Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Liputan Dari CAV Salon : Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Social Network Service Di Jepang

Posted by & filed under Featured, Running a Business, Social Media.

 Top 3 SNS

Editor’s note : CAV Salon by Cyber Agent Ventures yang diadakan pada bulan puasa kemarin membicarakan tentang Social Network Service (SNS). Apa saja SNS di Jepang dan apa saja faktor sukses mereka ? Tujuan dari CAV Salon kali ini adalah memotivasi dan memberikan pengetahuan kepada rekan-rekan startup yang berminat membuat SNS di Indonesia. Dalam CAV salon ini para startup entrepreneur bisa berdiskusi secara in-depth bersama entrepreneur lain dan pihak CAV yang diwakili oleh Liauw Oswin Liandow dan Steven Vanada.

Berikut ini adalah presentasi oleh Liauw Oswin dan diskusi-diskusi yang ada di meetup kecil CAV Salon. Perlu diketahui bahwa tips-tips yang ada di artikel ini jangan dijadikan patokan semuanya, karena riset ini dibuat satu tahun lalu dan kemungkinan banyak hal yang mengalami perubahan.

 

Social network sebenarnya dibagi 2 jenis :

  1. Virtual , yang menggunakan ID tidak real. Misal Mixi (kebanyakan orang tidak pakai real name di Mixi), DeNa (based on avatar)
  2. Real ID, yang menggunakan ID real. Mis.Facebook, Path. Saya connect ke kamu karena saya tahu kamu siapa.

Keduanya, virtual dan real sama-sama berpotensi.

DeNa dimulai dari dating service, walaupun tidak pakai real id, bisa tahu kalau ada cewek di dekatnya, bisa dicari based on location, yang kemudian lama-lama menjadi game, jadi gamenya ada unsur dating dan main game bareng, jadi main game dengan orang yg tidak kenal, based on interest, bukan karena tahu satu sama lain. Karena sama-sama suka main game, bisa cari pasangan di situ. Sekarang DeNa menjadi salah satu social network papan atas.

Sedangkan di Mixi mereka membuat komunitas juga di offline. Saya anak band, saya cari event di Mixi bersama orang yang tidak saya kenal.

[slideshare id=25195091&doc=cavsalonpresentationbyliauwoswin-130813021110-phpapp02]

 

Mixi, Gree, Mobage (DeNa) : 3 pemain SNS di Jepang

 

Mixi

Mixi berdiri tahun 2004, sebenarnya saingan pertama mereka Friendster. Mixi awalnya Memiliki UI dan UX bagus sekali dibanding Gree dan DeNa, Mixi juga memiliki fitur diary, orang jepang sangat suka nulis blog. Nulisnya panjang-panjang, fitur “tinggalin jejak” / footprint sangat disukai user Mixi yang artinya kita bisa tahu user siapa saja yang sudah baca blog kita – tetapi hal ini tentu  harus dicocokkan dengan culture di negara masing-masing.

Belakangan ini user Mixi mengalami penurunan growth karena orang Jepang tidak suka mengupdate status ke public, masalahnya user mixi mulai banyak, di akun mereka tercampur antara teman SMA saya, teman kampus, teman kerja, bos, saudara, mereka tidak suka share ke semuanya. Kalau bos add kamu, kan kamu tidak bisa tolak ?

Mixi tidak cepat me-respon hal ini, sehingga user Mixi sudah terlanjur pindah ke Facebook karena Facebook ada fitur grouping – mau share status ke mana. Sebenarnya kalau Mixi merespon cepat, mereka masih bisa growth bagus.

Di Jepang ada social network yang hanya untuk ber-sembilan, namanya close.

Melihat keadaan seperti ini, kita bisa lihat bahwa walaupun Facebook sedemikian kuat, tetapi ada niche-niche yang tidak bisa dijawab oleh Facebook.

 

Success Factor Mixi

  • Adanya diary function
  • Footmark function (Setelah kita view sesuatu kita bisa meninggalkan jejak). Orang jepang kalau tulis diary selalu pengen tau orang-orang siapa saja yang sudah liat diary mereka, yang sudah lihat status kamu siapa saja sih ? sebenarnya ini fitur penting SNS menurut saya dan bisa jadi keyword untuk founder SNS.
  • UI dan UX bagus dibanding kompetitor, saat mereka mulai 2004, Gree menggunakan server dengan “pelit” sedangkan Mixi tidak pelit jadi kalau user connect jadi lebih cepat.
  • Fitur mixi mengambil user yang memiliki influence, mereka mengambil orang-orang yang punya influence di band jadi bisa mengumpulkan orang yang punya interest di band
Sumber : http://www.slideshare.net/huiliu1988/japan-sns-site

Sumber : http://www.slideshare.net/huiliu1988/japan-sns-site

 

 

CAV Salon Social Network

Gree

Gree berdiri awal 2005, Gree adalah pelopor avatar yang bisa digunakan untuk game dan dating. Orang Jepang senang sekali dengan avatar yang rambutnya berdiri-berdiri misalnya “oh keren” dan mereka jadi mau ngobrol satu sama lain daripada cuma foto biasa saja. Karena itu Ameba Pico juga terkenal di Jepang karena culture avatarnya yang kuat.

Pada tahun 2006, Gree diinvest KDDI, telco terbesar ke-2 di Jepang) dan membuat userbasenya meningkat pesat. Hal lain yang membuat usernya meningkat adalah gamenya yang sangat disukai orang Jepang.

  • Fokus di mobile : Jepang seperti halnya Indonesia memiliki akses mobile internet yang tinggi. Orang-orang internet user di Indonesia banyak yang tidak punya PC tetapi langsung mobile.
  • Insentive. User senang sekali kalau dikasih hadiah virtual, user jadi stick dengan SNS.
  • Menggabungkan SNS dengan game. SNS yang kuat umumnya memiliki satu kategori, nichenya di mana ? apakah di game ? dating ? communication ?
  • Briliannt monetizing

Gree melakukan monetizing gila-gilaan dan kadang kurang etis.

Bisa dibilang menyiksa user, ada orang yang menghabiskan ratusan ribu yen per bulan karena in app purchase. Untuk naik level awal-awal mudah, lama-lama susah sekali. Kalau tidak bayar tidak akan bisa menang. Zynga termasuk yang paling parah, mentarget 25 tahun ke bawah

Gree sempat disorot polisi karena ada anak umur belasan tahun bayar pakai credit card sampai tidak bayar, hasilnya, sekarang ditetapkan oleh hukum di Jepang tentang umur termuda yang boleh main game.

Ronald Loice (CAV Salon Participant) :  Sharing sedikit, di game online ada teknik layering, di dunia game online aplikasinya adalah game currency, never make game currency same with real money, misalnya kalau di Zynga, 1 point Zynga harganya pasti ganjil di rupiah. Anak kecil kan tidak bisa menghitung, kalau pakai kartu kredit mereka Cuma bisa klik-klik dan tahu-tahu uang mereka habis. Sedangkan candy crush mereka tidak separah Zynga, karena Candy Crush menulis dollar nya berapa, kalau Zynga menulis pointnya Zynga.

Di sisi lain kita lihat ini briliant tapi di saat bersamaan juga gila.

Strategi in depthnya lagi, purchasemu sebagai pemain tidak pernah habis, di walletmu ada 100 point, untuk beli perlunya seringkali 27 atau 23. Best practice di game online adalah dalam 3 bulan  si user main, currency mereka tidak akan pernah habis atau selalu ada sisa. “duh tinggal 3 lagi ini, tidak bisa belanja, beli lagi 7 point” setelah dibelanjakan sisa lagi, belanja lagi.
Trik seperti ini memang kurang bagus, dalam long term kurang bagus.

Rhein (CAV Salon Participant) :  Ini mengingatkan saya pada kalimat di sini :   “When you introduce a virtual currency people lose all track of time, space and value”.

Cyber Agent Venture Indonesia

DeNa

Sedangkan DeNa, benar-benar fokus pada user needs. Hebatnya mereka, user behavior per hari benar-benar di cek, “user pakai ini service, apakah besoknya balik lagi?” KPI di cek per hari.

Mereka melakukan PDCA (Plan Do Check Action) dan menggunakan kacamata user. Apakah user bakal senang ?

DeNa adalah pelopor social game di Jepang. Kalau Gree adalah pelopor avatar, DeNa membuat avatar semakin menarik dan juga kuat di digital promotion.

 

Summary

Untuk starting period, untuk membuat SNS berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Investlah di server yang bagus.
  • Function yang membuat komunikasi antar user kuat misalnya diary footmark, hal ini tergantung negaranya masing-masing, kalau di Indonesia apa ?
  • SNS yang fokus pada game seperti Gree dan DeNa harus memperbanyak free games, jangan banyak yang bayar.
  • Meraih user yang memiliki influence.
  • Buat UI UX yang bagus.
  • Berikan points/insentive/virtual goods kepada user.

 

Baca juga :

Startup Seperti Apa Yang Dicari Oleh Cyber Agent Ventures ?

Apa Yang Harus Dilakukan Internet Entrepreneur Ketika Memulai Startupnya ?

Belajar Pengelolaan Ecommerce Dari Ferry Tenka, Founder Bilna