Kisah Inspiratif di Balik Pendirian Jasa Pengiriman Inovatif @Kirim_ID
Perjalanan mencari investor seperti apa?
Awalnya, saya membuat ini idealis sekali. Jadi, saya tidak berencana ada investor dan sebagainya. Jadi, saya berpikir akan membesarkan ini kalau dananya sudah ada. Hanya saja, setelah melihat perkembangan ke sana ke sini, jika saya tetap self funding terus. Seperti di tiga tahun terakhir ini, perkembangannya sangat slow sementara saya perlu membuat sistem dan semacamnya, di mana tabungan saya sudah habis-habisan. Dari situlah saya mulai merasa perlu ada bantuan investor. Selanjutnya saya mulai mencoba bergaul dengan startup / entrepreneur lainnya.
Pertama kali saya melaunching “DC” (nama sebelumnya adalah De Courier, sebelum berganti nama menjadi kirim pada bulan Oktober). Pada acara Mekar Entrepreneur Network. Ternyata lumayan ramai, yang lainnya kan startup dotcom yang foundernya geek culun-culun orang-orang internet yang selalu bawa laptop. Sementara kita jreng perusahaan kurir sendirian, isinya perempuan semua.
Booth saya dihias pakai newspaper, saya bawa adik-adik saya dari Bandung saya modalin salon dan blazer warna warni. Ramai deh dan beda sendiri.
Saat itu Gojek dan SITTI baru masuk GEPI cuma saya telat tidak tahu ada acara GEPI.
Di situlah ada investor-investor yang mulai approach, termasuk Angel Investor, VC. Baru pertama kali mempelajari business plan, ketika saya bergabung di Mekar dan diberikan templatenya baru ngeh selama ini tidak pernah buat business plan.
Sempat pitching dengan beberapa VC tersebut, hanya saja offeringnya tidak ada yang cocok. Beberapa belum apa-apa sudah minta mayoritas, saya melihatnya seperti mengambil cita-cita saya, itu ngeyelnya saya. This is my company, kalau share saya sedikit ya saya merasa jadi karyawan. Tentu saja saya tidak mau.
Ada juga yang ingin invest, namun ingin merubah model bisnisnya, ingin masuk ke trucking, logistics segala macem, tentu saya tahu kapasitas saya. Karena sebenarnya kapasitas saya adalah di kurir. Kalau saya harus mengerjakan trucking domestic dan sebagainya agak terlalu besar. Memang, saya yakin mampu melakukannya tetapi itu bukan expertise saya. Saya tidak ingin bermimpi terlalu banyak dan lebih memilih untuk melakukan apa yang saya mampu lakukan karena target saya adalah e-commerce. Kalau saya sudah memasuki trucking by sea dan by air, dan sebagainya, maka dunianya akan lain lagi dan akan jadi bisnis model yang berbeda.
Banyak yang menawarkan, tapi memang tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya merasa hopeless dan tidak berniat memakai investor dan berusaha sendiri deh, kalau perlu jual rumah. Mobil sih sudah jelas disekolahin lah ya.
Untungnya sebelum makin heboh lagi, ada Angel Investor masuk dan mereka memiliki visi yang sama sementara mereka lebih banyak mendukung dan menguatkan saya. Barulah kami bekerja sama dan berjalan bersama-sama.
Pada akhirnya startup yang sukses adalah yang menginjak bumi
Jadi, memang kalau investor menginginkan mayoritas seolah-olah mengambil mimpi founder ya?
Kalau menurut saya seperti itu. Kecuali kalau memang apa yang mereka berikan itu bukan hanya uangnya, tapi ada yang lain-lainnya yang dapat divaluasi. Saya sendiri agak bawel kalau ada investor yang ingin masuk dan ingin berpartisipasi dalam management, mereka harus tahu batasan mereka. Saya tidak ingin segala macam kegiatan operasional saya, diikut campuri oleh mereka. Kecuali, kalau mereka memang mengerti. Tapi, jika mereka yang suka merubah segala macamnya, lebih baik mereka stay away kecuali memang punya ilmu di situ, karena kalau menurut saya dunia kurir adalah 60%-70% experience, sementara sisanya adalah knowledge. Kan ada itu sekolah manajemen transportasi, tetapi saya mendapatkan semua pelajaran ini dari learning by doing dari trial and error dengan menjalankan, termasuk dari pekerjaan saya di DHL dan Fedex, dan berhubungan dengan city courier yang mengurusi bagaimana ini barang sampai dari A ke B dalam waktu 2 jam. Sudah jalan Tuhan.
Bagaimana pendapat anda tentang founder-founder yang baru?
Segala sesuatunya, belajar teori dan praktek itu beda. Belajar naik sepeda kalau sudah baca bukunya 10x tapi tidak melakukan, tetap sama saja hasilnya.
Kalau menurut saya, If you would like to build a company, setidaknya anda perlu belajar di satu company terlebih dahulu. Mempelajari sistem yang sudah ada di sana. Jadi, anda bisa melihat cara membangunnya seperti apa, trial and errornya seperti apa, hal-hal yang tidak ada di buku.
Saya pribadi banyak belajar mengenai ilmu pengiriman ketika di Fedex karena mereka mendalami sekali soal sistem, operasional dan lain sebagainya. Banyak di dalam sistem kami sekarang itu di-implement dari Fedex.
Tapi, kalau mengenai sistem operasional perusahaan, manajemennya, data atau reportnya harus seperti apa, itu saya pelajari di DHL. Itulah yang priceless dari mereka.
Ketika saya masuk ke dalam suatu Startup, sistemnya tidak ada, data tidak ada, mau tanya top 10 customernya siapa saja, tidak bisa dijawab.
Dulu, ada one of CEO startup, founder ini sudah memiliki kantor yang bagus, dia nanya “DC jualannya gimana ?” oh kami ada corporate dan personal, “oh ya kalau mau masuk corporate gimana caranya ya? Jualannya gimana?.”
Gemes aja rasanya.
Mungkin karena rata-rata masih pada muda.
Ada beberapa dari mereka yang pintar, mungkin sewaktu sekolah di luar pernah magang. Tapi ada juga yang masih benar-benar hijau kemudian asal masuk ke dunia ini dan membuat valuasi tinggi sekali.
Ngomong-ngomong investor, sewaktu saya membuat business plan (sampai versi ke-7 saya baru dapat investor, dan ngerubah angkanya banyak banget), saya memasukkan angka yang achievable berdasarkan pengalaman saya dulu-dulu. Tapi ada investor bilang agresif, kalau saya masukkan kekecilan dibilang pesimis. Sewaktu bagian ngitung valuasi, diajarin cara ngitung valuasi, ternyata harusnya beda dari perhitungan saya. Wah prosesnya panjang.
Pada akhirnya startup yang sukses adalah yang menginjak bumi, sudah tahu potensinya seperti apa, kecilin dikit deh, karena kalau sudah eksekusi dan angkanya tidak kejadian kan kita sendiri yang pusing mempertanggungjawabkannya, yang achievable dulu aja, kalau lebih ya syukur.



