Kisah Inspiratif di Balik Pendirian Jasa Pengiriman Inovatif @Kirim_ID

Posted by & filed under Featured, Interview, Running a Business.

Hari Jumatnya, saya harus menemui 42 kurir saya bahwa mulai hari senin mereka harus berhenti dan tidak ada pesangon. Mau ape lu ?

42 orang.

Isinya ada bapak-bapak kelahiran tahun 60 yang ijazahnya segede gambreng yang begitu kita kasih tahu mereka dipecat, mukanya udah bengong tidak tau mau ngapain.

 

Yang bisa disebut tipping point saya adalah pada saat masih di DHL. Jadi, saya sempat ada project dengan bank lokal dimana kita bertugas untuk mengantarkan dokumen ke kantor cabang mereka. Di Jakarta sendiri, kantor cabangnya ada 300 cabang. Jadi, saya sudah membuat projectnya dan memberikannya dalam bentuk “orang” perbulan dan sudah tidak menghitung lagi dalam bentuk per dokumen.

.
Maksud dari “orang” ini apa ya?

Project saya ini waktu saya masih di DHL. Maksudnya kita memberikan kepada mereka, costing projectnya, dihitung berdasarkan headcount, bukan per dokumen. Mules saja kan kalau ngitung jumlah ada 1000 dokumen dari Sudirman ke Kuningan, jadi yang dihitung per orang yang dibuat routingnya.

Waktu itu saya memasukkan 42 orang. Sementara, budget mereka sedikit sekali. Sebenarnya, mereka sudah memiliki vendor yang mengerjakannya selama lima tahun. Tapi, karena saya ngeyel saya pun ternyata berhasil menang di tiga detik terakhir, tapi angkanya turun sekali. Lalu, saya bertukar pikiran dengan atasan saya dan memutuskan untuk squeeze gaji kurirnya. Dengan bermodalkan “nekat”, kita pun menjalankan project tersebut dengan mengambil kurir di berbagai tempat. Memang, performancenya tidak terlalu bagus tapi itulah yang menjadi pelajaran pertama saya mengenai managing people, organizing, routing dan sebagainya. Saya bukan orang Jakarta, saya orang Bandung yang baru ke Jakarta.

Dan karena masih sama-sama belajar, untuk performancenya sendiri masih 70% yang on time delivery. Bulan kedua, sudah mengalami peningkatan dan naik menjadi 80%. Bulan ketiga hampir mencapai 90% .

Tetapi ini bank walau sudah ada code of conduct tidak boleh nyogok, ternyata masih saja ada “begitu-begituan.” Karena saya masih di DHL, bersih sekali tidak ada acara sogok menyogok, ternyata kurir company yang melayani mereka sebelumnya ada sogokan.

Jadi digangguin lah saya sama orang bank ini.

Yang namanya hand over dari kurir pertama ke kurir kedua harusnya klien memberi contact person dokumen mau dikirim ke mana, nah datanya ini tidak ada. Data yang dikasih sewaktu saya samperin, itu data 2 tahun lalu.

Kemudian saya mendapatkan panggilan dari vice president dari grup tersebut. Saya sama bos saya ditunjuk-tunjuk diomeli 3 jam. Waktu itu hari kamis, dia bilang hari Senin service kami akan dihentikan.

Hari Jumatnya, saya harus menemui 42 kurir saya bahwa mulai hari senin mereka harus berhenti dan tidak ada pesangon. Mau ape lu ?

42 orang.

Isinya ada bapak-bapak kelahiran tahun 60 yang ijazahnya segede gambreng yang begitu kita kasih tahu mereka dipecat, mukanya udah bengong tidak tau mau ngapain.

Melihat muka mereka seperti itu, dalam hati saya, saya berpikir someday mereka harus saya pekerjakan secara adil. Kalau project mereka diterminate tiba-tiba, jangan hidup mereka jadi susah tiba-tiba tidak kerja. Makanya orang-orang saya yang 5 orang pertama memulai De Courier (nama sebelum kirim.co.id) adalah dari 42 orang ini yang saya panggil lagi.

Ini bukanlah pengalaman yang anda bisa temukan di buku manapun, perasaan memecat 42 orang di saat yang sama, mereka semua cowok dan lebih dari separuh kepala keluarga yang malam harinya bilang ke bininya “bok, gw dipecat bok.” Bukan dipecat sih, tapi karena projectnya di-terminate dan tidak kerja lagi. Karena angka projectnya kecil, kita tidak bisa spare margin 1 bulan  untuk mereka, yang ada dipotong kalau telat kirim, minus margin jadinya, belum saya dimarahin sama bos saya.

So hard ya kerja di industry Padat Karya ?

Social preneur sama tidak ya ? enggak juga ya.

Bayangkan gaji kamu sejuta, istri satu (tapi ada sih kurir saya istrinya 3, pingin saya marahin) harus bayar bensin, transportasi, terus tiba-tiba tidak kerja kan gimana ?

Saya sih tidak mau jahat sama kurir saya supaya mereka mendoakan saya. Ketika sedang briefing pas jaman ngampar di dapur apartement, “doain ya saya lagi jarang di kantor karena lagi nyari investor, kalau ada investor kita bisa punya kantor, kalian tidak susah dan syukur-syukur gaji kalian bisa lebih layak, asuransi kesehatan dulu tidak ada” jadinya mereka mendoakan saya.

Sampai pada akhirnya, saya berhasil mendapatkan investor, dan kita berhasil membangun kantor sendiri. Kurir-kurir saya yang dari awal bekerja dengan saya pastinya merasakan sekali bagaimana sulitnya membangun bisnis ini dari awal sampai pada akhirnya kita memiliki kantor sendiri.

Tadinya, saat kita launching, saya tidak ingin melaunching secara besar-besaran karena tidak ingin dianggap sebagai another startup yang cuma buang-buang uang investor. Saya hanya berniat untuk menjadikannya sebagai media launch supaya orang tahu bahwa saya secara personal memiliki this kind  of services,  karena. DC sendiri sebenarnya ada 4 tahun terakhir, hanya saja tidak diketahui oleh banyak orang karena kami tidak banyak melakukan promosi, bahkan websitenya d-courier.com dibuat gratis.

Rencana anda ke depannya seperti apa?

Kalau melihat Jakarta macet seperti sekarang ini, harusnya service seperti kita yang mengambil barang atau memesan makanan bisa menjadi solusi yang which is sedikitnya mampu mengurangi kemacetan di Jakarta. Mimpi ke depannya adalah saya membayangkan Jakarta di tahun 2000 sekian sudah diisi oleh orang-orang dari kurir. Kalau melihat dari business modelnya, seperti model bisnis kita yang sekarang ini yang personal ataupun yang e-commerce, jika ingin diterapkan di kota lain atau di negara lain bukanlah hal yang sulit.

Kemarin-kemarin juga banyak yang mempertanyakan kapan saya akan membuka cabang di tempat lain. Saya sendiri masih berusaha untuk memaksimalkan yang ada di sini terlebih dahulu. Kalau kita sudah mencapai kata “sangat bagus”, baru saya berani untuk bermain di tempat yang lain. Kedua, saya memiliki data. Maksudnya, semua barang yang dikirim melalui JNE, Tiki dan lain sebagainya, datanya secara otomatis ada di saya. Dari situ, saya bisa melihat jalur yang banyak digunakan dimana. Misalnya, pengiriman yang banyak tujuan dari Jakarta ke Denpasar. Kita bisa membuka cabang di sana. Tapi, sebenarnya permasalahannya sendiri terletak pada kurir network. Seringkali mereka belum bisa memenuhi targetnya, seperti deliverynya terkadang baru sampai dua hari atau tiga hari selanjutnya. Terkadang juga mereka harus mencari alamat dari si penerimanya. Inilah yang seringkali dialami oleh si kurir lokal. Inilah alasan mengapa setiap kurir saya berikan GPS. Dengan menambahkan satu fitur itu saja, nilai productivity-nya meningkat tajam.

Ada prinsip lainnya yang ingin disampaikan? 

Percayalah pada fengshui, eh bukan.

Kalau saya, selalu percaya impossible is nothing. Maksudnya adalah kalau Anda fail akan sesuatu, bukan berarti anda gagal karena anda tidak bisa. Tetapi, karena ada sesuatu yang belum anda kerjakan. Kalau anda ingin mencapai A, lalu tidak berhasil, bukan berarti anda tidak akan berhasil seterusnya. Pasti akan ada jalan lain.