Stanford University Journey – What I Learned About Startup Entrepreneurs (Part 2)
Editor’s note : Guest post ini ditulis oleh Pascal Maximilian Sembel , mahasiswa Universitas Indonesia semester akhir jurusan Finance yang memiliki passion di technology entrepreneurship dan Marketing. Sebagai informasi tambahan, term “startup” yang digunakan dalam artikel ini berarti bisnis kecil di bidang teknologi.
Steve Blank, yang saya ceritakan dalam posting sebelumnya, juga mengajarkan tentang jenis-jenis entrepreneur dan karakteristik dari startup entrepreneur yang membedakan dengan perusahaan-perusahaan besar.
Adapun, Blank membagi entrepreneur menjadi 6 bagian.
- Lifestyle Entrepreneur , Entrepreneur ini adalah orang yang menjadi entrepreneur dengan motif menjalankan hobi dan tidak terlalu memperhatikan motif finansial. Contoh dari entrepreneur ini adalah para surfer-surfer yang membuka surf shop di pantai untuk bisa mendukung hobi mereka. Mereka tidak peduli dengan keuntungan asalkan uang yang dihasilkan cukup.
- Small-Medium Entrepreneur (Pengusaha UKM), Pengusaha UKM, menurut Blank, adalah pengusaha yang memiliki tujuan untuk sekedar menghidupi keluarganya. Bisnis UKM cenderung sulit untuk mendapatkan investor.
- Scalable Startup Entrepreneur, Entrepreneur dalam bidang ini adalah orang-orang yang ketika bangun di pagi hari mereka akan berkata, “Saya akan mengalahkan Google.”
- Social Entrepreneur, Entrepreneur di bidang ini adalah orang yang membuat perusahaan yang berbuat baik dan bisa memberikan kontribusi nyata bagi dunia
- Non-Governmental Organization (NGO), Entrepreneur dalam bidang ini adalah orang yang benar-benar menderikan perusahan yang motivasnya murni tidak menghasilkan profit.
- Large Corporation, Perusahaan ini merupakan perusahaan-perusahaan dengan skala besar.
Small business startup melayani known customer dengan known product
Blank juga membahas lebih mendalam tentang small business startup, scalable startup, dan large corporation.
Small Business Startup
Karakteristik startup ini adalah melayani known customer dengan known product. Pada dasarnya, produk dan konsumennya sudah diketahui dari awal. Contoh mudahnya adalah warteg yang dibuat didekat kos-kosan kampus saya. Konsumen mereka jelas sebagian besar anak-anak kampus yang tinggal di kos. Produk mereka juga jelas makanan-makanan seperti ayam goreng, sayuran, lele goreng, dan lain-lain.
Visi didirikan bisnis ini adalah untuk semata “feed the family”.
Small business startup sudah dikatakan naik level ke bisnis yang established atau tidak startup lagi ketika model bisnis ditemukan, bisnisnya menghasilkan profit, dan ada tim yang tetap.
Di USA sendiri, terdapat 5,7 juta small business (bisnis yang karyawannya kurang dari 500 karyawan). Tipe bisnis ini berkontribusi sebesar 99,7% dari seluruh perusahaan. Adapun, 50% dari pekerja di USA merupakan pekerja di tipe bisnis ini.
Scalable startup melayani unknown customer dengan unknown product
Scalable Startup
Karakteristik startup jenis ini adalah melayani unknown customer dengan unknown product. Pada dasarnya, produk dan konsumennya tidak diketahui dari awal. Secara kontras, scalable startup dirancang untuk berkembang untuk menjadi besar. Mereka memerlukan risk capital. Selain itu, scalable startup juga memfokuskan diri pada pencarian model bisnis yang scalable dan repeatable. Hal penting lainnya adalah, “You fail if you stay a startup.”




