , bisa berenang bebas dan grow by yourself. Sedangkan red ocen itu pemainnya saling gigit.

Contohnya Circus de soleil yang bisa meng-orkestrasi pertunjukan sirkus menjadi entertainment yang tidak pernah ada sebelumnya dengan mengumpulkan all the best talent across the circus industry.

Pada saat saya baca buku ini, ada teman saya yang kerja di Nokia, dia marketing manager, dia nanya ke saya :

Kevin, background kamu kan computer science. Bisa ngerjakan internet marketing tidak ?

Tidak bisa, it’s different stuff. Emang kenapa ?

Di 2008 saya harus spend 5% dari total budget saya ke digital.

Hah? cuma 5% dikit banget ya.. memang budgetmu berapa setahun ?

Around 50 million Euro

Wah gede banget !

Bahkan perusahaan besar seperti Nokia saja tidak tahu harus spend ke mana, berarti ini blue ocean. Saya harus buat company di bidang ini, harus grab the opportunity.

Tetapi saya tidak ada background digital marketing itu apa.

Sebelum saya mulai saya harus pelajari insight dari data untuk memvalidasi apakah ini benar blue ocean ?

Total media spending di Indonesia saat itu tahun 2008 adalah Rp 45 triliun – angka ini adalah market size.

Digital ads spending cuma 200 miliar.

200 Miliar itu hanya sekitar 0,4%.

Pada saat bersamaan kalau kita baca berita, semua provider membangun internet infrastructure, penetrasi internet tumbuh cepat. Market digital arahnya akan ke sana. Kalau kita lihat di negara maju tahun 2008, spending digital sudah di atas 15%, di Indonesia saat itu hanya 0,4%.

Prediksi saya, dalam 5 tahun ke depan, kita akan mencapai angka spending 5% yang mana sudah tercapai saat ini di 2013.

Bayangkan, gap dari 0,4% ke 5% itu validasi dari blue ocean yang kamu pilih.

 

How to get there ?

Begitu tau ini blue ocean, bagaimana caranya kamu ke sana ?

Saya kan tidak mengerti digital advertising waktu itu, kalau saya sih, I took Wikipedia route.

Saya belajar digital advertising dari Wikipedia, di situ banyak link ke tempat lain dan semua dijelaskan.

Seminggu belajar Wikipedia lalu saya sadar kalau saya butuh tim, pertner saya programmer, designer dan project manager, saya yang menjalankan business sidenya.

Lalu saya mulai menjalankan rencana, termasuk rencana bagaimana bisa tembus ke Nokia.

Saya memang bisa bilang ke teman saya “eh kamu spend ke saya saja, saya bisa ngerjain” pasti dia akan nanya “mana portofolio kamu? walaupun kita temen tapi saya harus tanggung jawab ke atasan saya”.

Saya menulis rencana saya saat itu, salah satunya membuat website Magnivate.com yang ada bola dunianya bisa jalan-jalan di situ.

Dengan portofolio itu saya pergi ke conference Adtech di Singapore yang pertama. Kalau Echelon kan lebih banyak startup, kalau Adtech lebih banyak digital agency, publisher, teknologi baru di ads industry.

Tetapi sebelum ke sana, saya buat list dulu. Kan ada daftar attendance 1000 orang, saya buat list 100 yang potential yang adalah digital agency di luar. Jadi ke mana-mana saya bawa list ini terus cari orangnya, saya samperin kenalan “my name is Kevin, I run Magnivate, production company, we’re very competitive because our man hour in Indonesia is competitive”.

Dari daftar 100 orang itu saya ketemu 60 orang salah satunya Paul Soon, bosnya XM yang akhirnya beli company kita.

Dari 60 ini pas saya balik Jakarta saya blast email lagi, eh Paul Soon dari XM ini ngasih kita kerjaan, dia ngasih kita project bank dan tech provider, ini our first job. Projectnya murah banget, project microsite 5 jutaan dan dalam rupiah. Ya saya kerjain untuk portofolio.

Lalu saya dateng lagi ke Nokia … “eh mungkin kamu tidak pernah dengar saya karena saya banyaknya mengerjakan project outsource dari luar negeri dan bukan di industry telco….”.

That’s where I start, Nokia percaya dari project-project kecil, kami deliver, happy, lalu nambah terus nilainya, akhirnya mereka nunjuk kita jadi agencynya. Saat itu Nokia the biggest spender at that time.

Begitu Nokia pakai kita, semua klien langsung kontak kita.

That’s where I started swimming in the blue ocean.

 

 Baca juga : Kisah Inspiratif Ben Soebiakto, Kegilaan Menggambar, Tidak Naik Kelas, The Dots Will Connect