Rahasia @Shopatever (Everindo) Mendapat 1000+ Transaksi Dalam 5 Bulan di Ebay dengan Modal Rp 2 Juta

Posted by & filed under Featured, Interview, Running a Business, Startup.

Bagaimana cara manage merchant dan mengedukasi merchant supaya barangnya bagus?

Kita bilang sama merchant-merchant kita, bahwa kita berjualan di Ever ini tidak hanya mendistribusikan barang mereka ke luar negeri, tidak hanya itu. Kita juga membawa nama bangsa dan negara. Kalau barangnya jelek, yang kena komplain bukan hanya kita sebagai seller, tapi Indonesia sebagai Negaranya.

Dan itu kita lakukan. Seperti kemarin ada barang yang dikirim oleh merchant kita dari Bandung. Dia kirim tas ke kita, ternyata ketika masuk quality control, jahitannya tidak rapih. Itu kita kembalikan ke dia.

Seperti yang tadi kita bilang, barang-barang yang ada itu semuanya kita sortir dulu, jadi tidak semuanya bisa masuk. Bukannya mentang-mentang dia punya produk lokal, lalu dia mau gabung, dan kita “iya-iya” saja. Tidak seperti itu. Bukan berarti karena dia designer lokal, produksi satu dress dan dihargai “gila-gilaan” terlalu tinggi, lalu kita mau menjual itu? tentu tidak bisa.

Karena tidak masuk akal, dan tidak akan masuk ke pasar Internasional. Mungkin kalau untuk konten lokal, itu masih bisa diterima. Tapi kalau sudah membicarakan global, tidak segampang itu. Kita juga tidak mau mengambil resiko untuk barang yang tidak bisa dijual. Karena balik lagi, semua di eBay itu ada biayanya, listing pun ada biayanya, dan itu yang menjadi cost untuk kita. Kalau kita asal pasang barang saja yang tidak ada salesnya, kita yang rugi sendiri.

Ada beberapa merchant kita yang agak marah, karena barangya di Indonesia bisa sangat laku, tapi kenapa ketika dijual ke luar negeri malah tidak laku ?  Karena seleranya beda. Kita ini pangsa pasarnya bule, bukan Indonesia. Trendnya juga mungkin sudah beda.

Mungkin yang satu trendnya sedang baju warna biru di Indonesia, di luar negeri trendnya baju warna kuning. Disini sedang trend celana pendek, disana trendnya dress. Jadi tidak mungkin sama.

Selain ada quality control, feedback ke setiap merchant juga kita lakukan. Kita juga selalu mengedukasi mereka lagi. Seperti misalnya ada beberapa barang yang banyak requestnya, simple thing sih. Misalnya, kami minta mereka membuat tas dengan resleting karena demandnya sedang tinggi, itu kita kasih tahu balik lagi ke merchantnya.

Sampai ada satu merchant yang bertanya ke kita sebelum dia produksi banyak. Dia nanya, “tas laptopnya seperti ini bukan? Yang sedang laku di eBay seperti apa sih?”. Dan itu jadi sebagai pengarahan ke mereka.

Bahkan ada beberapa buyer kita di luar negeri, yang tadinya hanya beli satu, sekarang jadi beli dalam jumlah yang banyak, untuk dijual lagi di storenya dia. Jadi tidak menutup kemungkinan, yang tadinya kita hanya B2C (Business to Consumer), akhirnya bisa B2B (Business to Business) juga.

Me-maintain merchant tidak terlalu sulit, sering-sering ngobrol saja dengan mereka. Mereka keluh kesah apa, kita terima. Berikan juga feedback yang bagus juga untuk mereka. Dari 60 merchant itu kita urus satu per satu, jadi tidak semuanya sekaligus kita terima barangnya. Pelan-pelan kita sortir.

Kita lihat dulu, misalnya ada merchant yang jualan jaket. Kita bilang, “nanti ya kita listingnya, karena sekarang ini sedang summer. Jaketnya tidak akan laku.” Jadi kalau ada barang yang bisa dimasukkan sekarang, akan kita dahulukan.

Ada merchant kita yang perusahaan emas, dia protes “kok barang saya belum diupload ?” Kita jawabnya, “sebentar pak, harga emas di dunia lagi naik, kalau barang bapak dimasukkan ke eBay, tidak akan ada yang beli juga. Karena secara agregat harganya lagi tinggi.”

Kita harus tunggu, karena ini mainnya secara makro, bukan mikro lagi. Kita seperti International trade, tapi skala kecil-kecilan. Ibaratnya ekspor-impor versi mini, lebih simplenya.

Merchant yang puas itu seperti apa?

Gampangnya sih mereka jadi lebih termotivasi. Contohnya seperti tadi, ada produsen tas di kita, yang mereka itu niat banget. Sampai akhirnya mereka membuat tas yang ada zippernya, membuat cover untuk tasnya itu sampai benar-benar total.

Tadinya mereka tidak kepikiran. Pertama kali hanya iseng aja, mereka bilang “Ya sudah deh, boleh deh. Tapi kamu yang fotoin ya”. Kita pikir, oke kita yang foto, kita yang kasih service foto dan deskripsi produknya segala macem, tapi ternyata tasnya laku loh.

Mereka kaget, mereka tanya darimana aja yang beli? Kita bilang dari Kazakhstan, dan mereka makin takjub lagi. Minggu depannya kita bilang itu laku lagi, mereka heran karena ternyata banyak juga yang beli produknya.

Akhirnya mereka tanya ke kita, “model apa aja sih yang sedang laku di eBay? Nanti saya bikin deh sesuai model yang laku di eBay.” Sehingga mereka meningkatkan produknya lebih-lebih lagi. Yang tadinya pakai zipper yang biasa, sekarang zippernya diberi nama brandnya, pakai kotak segala macem.

Kita juga jadi puas melihat mereka seperti itu. Dan akhirnya mereka juga bisa membangun bisnisnya lebih baik lagi. Karena akhirnya, tasnya itu jadi terlihat benar-benar professional. Yang tadinya cuma home-made industri.

Dan mereka bisa dengan bangga cerita ke pelanggannya di Indonesia, kalau tasnya itu dibeli sama orang Amerika, tasnya di beli sama orang Rusia, tasnya juga sudah sampai Jepang. Mereka senang sekali walaupun bule-bule ini belinya hanya satu-satu. Karena biasanya orang-orang akan berpikir kalau sudah dibeli sama orang luar negeri, export itu ribet dan “wah” sekali. Padahal memang jualnya satu-satu item, tapi yang belinya banyak.

Quality controlnya seperti apa?

Makanya kenapa untuk barang-barang yang di luar Jakarta harus dikirim ke warehouse kita, supaya kita bisa lihat langsung barangnya gimana.

Dan untuk yang di Jakarta, setelah di pick-up sama kurir kita, harus balik lagi ke kita, kita bongkar, dan kita package ulang. Itu harus dicek lagi semuanya.

Seperti misalnya kemarin ada miss ternyata jahitannya salah. Atau ada yang kotor bagian tasnya. Itu penting, karena kita juga punya service dan komponen yang membuat kenapa konsumen kita balik terus ke kita. Kita punya service yang lumayan bagus.

Dari bahan juga penting. Kita melihat bahannya dulu, kalau misalnya itu terlalu beresiko dan terlalu butuh “handling with care”, biasanya kita packing lebih bagus lagi. Atau bahkan kita tidak akan menjualnya sama sekali.

Seperti ada merchant kita yang kreatif sekali membuat satu aksesoris, modelnya 3D dan kontemporer, itu bentuknya besar dan sangat susah untuk dipacking. Kalau dipacking pun pasti nanti akan pecah.

Jadi akhirnya kita pending dulu deh. Balik lagi seperti yang tadi kita bilang, karena tidak semuanya yang diberikan ke kita, bisa kita terima begitu saja. Tetap harus dicek ulang.

Soalnya sayang aja, kalau sudah masuk listing tapi tidak ada yang beli. Barang pecah belah juga belum bisa kita distribusikan, karena kita masih mencari partner shipping yang aman. Sekarang partner shipping kita pos Singapura, bukan pos Indonesia.

Alasannya karena yang pertama, pos Indonesia masih belum bisa diajak kerja sama. Yang kedua, mereka belum terlalu care dengan barang-barang dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri. Yang ketiga, dikirimnya bisa sangat lama.

Sampai akhirnya kita ditawarkan oleh eBay, “mau gak kerjasama dengan pos Singapura? dengan harga yang sama, tapi jangka waktu pengirimannya bisa 10 hari lebih cepat”. Akhirnya kita ambil yang itu.

 

Pada saat kita berjualan sesuatu, kita harus tahu kompetitor kita jualnya berapa. Karena dari barang-barang yang dijual, orang-orang pasti akan mencari yang terbaik.Enaknya di eBay, kita bisa tahu kompetitor kita siapa, mereka berjualan apa, dan harganya berapa.

Ada pesan lain untuk yang akan bergabung?

Kalau punya produk bagus, dan bingung cara jualnya kemana, kontak kita aja. Kita yakin kok semua produk pasti ada pasarnya sendiri. Tapi memang harus dicari pangsa pasarnya itu, yang tepat untuk produk-produk Indonesia di mana. Itu yang sedang kita usahakan sekarang.

Dan yang kita sediakan ini untuk para UKM dan SME. Bukan cuma SME, tapi perusahaan yang besar dengan brand terkenal juga ada, sampai ke perusahaan yang hanya produksi selusin dalam sebulan, itu bisa kita bantu. Asalkan kualitas produk yang mereka bawa itu cocok dengan apa yang kita inginkan.

Intinya sebenernya gini, pada saat kita berbisnis itu kan sama aja. Pada saat kita berjualan sesuatu, kita harus tahu kompetitor kita jualnya berapa. Karena dari barang-barang yang dijual, orang-orang pasti akan mencari yang terbaik.

Bedanya di eBay adalah, di eBay ini unik. Karena kalau misalnya kita berjualan konvesional biasa, mereka bisa dapat touch and feel experience.

Di eBay tidak bisa seperti itu, karena hanya berdasarkan foto, deskripsi produk, harga, dan feedback. Enaknya di eBay, kita bisa tahu kompetitor kita siapa, mereka berjualan apa, dan harganya berapa.

Jadi kita bisa menentukan harga kita sendiri. Memang agak menjadi tantangan untuk kita. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita berhadapan dengan seller-seller China, dimana mereka bisa memberikan barang dengan harga yang luar biasa murah.

Makanya challenge kita sekarang disitu, dan untungnya sampai saat ini konsumen kita puas dengan harga maupun barang yang mereka dapat.