“Say No To Passion” by @LUNNOtheband

Posted by & filed under Startup.

Editor’s note : Imanzah Nurhidayat adalah pemilik banyak passion. Co-founder dari @RajaMICE yang saat ini aktif sebagai Editor/Arts Curator bagi @cultera @IDtshirtday2011 dan @tjap_menak , juga sebagai Artist Manager untuk @Super_Girlies, serta Volunteer bagi @MTLovenHoney

Sumber gambar : Gapingvoid

 

Kita bisa dimulai dari mana, kuliah apa kerja nie? Kuliah aja biar gelar mentereng mejeng. Kerja aja dulu buat bantu kebutuhan dapur orang tua dan juga biaya sekolah adik-adik. Boleh bilang karena passion memilih kuliah. Boleh bilang karena  passion pada duit hingga malah pengennya kerja dulu. Apakah begitu setelah dipikir-pikir ? Say No To Passion.

Jika karena passion lebih mending gak kuliah dan gak kerja.  Padahal rutinitas bersekolah sesuai janji siswa sampai tingkat menengah itu rasanya ngebosenin buat saya dan mungkin juga kita semua.  Jika menuruti passion maka lebih baik cepat menikah. Bisa jadi begitu. Sehingga jenjang pendidikan pun bukan pilihan berdasarkan passion.

Tidak adanya passion membuat orang fokus pada jenjang rejeki yang ada. Yang memilih nikah setelah lulus SMA pun punya rejeki  sendiri. Yang memilih kuliah di fakultas A karena bukan passion-nya pun akan memiliki rejeki  dari sudut tersendiri dibandingkan anak Fakultas B yang penuh passion. Kalau saya percaya bahwa mungkin ada perbedaan rejeki antara yang memilih fakultas karena passion dengan yang dipaksakan memilih fakultas. Bedanya adalah pada usaha dan tekanan yang pasti lebih hebat pada mahasiswa yang kuliah di fakultas yg bukan pada passionnya. Itung-itungan dulu,  rejeki mereka bakal sama gak dengan mahasiswa penuh passion di fakultasnya? Kira-kiranya  kerja keras menolak passion bakal dikasih rejeki  lebih olehNYA. Aminin aja daripada kerja keras kita selama ini kita batalkan karena gak percaya, hehe.

Menghindar dari Passion juga akan menghindarkan dari banyak masalah. Berapa banyak yang ditentang keluarga karena memutuskan berhenti  kerja untuk mengejar passion jadi founder bakal- sukses? Bayangin berapa besar doa kejengkelan employer yang dizalimi saat karyawan dan klien-nya dibawa oleh ex-karyawan yg nurutin passion buka startup. Masalah berujung dosa pun datang saat rekrutmen karyawan dan bilang “mari maju bersama di startup ini “ yang nyatanya cuman berbohong karena mepet budget tapi pengen punya staff.

Demi kebaikan pastinya jangan menuruti passion.  Jangan turuti passion yang tiba-tiba muncul. Yang dalam pengambilan keputusan diperhitungkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Hitungan too good to be true bukan dasar pertimbangan yang baik. Jadilah founder yang tanpa passion sadar berhitung bahwa orang akan lebih besar dan banyak menikmati manfaat Go Live dari Startup baru.  Bahkan secara spiritual setan akan jadi penggoda bagi programmer, desainer cemerlang dengan hembusan passion untuk pindah kuadran jadi founder startup.  Padahal kemampuan akademis , skill, network, dan pengalaman kerjanya sangat bermanfaat jika diteruskan dalam jenjang karir yang sudah menaik dalam masa panen. Dalam jiwanya setan itu tidak suka dengan manusia yang potensinya besar.  Passion itu bisa jadi adalah perbuatan setan. Jika potensi bernilai tinggi, say no to passion. Kembangkan dan perbaiki potensi di jalur saat ini yang tinggal menunggu masa panen walaupun suasana kerja saat ini dibikin ribut oleh passion.