Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Kisah Pendirian Octovate Oleh Ben Soebiakto

Posted by & filed under How do I Start, Startup.

 

1420d65

 

Editor’s note : Ben Soebiakto adalah founder dan CEO Octovate Group, The first Indonesian creative incubator & investment company “home for creative entrepreneur” yang membawahi banyak anak perusahaan sukses seperti Fimela.comDamn I Love Indonesia, OMG Creative Consulting (yorissebastian.com), XM Gravity (dulu : Magnivate) dan banyak anak perusahaan lainnya.

 

Artikel ini adalah tentang kisah pendirian Octovate Group, yang ternyata tidak didirikan dalam satu atau dua tahun saja, tetapi akar sejarahnya jauh sejak masa kuliah, bahkan masa SMA Ben Soebiakto. Kisah ini adalah kelanjutan dari Ben Soebiakto, Kegilaan Menggambar, Tidak Naik Kelas, The Dots Will Connect

 

Kuliah hanya untuk formalitas

Selepas SMA, ia kuliah di jurusan desain Trisakti, tapi ia menjalaninya tanpa niat. Karena di bangku kuliah, ia diajarkan pelajaran yang sudah dikuasainya sejak kelas 2 SMA. Walaupun tidak niat, nilainya selalu tinggi sampai menjadi lulusan terbaik ke-2 dan juga termuda, hanya 3,5 tahun.

Ia berikan ijazahnya ke orang tua, lalu bilang “I’ve done it”. Ia penuhi janjinya untuk memberikan yang terbaik di dunia design dan art.

Ijazah lulus hanyalah kertas biasa untuknya. Tetapi pelajaran terbesar untuknya selama kuliah adalah ketika melanjutkan perusahaan yang didirikannya sejak SMA, yang bernama Magic Design.

Sampai detik ini, setiap ia membuat seminar atau guest lecturer tentang Creative Entrepreneur, ia selalu menunjukkan logo Magic Design. Karena Magic Design ini adalah saat di mana ia mendapatkan momentum. Yang meskipun tidak naik kelas, ia justru mendapatkan first tipping point, ia tahu mau jadi apa nantinya.

Dari Trisakti, Ben lulus tahun 2001. Selama kuliah 3,5 tahun, ia sering bolak balik ke Surabaya, 3 bulan sekali ke Surabaya. Perusahaan yang tadinya hanya 2 orang, ia set up menjadi company yang sebenarnya. Maksudnya adalah sebuah entitas yang memiliki beberapa departemen, seperti departemen finance, marketing, dan produksi. Itu pertama kalinya ia tahu kalau company harus dibagi-bagi per departemen. Kemudian, ia mengajak teman-teman OSIS di SMA, yang sudah kuliah di Petra dan Ubaya. Karena ia menganggap biasanya anak-anak OSIS ini networknya luas, punya leadership dan gaul. Makanya Ben mengajak mereka untuk bergabung ke Magic Design. Yang kuliah di finance diajak ke departemen finance dan accounting, yang kuliah di manajemen diajak ke departemen sales dan marketing, yang kuliah di design ia jadikan divisi production.

Pada saat itu, Ben tetap kuliah di Jakarta. Jadi, Ben hanya menerima report dari mereka setiap bulannya. Tugasnya sebagai “founder and board of director” (timnya yang menamakan posisi Ben seperti itu, rasanya agak aneh memang menurut Ben) adalah memberikan visi terhadap perusahaan ini, memberikan arahan yang ingin dituju dari perusahaan Magic Design ini. Setiap mampir ke Surabaya, ia hanya memberikan wawasannya mengenai perkembangan design di Jakarta.

Timnya di Surabaya, punya background marketing yang bagus dan secara proaktif memberikan informasi mengenai marketing kepada Ben. Mereka memperkenalkan tentang “Philip Kotler”, juga “Hermawan Kartajaya” dari Indonesia. Mereka memberikan buku-buku Kotler dan Hermawan Kartajaya kepada Ben.

Setelah Ben kembali ke Jakarta, ia mulai membaca-baca buku marketing tersebut. Dan ternyata, ia jadi tertarik dengan bidang marketing. Lalu, ia juga ikut seminar Hermawan Kertajaya dan akhirnya malah jadi kecanduan belajar marketing.

Mungkin karena backgroundnya dari design, yang menurutnya Desain Komunikasi Visual itu oral marketing, dan cocok sekali dengan passionnya di dunia desain. Selain belajar marketing, ia juga mulai belajar mengenai basic finance dan branding.

Mentor pertama Ben adalah timnya sendiri yang berada di Surabaya. Mereka yang memperkenalkan Ben mengenai marketing, finance, dan branding.

Mentor kedua Ben adalah bapak Andi S Boediman. Tahun 1996, waktu Ben tidak naik kelas, persis dengan harapan pertamanya waktu dapat Apple Computer. Beliau baru kembali dari New York, dan menjadi pembicara seminar di Universitas Petra. Beliau bercerita bahwa di New York sana, investor berani memberikan banyak dana segar ke creative industry, dan industri ini akan besar nantinya. Mulai dari seminar itu, Ben semakin yakin dan berharap bisa membangun creative industry di Indonesia. Ia berkenalan dengan Andi Boediman, mendapat kartu namanya dengan logo tanda tanya seperti logonya Riddler (musuhnya Batman). Ia simpan kartu namanya sampai ia berangkat ke Jakarta di tahun 2000.

 

Awal mula masuk ke Creative Industry

Pada tahun 2000, Ben mengikuti kelas digital studio. Di sana ia mengambil kelas animasi. Jadi kalau pagi ia kuliah biasa, sedangkan malamnya belajar animasi di Digital Studio milik Andi Boediman, sambil menjadi freelance designer Magic Design yang ia buat di Jakarta.

Ben juga mulai membangun network dengan beberapa percetakan dan toko kertas. Karena tidak punya mobil, saat itu ia naik bajaj bawa-bawa kertas. Kalau bisnis percetakan dulu itu, mereka membeli kertas sendiri, lalu diukur dan dipotong sendiri juga agar lebih efisien. Mulai dari terima klien sampai delivery, semuanya juga dilakukan sendiri.

Lucunya, tahun 2000 ia pernah mendapat klien dari Berca. Dikenalkan oleh temannya, dan kliennya bertanya :

“Saya minta quotation dong Ben!”

Ben malah balik bertanya “Quotation itu apa?”

Waktu itu sebenarnya ia malu sekali, karena kalau di Surabaya yang diajarkan adalah “Surat penawaran”, bukan quotation.

Karena ia mulai dari bawah, jadi ia tahu pekerjaan dealing di marketing itu seperti apa, bagian finance kerjanya apa saja.

Selama 3,5 tahun ia kuliah, dalam arti formal dan informal. Kerja praktek ia tidak ikut. Ikut sebenarnya, tetapi ya di perusahaannya sendiri. Dosennya pun pada bingung “ini anak kok sudah punya perusahaan ya?”. Kalau ia mendapat klien, kadang-kadang ia berikan ke dosennya.

Setelah berjalan 3,5 tahun kuliah dan lulus, tak lama kemudian timnya di Surabaya juga mulai banyak yang lulus. Hal ini membuat tim menjadi goyang karena profit margin mereka saat itu tidak besar, tim akhirnya pecah dan Ben memutuskan untuk membangun sendiri di Jakarta.

Mulai dari 2001, Ben mulai mengembangkan dari satu kamar sebagai creative production sampai akhirnya satu rumah menjadi kantor creative-nya. Tahun 2001 menjelang akhir-akhir semester, Ben bertemu dengan Daniel Surya yang saat itu menjabat sebagai Chief Representative Landor Indonesia. Ben bisa berkenalan dengannya pada saat Daniel membawakan sebuah seminar. Ben paling aktif bertanya dan pada saat istirahat Ben berkenalan dengan Daniel. Ben bilang ke Daniel kalau ia ingin belajar branding operation. Karena menurut Ben, brand is beyond just a logo, you bring a point of view inside that. Pada waktu itu, Ben belajar marketing dan branding secara bersamaan. Padahal banyak orang yang mengatakan bahwa brand dan marketing itu seperti dua agama yang berbeda.

Ben banyak belajar dari Landor dan Daniel Surya, sampai mereka dengan luar biasa menyekolahkan Ben ke Imago School of Advertising miliknya untuk mengikuti short class mengenai branding communication.

Kemudian Daniel Surya berkata ke Ben bahwa dia percaya kepada Ben dan mereka akan membangun industri kreatif ini bersama-sama. Setelah itu, mereka sering membuat seminar bersama dan mendapat mandat untuk membangun industri ini bersama. Setelah sering bareng dengan Daniel, Ben menjadi branding consultant yang melihat dari segi desainer.

Karena Ben tidak mengerti pasar Jakarta, ia membayar anak-anak Untar dan UI untuk mencarikan klien. Akhirnya Ben mendapatkan klien-klien perusahaannya yang pertama dari sana di tahun 2001. Pada saat itu, branding perusahaannya sedang menanjak karena sudah bisa menangani brand sekelas Sampoerna dan Garuda Food.

Selama tahun 2001 – 2005, perusahaannya berjalan sebagai branding consultant. Selama 4 tahun itu, perusahaan Ben sangat fluktuatif dengan karyawan maksimal 15 orang, dan dengan model community based company. Perusahaannya itu seperti sanggar bagi anak-anak Trisakti yang ingin kerja cari duit dapat komisi. Mereka mencari pengalaman untuk dapat portofolio.

Pada saat itu, Ben sudah mulai memiliki marketing knowledge untuk membantu perusahaan-perusahaan tersebut. Pada tahun 2003, Ben mencoba mereposisi perusahaan menjadi branding consultant. Pada saat itu, Ben menantang timnya, “siapa yang percaya kita bakal menjadi branding consultant?”

Akhirnya hanya satu yang percaya, namanya Felix. Felix kemudian ikut dan belajar banyak hal bersama Ben.

Pada tahun 2004, Ben mendapat partner Simon Jonathan yang merupakan marketing directornya Extra Joss. Simon Jonathan pada saat itu baru keluar dari Extra Joss, kemudian membuat BrandIcon. Ben datang dengan pengalamannya di branding dan membuat Simon tertarik untuk membangun partnership dengannya. Karena partnership ini, network mereka mulai meluas. Kemudian pada tahun 2005, mereka mulai mendapatkan profit.

Suatu hari Ben teringat, waktu ia masih di Landor, Daniel Surya selalu bilang bahwa di atasnya Landor itu ada sebuah perusahaan yang bernama WPP. WPP merupakan the largest advertising and branding marketing communication. Pada saat itu, Ben sudah belajar banyak bahwa proses branding itu harus holistik, marketing communication itu harus three sixty (360° ) tetapi ia hanya belajar teorinya saja.

Saat itu Ben bilang ke Daniel Surya, “Saya tidak akan puas apabila saya belum bisa layani klien saya secara three sixty!

Terus kamu mau jadi apa?” tanya Daniel ke Ben

“Saya mau jadi seperti WPP.”

Daniel terkejut dan bilang kalau mimpi Ben tinggi sekali.

Tetapi Daniel percaya dengan Ben, bahwa Ben bisa menjadi entrepreneur yang bagus karena willingness-nya tinggi.

 

Bertemu dengan Yan Gunawan

Pada saat awal tahun 2005, Ben punya pacar di Surabaya. Jadi ia sering bolak-balik ke Surabaya. Kemudian ia diperkenalkan kepada temannya yang merupakan pemain desain company di Surabaya, namanya Ian Gunawan.

Yan Gunawan bertanya kepada Ben : “Apa yang menarik untuk digali di Jakarta? Saya sudah bosan dengan perusahaan design, bisnisnya kecil, profitnya kecil!

Pada saat itu, Ben mengatakan bahwa sebenarnya brand dan marketing communication industry itu besar sekali, dan orang yang bisa running this business adalah orang seperti mereka, anak desain yang punya base understanding di creative dan punya knowledge di marketing dan branding strategy.

“Menarik juga ya idenya” kata Yan Gunawan.

Sedikit demi sedikit Ben bisa meyakinkan Yan Gunawan.

Lalu Ben membuka peta industri ini, memberi informasi bahwa di dunia ini ada yang namanya WPP, IPG, Dentsu, Publicist.

Kami ingin seperti mereka, tetapi kami tidak bisa jalan sendirian, saya butuh partner to make it happen” kata Ben.

Lalu Ben menyampaikan ke Yan bahwa ia butuh partner yang bisa membawanya ke klien–klien besar. Dan Ben memberikan daftar peringkat pengiklan terbesar di Indonesia. Muncul perusahaan-perusahaan rokok besar di Indonesia seperti Djarum, Gudang Garam, Sampoerna yang memimpin daftar spending iklan terbesar di Indonesia, saat itu telco industry belum besar.

“I wish … I wish banget, saya ingin handle klien-klien ini. Kalau mimpi boleh kan?”

“Oke, beri saya baby step. Di Surabaya beri saya target, kalau saya bisa menjual sejumlah apa yang kamu mimpikan, beri saya kesempatan pindah ke Jakarta

Kemudian Yan mencoba cari-cari klien di Surabaya. Setiap dapat klien, Ben yang maju jadi branding consultant dengan bekal skill marketing communication. “Ini konsultan dari Jakarta, makanya mahal!”, cara mereka waktu itu untuk approach klien. Teori marketingnya sudah seperti MarkPlus dan Brand Consultant besar lainnya, sudah jago kalau presentasi di depan klien. Akhirnya, mereka berhasil mendapat klien dan Yan mencapai target dalam 1,5 bulan.

“Tidak usah nunggu 3 bulan! langsung saja ke Jakarta sekarang! Let’s fight the jungle! Kita mau jadi WPP.”

Yan kemudian pindah ke Jakarta dan Mereka memulai gerilya mencari klien di Jakarta.

“Tapi kayaknya kita harus cari nama untuk perusahaan ini.

Awalnya mereka memberikan nama Octopus.

Karena bagi mereka, Octopus itu hewan yang kuat, tentakelnya banyak dan “ke mana-mana”. Mereka ingin menjadi seperti gurita di bidang creative and innovation.

“Ya sudah kita coba gabung saja! “

“Octopus + Innovation = Octovation!”

“Innovation-nya disingkat aja kali ya jadi innovate …. “

“Octovate?”

“Ya! Octovate is a good name!”

Awalnya, Octovate dijalankan di rumah Ben. Yan Gunawan di bagian “membuka jalan” alias bagian marketing dan Ben mengelola bagian produksi alias tim creativenya.

Setelah 6 bulan berjalan, sekitar November 2005, Yan bergerilya networking kanan-kiri. Pergi kemana-mana, sampai akhirnya kenal dengan Gudang Garam dan mendapat kesempatan untuk mencoba membuat project Gudang Garam. Mereka diminta untuk membuat iklan, dan mereka pun presentasi ke Gudang Garam.

“Wah storyboardnya lucu juga ya ….. kalian masih muda sudah pintar-pintar sekali !” kata bos Gudang Garam

Disanjung seperti itu, Ben dan Yan sangat sumringah.  

“Tetapi tidak cocok dengan perusahaan kita” tambahnya.

“Tidak apa-apa pak, nanti lain kali kalau ada kesempatan lagi, kita ajukan lagi” jawab mereka sambil sedikit lemas.

“Bagus! Anak muda harus semangat ya!”

Akhir tahun 2005, Gudang Garam membuat acara akhir tahun bareng.

“Itu panggil itu, anak muda yang namanya Yan, ajak kumpul sama kita”

Mereka pun datang ke acara tersebut dan mengobrol lagi.

“Kamu masih ngerjain iklan?”

“Iya pak”

“Bikin lagi ya, saya ada project, yang iklan macan-macan mau saya ganti, Januari kamu masukin proposal ya!”

Ben kemudian mencari tim, lalu pada bulan Januari mereka pitching dan mendapat project itu. Project itu adalah project dari budget iklan Gudang Garam yang terbesar. Mereka membuat iklan 2 versi yang dipakai selama 1,5 tahun. Project ini “jackpot”nya sangat besar, this is where the money starting, di mana mereka mulai bisa hire orang-orang terbaik untuk mengerjakan project klien. Mereka punya klien “seksi” seperti Gudang Garam dan Garuda Food. Octovate mulai punya anak perusahaan Octocomm dan Octobrand.

Untuk meng-handle Octobrand, mereka mulai meng-approach Sumardi dari MarkPlus, karena mereka sangat mem-benchmark ke Hermawan Kartajaya. Ben sendiri bisa dibilang kind of “MarkPlus graduate”, karena Ben belajar banyak dari sana. Ben banyak memiliki kenalan dengan anak-anak MarkPlus sampai ia ketemu Sumardi. Mereka membantu Sumardi dengan marketing clubnya, ternyata Sumardi senang dengan pekerjaan mereka. Lalu Ben mencoba meng-approach Sumardi.

“Kamu punya mimpi tidak, untuk menjadi entrepreneur?”

“Punya banget Ben!”

“Kenapa kamu tidak start sekarang? Kamu yakin tidak, kamu bisa berkembang dengan knowledgemu?

“Bisa banget!”

“Ya sudah, saya siapin deh semuanya. Saya kasih klien-klien saya untuk kamu manage!”

“Mau Ben!”

Lahirlah Octobrand, Octocomm dan Octodesign. Sumardi yang menangani Octobrand, sedangkan untuk anak perusahaan lainnya, mereka mencari partner lain. Pada saat itu, tahun 2005, Ben berusia 26 tahun. Sementara kompetitor mereka adalah agency yang sudah lama dan kebanyakan multi national. Project Gudang Garam ini bisa dibilang jackpot kedua yang ia dapat. Project jackpot sebelumnya adalah iklan Sampoerna di Myanmar yang didapatnya tahun 2002, ketika ia berusia 23 tahun di Magic Design.

Itulah awal sejarah berdirinya Octovate.

Octovate berdiri secara accidentally dari mimpi.

Mimpi yang bisa dibilang sangat fokus sejak ia muda.

Sangat fokus.

Mimpi Ben tidak lari-lari.

Ia tidak pernah bilang mau dagang, ia juga tidak pernah bilang mau bisnis roti.

Ia sudah tahu kalau hidupnya adalah di bidang creative industry.

 

Baca Juga : Ben Soebiakto, Kegilaan Menggambar, Tidak Naik Kelas, The Dots Will Connect