Kisah Inspiratif di Balik Pendirian Jasa Pengiriman Inovatif @Kirim_ID

Posted by & filed under Featured, Interview, Running a Business.

Kisah Inspiratif di balik pendirian Kirim

Eriawan dan Intan Saraswati, 2 cofounder Kirim.co.id

 

“Oh iya ..”     kata pembukaannya teteh sih biasa banget…

“Jadi tuh gini….”

… matanya terus merah … semua langsung diem

Terus teteh nangis deh  …

 

Sudah pitching ke berapa investor?

Sebelum mendapatkan investor, kira-kira lebih dari tujuh sampai sepuluh. Dari yang pitching serius sampai yang ketemu sekali saja. Dari VC yang beneran sampai angel investor yang temennya nyokap gue.

Surprisingly, sekarang saat saya pitching ke misalnya VC atau incubator yang sudah tahu dunia e-commerce seperti apa. Sementara kalau Anda pitching dengan direktur perusahaan kontraktor yang membangun perusahaan dari nol, lalu anda meminta sejumlah dana, maka anda akan ditolak secara mentah-mentah.

Misalnya “revenue bulan depan sanggupnya 500 juta ya mesti tahan spendingnya sekian, tidak bisa ngabisin di awal duluan terus ke depannya baru menghasilkan.”

Saya bilang apa kabar yang lain-lain kalau seperti ini ?

Benar-benar di-challenge habis-habisan.

Di dunia ecommerce sekarang, kalau kita telat masuk, keduluan orang lain masuk, kan bisa kalah. Ini debatnya panjang lebar.

Saya tidak ingin investor yang buru-buru exit. Kita sama-sama memiliki visi yang ingin melihat ini gede bareng. Saya percaya bahwa yang seperti ini persaingannya memang akan sangat banyak, dari segi kurirnya sendiri. Untuk sistem yang sama seperti saya sendiri, mungkin belum ada tapi soon pasti akan dicontoh orang lain juga. Tapi, saya percaya bahwa it’s all about execution. Jadi, tidak usah terlalu mengkhawatirkan hal yang berlebihan dan kalau sampai ada perusahaan-perusahaan lain yang menyamai seperti apa yang saya buat, intinya sama-sama membangun negeri lah ya (halah gaya banget), tapi ya begitulah bareng bangun ekosistem.

Kadang-kadang pingin rasanya punya ecommerce sendiri, tapi ga ngerti soal shopping cart dllnya.

Kenapa ya passion saya delivery … (masih denial).

Tapi, ya kembali lagi ini adalah pengalaman saya. Kalau dari sisi kurirnya sendiri, yang dijual adalah “people”. Challengenya adalah mereka bukanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Me-manage mereka juga bukanlah hal yang mudah.

Me-manage karyawan S1 jauh lebih mudah dibanding me-manage kurir. 

Jadi, bagaimana cara me-managenya? Ini kan industri padat karya.

Ini yang learning by doing. Saya merubah struktur gaji kurir dan insentif mereka sudah sering sekali, dari segi security juga, biasanya, saat mereka masuk saya menyuruh mereka untuk meninggalkan ijazah mereka agar mereka tidak berhenti semau mereka, mereka tidak mengenal one month notice, begitupun masih ada yang kabur. Kalau  BPKB masih agak ampuh. Challengenya sendiri memang di sana.

Kami punya 25 kurir saat ini dulu pakai motor mereka, sekarang sudah punya kami sendiri. Kalau pakai motor mereka masalahnya banyak, dari kilometer tidak jalan sampai motor tua turun mesin.

Mentor bisnis anda siapa?

Saya senang mengobrol, dan berusaha untuk networking. Tapi dari hasil psikotes saya sih katanya anti social. Makanya networking buat saya adalah pembelajaran juga.

Saya juga senang membaca artikel startupbisnis, entrepeneur.com atau membaca buku Donald Trump yang “Think Big” kalau kamu lagi down kayak apa juga pasti semangat lagi.

The thing about being a founder, apalagi saat saya masih sendiri adalah ketika anda bekerja dengan orang lain, ada ketakutan sendiri mulai dari reporting segala macamnya. Sementara untuk entrepreneur sendiri tidak ada, adanya masalah besok tidak ada uang, kadang juga lagi down, cashflow kering, besok bayar gaji kurir gimana? Hal ini yang tough untuk saya, kalau sudah begini saya mencari motivasi dari internet. Melihat success story dari orang lain.

Kadang ingin punya business coach tapi tidak tahu nyarinya di mana.

Kalau mentor.. mungkin ya.. saya kan beberapa kali pitching ke venture capital dan incubator, walaupun tidak deal, tapi kami berlanjut jadi teman, kalau pas ketemu mereka nanya kabar startup saya, terus mereka suka cerita bisnis pengiriman di negara lain seperti apa … mungkin yang bisa disebut mentor saya ya rekan-rekan yang seperti ini ya..

Pendirian D-Courier

Karena menurut Feng Shui, 9 November 2008 adalah tanggal yang bagus, jadi saya paksakan untuk membuka kantor pada tanggal itu. Ukuran kantornya sendiri 3×6. Pada saat itu, saya meminta kurir saya datang ke kantor dan melakukan renovasi. Seru deh, kita masuk sabtu minggu buat rame2 bersiin ‘kantor’, ngecat dinding dan pager, masang meja, dll. ketika saya ingin membeli white board, saya tidak memiliki cukup uang. Kemudian, saya browsing dan menemukan triplek yang menggunakan bahan melamin. Ternyata, melamin ini adalah bahan dasar untuk white board. 1 meter hanya 50 ribu ya sudah semua dinding saya pasang melamin.

Kurirnya sendiri baru ada lima. Memang, kita sempat memegang project HSBC. Awalnya, saya bersama dengan adik saya mengerjakannya dan dibantu dengan satu orang di bidang operation Di tempat itu hanya sekitar kurang lebih satu tahun. Kemudian kontrak HSBC habis, saya tidak punya duit untuk bayar berikutnya, saat itu saya ngekos di Mampang Prapatan, untung ruang tamu besar, jadi setiap malam kurirnya datang.

Ada bank minta dokumennya diambil malam dan dikirim pagi sebelum jam 8, tidak ada kurir lain yang bisa karena yang lain baru jalan jam 7, sedangkan kurir saya jam 6 pagi sudah jalan. Jadi tiap malam kurir ngumpul di kos saya bagi-bagi dokumen, kalau tidak sempat pagi-pagi bangun untuk bagi-bagi dokumen, jadi pagi-pagi buta jam 6 pagi, masih pakai daster, kurir ngetok pintu “bu, mau ambil dokumen.”

Sampai diusir ibu kos, karena tiap malam ramai kurir 5-7 orang.

Habis itu ke mana ya ? ngontrak rumah di tebet. Rumahnya rada lumayan, bisa lewat 1 mobil, muat parkir 1 mobil dan motor. Ruang tamu dan sebagian rumah jadi kantor, saya pake kamarnya aja. Kontrakan abis, pindah ke apartemen. Sewa apt dengan 3 kamar, 1 kamar dan dapur/ruang tamu jadi tempat kerja kurir. Jadi waktu itu isinya ya gitu aja, keleleran tiap pagi, kalau bangun kesiangan kurir ngetok pintu dan saya baru bangun masih dasteran, sementara kurir udah seliweran di gang… pada saat Sudirman Park sudah memasang access card, kurir saya kesulitan masuk, jadi mau tidak mau harus pindah.

Karena itu, akhirnya saya memutuskan untuk pisahkan kantor dan rumah. Waktu itu ada teman yang berbaik hati menyediakan space untuk saya dan beberapa staff di STC senayan, namanya Williambotak alias WilliamHenley.

Kemudian saya mendapatkan investor dan kemudian mencari rumah sendiri. Hal ini dikarenakan tujuannya adalah operasinya kita adalah 24 jam. Kalau menggunakan gedung kantor, tentu saja memerlukan biaya overtime. Sementara kalau menggunakan ruko, untuk tempat parkirnya sendiri tidak terlalu besar. Jadi, saya sendiri saat ini tinggal di daerah Kemang untuk dua tahun ke depan. Untuk ukuran Kemang cukup murah, tapi rumah lama jadi ada hantunya.

Cukup lama juga ya dari tahun 2008 dan tidak pindah ke ide yang lain, tetap di delivery saja ya.

Iya. Ngeyel ya ?

Selama ini cita-cita saya di bidang kurir memang banyak. Hanya saja selama ini tidak pernah terealisasi karena idenya ada namun dananya tidak mendukung. Sistem yang saya pikirkan dan ingin saya buat, baru bisa di-built sekarang. Seperti kurir menggunakan GPS, adalah cita-cita saya dulu namun baru bisa diterapkan sekarang.

Saya pernah mendengar dari beberapa VC yang bilang, banyak founder yang startupnya belum ada apa-apanya bahkan idenya biasa saja tetapi sudah banyak gaya, di sisi lain banyak juga founder yang “tidak kelihatan” tetapi mereka menjalankan startupnya dengan sepenuh hati, fokus tetapi tidak banyak omong. Mungkin orang seperti Intan ini yang termasuk tipe ke-2, dari rumah kos diusir bolak balik ..

Mungkin ya.. kemarin saya nangis bok, waktu kami relaunch website Kirim di awal Desember 2012, kami hanya launching website “der” ya udah gitu aja, trus kita rayakan satu kantor nonton film “Premium Rush” yang tentang kurir sepeda, bahkan secara sistem mirip, makanya saya ajak kurir, lalu makan, pas ngobrol-ngobrol …. nengok kiri kanan …. gila banyak banget gini orangnya, dulu saya bayar gaji kurir setengah mati deg-degan, aduh duitnya mana ??? kalau invoice telat saya tidak bisa bayar gaji saya jadi saya harus mengorbankan gaji saya, kalau sekarang saya sudah bisa mengajak mereka makan pakai uang sendiri… kurirnya juga seneng banget mukanya karena saya bisa bayarin mereka makan malam…

Laras  (Laras adalah salah satu tim Kirim yang ikut interview) :

Mas Eri di makan malam itu memberi pembukaan tentang kenapa hari ini kita ngobrol-ngobrol, setelah itu yang lain pesan makanan, semuanya santai, terus mas Eri ngomong “Teteh Intan mau bicara… ada yang mau disampaikan ?” …

“oh iya ..”     kata pembukaannya teteh sih biasa banget…

“jadi tuh gini….”

… matanya terus merah … semua langsung diem …

Terus beneran nangis deh  …

Di acara launch website kita ke media di Desember 2012, kita bener-bener mikirin supaya gimana teteh Intan jangan nangis sewaktu presentasi.

Ya kita semua ngerti sih karena teteh dulu memulainya dengan sulit.

 

Memang passionnya dari dulu mungkin di pengiriman …

Memang itu passion ya…?  passion itu harusnya di sepatu ya :p

Saya merasa, kalau liat perusahaan kurir lokal, mereka menggaji kurir sangat jauh di bawah UMP setengah pun tidak kadang-kadang. Bayangkan kamu gaji 600 ribu, kerja di Jakarta, rumah di Depok, how can you survive ? banyak banget perusahaan kurir seperti ini .. salah satu misi saya adalah saya tidak mau melihat kurir saya susah… dulu saya memang bisa memberikan mereka pas pasan, saya tidak beri asuransi tetapi kalau mereka sakit saya gantiin dari duit kantor atau pribadi pokoknya saya gantikan.

Sekarang sudah UMR dan ada plus lagi, sekarang kalau diranking gaji kami sekarang dibanding perusahaan kurir lain yang sudah agak besar dan berusia 30 tahun lebih, itu sama. Perusahaan kurir lain benar-benar memberikan harga rendah kepada customer dengan cara memberikan gaji sangat rendah kepada kurir yang untuk saya tidak masuk akal, misi saya memang tidak mau membuat hidup kurir saya susah, bisa sih kita gaji mereka rendah, mereka juga mau, tapi terus kamu tidak didoain sama  mereka ? saya sih tidak begitu aja..