Sharing Apa yang Saya Pelajari Setelah Mengikuti College Startup Lab (Part 2) | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Sharing Apa yang Saya Pelajari Setelah Mengikuti College Startup Lab (Part 2)

Posted by & filed under Featured, Startup Indonesia.

Ditulis oleh Ubaidillah MughniYoung digitalpreneur, seo geek dan menyukai dunia startup

Apabila anda sudah membaca artikel sebelumnya Sharing Apa yang Saya Pelajari Setelah Mengikuti College Startup Lab (Part 1), kali ini kita akan membahas part 2 nya, kali ini saya akan share tentang sebuah overview design thinking process.  Apa sih design thinking itu? Bagaimana proses yang terjadi di dalamnya? Apa pentingnya proses design thinking dan penerapannya di bisnis? Beberapa poin pentingnya akan dibahas di sini.

Sebagai awalan, kamu bisa mendowload resource tentang Design Thinking di sini An Introduction to Design Thinking Process Guide.

Selama dalam College Startup Bootcamp, saya mendapatkan practical tips dalam melihat peluang pada setiap masalah.  Kalau kamu pernah membaca tentang “five gold midas touch”, sebuah cerita zaman dahulu yang menceritakan seorang dengan keahlian mengubah sesuatu menjadi emas, mungkin proses design thinking ini adalah salah satu toolnya 😉

five midas touch

Di dalam sebuah sesi dengan tema human centered design, saya menyimpulkan bahwa design thinking adalah proses berpikir yang berfokus pada manusianya itu sendiri which is dalam kasus ini “manusia” nya adalah potensial target market kita.  Hal yang perlu diingat di sini, 5 tahapan dalam design thinking adalah bukan suatu proses yang terpisah –pisah satu sama lainnya tetapi menjadi satu kesatuan dan juga menjadi sebuah mindset. Nah loh bingung? Ga usah bingung, let’s take a look deeper yok.

Kalau mau disingkat, kelima proses design thinking adalah:

“E – D – I – P – T”

1. E – Empathy Stage

Empathy? Apa sih empati? Yess, that’s right. Poin terpenting dalam membuat sebuah bisnis adalah, kamu harus benar-benar memahami target market potensial kamu.  Pada workshop college startup lab kemarin, karena temanya adalah “how to improve the urban workers life”, ke-10 tim diharuskan untuk menginterview urban workers.

Hal yang saya dapatkan di sini adalah, jangan gunakan asumsi kita sendiri ketika mencari sebuah masalah. Berasumsi atau berhipotesa itu boleh aja, buuut, kita harus mem-validasi asumsi kita akan masalah yang dialami oleh target market kita dengan cara menginterview mereka.

Tool yang bisa kita gunakan ketika melakukan empathize our potential target market di antaranya adalah empathy map.

Avatar+Empathy+Map

Pada stage empathize ini, kita harus menginterview potential target market kita untuk benar-benar memahami potential target market kita, apa yang mereka dengar, rasakan, pikirkan, katakana, masalah-masalah utama yang mereka hadapi sehari-hari dan expectation atau harapan mereka terhadap masalah-masalah tersebut.

Poin terpenting pada tahap empathize ini adalah kamu bisa membuat sebuah avatar atau persona yang menunjukan profile dari potential target market mu.

Sebuah target market yang sudah didefinisikan dengan sangat jelas akan sangat memudahkan kita untuk tahapan-tahapan selanjutnya mulai dari mencari tahu masalah utama mereka apa saja, channel marketing yang sesuai apa saja (apakah facebook yang notabene digunakan banyak oleh generasi x, atau line yang digunakan banyak oleh anak muda, dll), selain itu kita juga bisa menentukan media iklan yang cocok. Menarik kan?

 2. D – Define Stage

Pada tahapan selanjutnya, setelah kita mengetahui tentang avatar atau persona dari target market kita, step selanjutnya adlaah kita harus mendefinisikan masalah paling besar dan utama dari avatar/persona potential target market kita.

Sebuah masalah yang terdefinisikan dengan jelas akan menghasilkan sebuah solusi yang unik dan distrupting. Hal paling penting ketika menentukan atau membrainstorm masalah utama yang dihadapi oleh target market kamu adalah jangan pernah memikirkan solusinya terlebih dahulu, kamu cukup memikirkan masalahnya saja.

Sebagai contoh seperti ini, ketika ada orang yang ingin menancapkan paku ke dinding, anda mencoba menawarkan sebuah solusi Palu yang sangat kuat. Hal yang perlu disadari di sini adalah KEBUTUHAN utama dia adalah menancapkan paku tersebut ke dinding dan bukan bagaimana caranya, kalau anda bisa membuat paku yang menempel dengan sendirinya tanpa diketok dengan palu (walau agak impossible sih) ya kenapa membuat palu?

Poin pentingnya adalah, fokuskan terlebih dahulu pada NEED atau Kebutuhan Utama dari potential target market anda bukan solusinya.

3. I – Ideate Stage

Langkah selanjutnya dalam design thinking adalah anda meng-ideate atau melakukan brainstorming ide-ide terhadap solusi terhadap masalah utama dari target market anda.

Pada tahap pertama pada ideate stage, tidak penting solusi anda itu mungkin untuk dieksekusi atau tidak, jadi prosesnya adalah fokus saja dulu brainstorming pada solusi-solusi terhadap masalah. Setelah itu, pada tahap selanjutnya anda harus mengelompokkan solusi-solusi tersebut berdasarkan 3 point penting: feasible, viable dan desirable.

feasible viable desirable

Pilihlah sebuah solusi yang paling feasible, paling viable dan juga paling desirable.

4. P – Prototype Stage

Apabila anda sudah menemukan solusi yang paling feasible, viable dan juga desirable. Langkah selanjutnya adalah anda harus melakukan prototyping.

Pada tahap prototyping ini, ada bacaan menarik yang saya temukan yaitu tentang MVP (Minimum Viable Product).

Namun sebelum membuat sebuah prototype dalam sekala besar dengan cost yang juga tinggi, tahapan dalam membangun prototype terbagi menjadi 3 bagian besar yang disebut juga dengan the level of prototype fidelity.

large_1402921794_sketch,_wireframe,_mockup

a. Low level of fidelity: SKETCHING

Pada tahap sketching, kamu hanya perlu mencoret-coret sketsa planning terhadap produk, service atau mungkin tampilan website atau apps mu dalam sebuah kertas.  Setelah itu tunjukan gambaran sketsa tersebut ke calon target market potensial mu, lihat respon mereka dan catatlah feedbacknya.

Setelah mendapatkan feedback yang cukup, kamu bisa lanjut pada tahap kedia dari pembuatan prototype yaitu wireframe.

b. Medium level of fidelity: WIREFRAME

Wireframe adalah medium level of fidelity, pada tahap prototyping yang ini, kamu mungkin sudah menggunakan tool seperti potoshop atau tool lainnya, namun tidak perlu mendetail sekali, cukup mungkin berikan space berlambang x pada fitur-fitur yang akan kamu simpan pada produk atau service mu.

Setelah itu, cobalah minta feedback dari wireframe mu pada target market potensial, catat feedbacknya dan perbaiki wireframe mu. Apabila kamu rasa sudah cukup, bisa lanjut pada tahap selanjutnya yakni mock-up.

c. High level of fidelity: MOCKUP

Pada tahap terakhir prototyping ini: mockup, kamu perlu membuat tampilan gambar se-real mungkin, kalau kamu tidak bisa design, tenang saja, hire saja temanmu atau outsource ke pihak ketiga untuk menggambarkan sebuah design yang menarik dan eye-catching seperti aslinya nanti. Setelah itu, minta feedback dari calon target market potensial mu.

Sekarang pertanyaanya adlaah, apa sih gunakanya prototyping pada semua level ini? Salah satu fungsi terpentingnya adalah supaya kamu tidak membuat sesuatu yang tidak pas/klop dengan target market mu.

Ingat yah, jangan gunakan asumsi semata dalam melakukan sesuatu, selalu gunakan hipotesa, validasi, evaluasi. Dan lakukan hal tersebut terus menerus.

5. T – Test Stage

Pada tahap terakhir, setelah aplikasi atau website mu pada MVP tahap pertama sudah jadi, kamu bisa mencobanya langusng pada target market potensialmu.  Seperti biasa, catat feedback yang kamu temukan pada tahap testing ini.

Apabila ada satu atau banyak hal yang perlu kamu improvisasi, lakukanlah hal tersebut sesegera mungkin.

Kelima proses design thinking ini sangat berkaitan satu sama lain, kamu bisa melakukannya lagi dan lagi dari tahap satu sampai ke lima atau dari manapun ketika dalam prosesnya nanti.

Ketika kamu membuat sebuah produk atau service sebagai sebuah solusi terhadap masalah yang sudah tervalidasi, kamu tidak akan pernah lagi membuat sesuatu yang tidak diinginkan oleh market.

Sudah siap menjadi the next midas touch legend?

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games