Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Memahami Bisnis Model Monetizing App : Utility Vs Stickiness

Posted by & filed under Bisnis Model Kanvas.

bisnis model apps indonesia

 

Editor’s note : “App” adalah kata yang sering digunakan untuk aplikasi mobile yang diinstall di mobile device. Ada beberapa jenis bisnis model yang bisa diterapkan untuk app (khususnya consumer app) dan banyak pertanyaan terkait bisnis model app seperti “Kenapa ada apps/games yang harus membayar untuk didownload ?” ,  ”Kenapa ada apps/games yang gratis ?” , “Kenapa Anda free mendownload Mig33 tetapi harus membayar untuk virtual goods ?” , “Kenapa free untuk mendownload evernote tetapi membayar untuk kapasitas lebih besar ?”. Tidak semua app harus dibuat free dan tidak semua app harus dibuat berbayar, bagaimana memahami batasan di antara keduanya ?

Logika dalam artikel ini bisa juga digunakan untuk model bisnis online lainnya selain app, seperti “Kenapa Wall Street Journal membuat paywall ?”  , “Kenapa Jack Ma bersikeras menggratiskan Taobao ?”.

 

 

Hari ini tidak ada yang mempertanyakan bahwa apps economy akan menjadi sedemikian besar, industry apps dunia diprediksikan akan menghasilkan uang 30-40 billion dollar dalam 5 tahun ke depan. Sedangkan satu app developer menghasilkan 1,200 USD -  3,900 USD per app per bulan.

Kira-kira apakah ada business model yang spesifik untuk menghasilkan revenue yang massive ?

Akhir-akhir ini cara untuk menghasilkan uang melalui app terbagi menjadi 4 cara besar :

  1. Paid. Secara simple menjual app Anda. Tergantung dari partner distribution/billing Anda akan mengambil revenue 98%  sampai 70%.
  2. Iklan / Ad supported. Anda mendistribusikan app Anda free tetapi memiliki iklan di dalamnya, dengan berpartner bersama ad network seperti AdMob, InMobi atau Buzzcity, masukkan sedikit code dari mereka ke app Anda, kemudian tunggu pembayaran bulanan dari mereka, ad network akan merotasi ads di app Anda dan membayar 60-70% kepada Anda dari uang yang mereka dapatkan dari advertiser.
  3. Virtual goods, kadangkala disebut “freemium”, Anda mendistribusikan app Anda secara free tetapi ada beberapa premium service yang Anda tawarkan. Premium service memiliki bermacam-macam bentuk, dari yang disebut “credits” dalam contoh Skype sampai virtual items di games, sampai “ego services” di social networks.
  4. Subscription. Users/customers berlangganan sebuah service dan membayar fee secara reguler untuk terus mengakses service yang diinginkan.

Tentu ada banyak business model di luar sana (cross selling, data collection dan banyak lainnya termasuk kombinasi dari model di atas , tetapi 4 model di atas hanyalah model generik.

Bagaimana Anda memutuskan bisnis model apa yang paling cocok untuk Anda ?

Getjar, sebuah company app recommendation telah mereview ribuan apps dan banyak mempelajari case study dari app yang sukses telah membuat model yang simple terkait monetizing apps, disebut “US” model yang merupakan singkatan dari “Utility Vs Stickiness” Dengan hanya mengukur dua parameter ini bisa memberi gambaran model monetizing yang mana yang cocok untuk app Anda.

Utility, berarti setinggi apa tingkat entertainment atau produktivitas yang diberikan oleh app kepada user. Misalnya Anda bermain plant Vs zombies dapat memberikan anda level entertainment yang tinggi, di sisi lain, jika Anda memposting status update “saya lagi di bis” ke beberapa social network, akan memiliki tingkat produktivitas / utility yang tidak terlalu tinggi.

Yang ke-dua : Stickiness, games, walaupun memiliki tingkat entertainment dan utility tinggi, secara umum memiliki tingkat stickiness yang rendah. Beberapa orang memainkannya hanya beberapa kali, beberapa memainkannya sepanjang minggu, hanya satu dari ribuan yang sangat sticky seperti Angry Bird yang membuat Anda memainkannya terus berminggu-minggu atau bulan. Di sisi lain, Facebook atau email atau app lain bisa saja Anda gunakan seumur hidup dan Anda sangat sticky (balik terus) dengan app tersebut.

Berikut ini adalah model umum 2×2 dari Utility vs. Stickiness:

US Model

Jika Anda berada di kuadran pertama (high utility, low stickiness) business model yang wajar Anda pilih adalah “paid”. User bersedia membayar app Anda karena sifatnya yang high utility bagi dirinya, user biasanya tidak mau membayar untuk app yang memiliki nilai utilitas rendah. Di sisi lain Anda tidak bisa menggunakan bisnis model lainnya karena sifatnya yang low stickiness, sehingga jika Anda menempatkan iklan Anda, dikarenakan page view dan traffic yang kecil (low stickiness), Anda hanya akan menghasilkan revenue yang kecil.

Di sisi lain, jika Anda berada di kuadran ketiga (low utility, high stickiness) pilihan Anda sebaiknya adalah ads. Jika dilihat dari sudut pandang user, user tidak akan mau membayar untuk low utility app, jadi Anda tidak akan bisa menjual banyak app Anda. Di sisi lain, sifatnya yang high stickiness bisa membantu Anda menghasilkan banyak ads impression dan menghasilkan banyak dari advertising.

Jika Anda berada di kuadran kedua (high utility, high stickiness), Anda mendapatkan jackpot.

High utility berarti user bersedia membayar untuk app Anda.

High stickiness berarti anda bisa men-charge secara rutin (recurring payment) – bukan hanya membayar untuk download di awal – baik melalui virtual goods atau subscription – Salah apabila Anda hanya membatasi diri dengan pendapatan advertising revenue saja. Inilah kenapa perusahaan social game sangat sukses.

Jika Anda berada di kuadran keempat (low utility dan low stickiness) lupakan saja app Anda dan lakukan hal lain, Anda tidak akan menghasilkan uang di situ.

Walaupun memilih bisnis model terlihat mudah apabila Anda memahami konsep Utility/Stickiness, ada beberapa faktor lain yang harus Anda perhatikan terkait model generic ini, yang disebut dengan marketability.

bisnis model app indonesia

Grafik di atas menggambarkan bahwa dengan jumlah dana marketing yang sama Anda akan mencapai skala yang lebih besar jika app Anda free (Monetizing dari ads dan virtual goods selama ini dianggap free oleh user).

Untuk setiap dana marketing yang Anda keluarkan, dengan konsep free app Anda kemungkinan besar bisa mendistribusikan 10-50 kali lebih banyak daripada app berbayar dan berpotensi menghasilkan profit lebih banyak. Ini yang perlu Anda tes.

Anda perlu bereksperimen untuk mengetahui multiplier dari marketability Anda di berbagai channel yang berbeda, misalnya Anda membuat demo version, atau ad supported version dan membandingkannya dengan hasil dari full paid app.

Sangat penting untuk mempertimbangkan faktor marketability Anda karena bisa mempengaruhi bisnis model Anda.

Tujuan dari artikel ini adalah memberikan Anda pemikiran yang benar tentang bisnis model dari app Anda. Tujuan utama Anda adalah memaksimalkan revenue secara keseluruhan. Total revenue Anda adalah sebuah fungsi dari skala Anda dan user value secara individual. Sedangkan skala Anda dan user value dihasilkan dari faktor-faktor seperti utility, stickiness dan marketability. Ketika Anda mengkombinasikannya dengan baik, Anda bisa memenangkannya.

 

Baca Juga :

 Tren Monetisasi Distribusi Global Mobile App

Anatomi Bisnis Model Freemium Yang Menguntungkan

Kenapa Perlu Menggunakan Bisnis Model Kanvas ?