Stanford University Journey – Silicon Valley Amazing Culture in Entrepreneurship (Part 1)
Silicon Valley Entrepreneur: The more you succeed, the more you oblige to share
Satu hal yang menarik, entrepreneur di Silicon Valley memiliki budaya untuk berbagi tentang kisah sukses mereka. Dosen-dosen di Stanford banyak yang merupakan pensiunan entrepreneur sukses seperti Steve Blank yang mengabdikan dirinya untuk mengajar. Selain itu, alumni Stanford sukses yang belum pensiun sebangsa Larry Page dan Sergey Brin (Google), William Hewlett dan David Packard (Hewlett-Packard), Jerry Yang (Yahoo), dan lain-lain juga sering sekali memberikan kuliah tamu di Stanford. Saat saya datang juga sedang ada kuliah umum dari Bill Gates yang rutin sekali datang ke Stanford bahkan menyumbang sebuah gedung walaupun dia bukan alumni Stanford.
Silicon Valley: A Cluster driven by crazy venture capitalists
Blank menjelaskan bahwa untuk membuat ekosistem kelas dunia, diperlukan sebuah cluster. Blank memberikan contoh cluster seperti Hollywood, yang merupakan cluster perfilman dunia, dan Wallstreet, yang merupakan cluster finansial dunia. Di Hollywood misalnya, terdapat ekosistem yang sangat utuh dimana terdapat rumah-rumah produksi besar seperti Universal, Paramount, dan lain-lain; dengan dibarengi talenta-talenta artis. Di Wallstreet, terdapat perusahaan-perusahaan finansial besar seperti Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan-lain-lain; dibarengi dengan bursa New York dan didukung dengan talenta-talenta dari universitas terdekat seperti Harvard dan MIT.
Ekosistem yang utuh tersebut juga terdapat di Silicon Valley yang menjadikannya sebagai cluster terbaik di dunia untuk startup digital. Perusahaan-perusahaan tech terbesar di dunia hampir semua bertempat di Silicon Valley, sebut saja Facebook, Google, dan Apple. Sebut perusahaan-perusahaan teknologi besar lain dan hampir pasti perusahaan yang disebut memiliki kantor di Silicon Valley. Ekosistem didukung dengan adanya talenta-talenta dari Stanford. Secara harafiah, tidak ada dinding pembatas antara Silicon Valley dan universitas Stanford. Hal ini menjadikan perekrutan talenta dan juga pembelajaran mahasiswa sangatlah mudah dan teroptimasi.
Satu hal yang paling esensial dalam membentuk ekosistem Silicon Valley adalah para venture capitalists (VC) yang gila. Terdapat VC-VC terkenal dari baik seed A,B, C seperti Y Combinator, Mayfield, Sequoia Capital, dan lain-lain. Kegilaan para VC ini, menurut Blank, adalah bahwa portofolio mereka 90% gagal. Pada dasarnya, mereka hanya mencari 10% yang berhasil untuk menjadi outlier yang bisa menghasilkan keberhasilan yang eksplosif. Bahkan beberapa VC membuat program “DROP OUT & START UP” dimana mereka mendorong dan membayar mahasiswa untuk berhenti kuliah dan fokus mendirikan startupnya. Menurut saya inilah yang namanya sebuah kegilaan.
Saya sempat berkunjung ke kantor salah satu startup di Silicon Valley, Color, sebuah media sosial untuk fotografi. Kantor mereka sangatlah besar dan bagus padahal aplikasi mereka belum muncul di pasar. Lebih gilanya, Color sudah diinvestasi sebesar US$ 41 juta oleh Sequoia Capital yang pernah mengorbitkan startup seperti Zappos menjadi besar. Blank pun berkata, “Unless having crazy financial people, the cluster will NOT establish!”
Key-Take for Indonesia
Di Indonesia, kegagalan masih dianggap sebagai hal yang tabu. Saya pikir, sebagai orang Indonesia, kita harus bisa menghargai kegagalan orang dan berhenti menganggap kegagalan sebagai hal tabu. Kita memang tidak boleh memiliki mental untuk gagal, tetapi kita harus memiliki mental untuk berani mengambil risiko yang telah diukur dengan baik. Sebab orang bijak berkata, “Bad people don’t learn from failure. Good people learn from their failure. Great people learn from other people’s failure”. Dalam benak saya, saya merenungkan bahwa di Indonesia sebagian kisah startup yang diperdengarkan merupakan kisah-kisah sukses, padahal semestinya orang-orang mendengarkan kisah gagalnya startup. Ke depannya, haruslah dibuat buku atau seminar tentang “Kisah-kisah Kegagalan Startup”. Saya yakin orang bisa belajar lebih banyak dari kisah-kisah gagal.
Selain itu, sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, saya melihat masih kurang para praktisi yang memiliki kesadaran untuk berbagai khususnya di kampus. Sudah selayaknya seseorang, terutama yang sudah sukses di lapangan, untuk membagikan apa yang telah dia terima dan selebihnya ada pepatah berkata “The more you give, the more you get”.
Di Indonesia juga diperlukan juga VC-VC yang berani mengambil risiko besar selain entrepreneur yang risk-taking. Dengan mengesampingkan ekosistem startup yang mungkin masih belum siap sekarang, kehadiran VC yang gila tentunya akan menjadi leverage bagi kehidupan startup di Indonesia. Potensi startup Indonesia yang besar harus dikembangkan dan VC-VC berperan sangat esensial dalam memajukannya.



