Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Startupbisnis “Ngobrolin Ecommerce” di Senayan City

Posted by & filed under Ecommerce, Featured, Startupbisnis Meetup.

SB meetup

 

Di online store saya ada tulisan “add to cart” nah orang-orang pada nanya “add to cart” itu apa ? Nah ini diganti jadi “beli” ini punya pengaruh, terus ada lagi “checkout” diganti “bayar” pergantian kata seperti ini memiliki pengaruh

 

Editor’s note : Di awal bulan Maret 2013 menjelang Startupbisnis workshop, kami mengadakan casual meetup di Senayan City untuk mendengarkan pendapat rekan-rekan pelaku ecommerce  di mana pembicaraan hari ini juga menjadi kisi-kisi dari Startupbisnis workshop tanggal 30 nanti. Anda bisa melakukan registrasi workshop di sini.

 

Ada sekitar 30 rekan yang hadir di mana masing-masing  saling mengobrol satu sama lain tanpa format acara yang baku. Beberapa rekan yang hadir adalah Sumartok dari Flamingo.co.id, Aria Rajasa dari Gantibaju, Ifnu Bima dari Blibli, Hermawan Tj dari Onigi.com dan Jasakirim, Ray Rizaldy dari Gits, Revata dari Beehause, Ray Sada – pelaku bisnis online furniture anak, Dhiku founder Kartumuu dan inababy.com, Lilianti – pelaku bisnis kosmetik dan banyak lainnya.

Di tengah-tengah obrolan random malam itu kami berusaha membuat summary dari pembicaraan yang ada. Di mana hal yang paling banyak dibicarakan adalah kecocokan target market dengan media yang digunakan.

Aria Rajasa (Gantibaju.com) :

Masalah terbesar online store atau UKM ecommerce menurut saya adalah menjaga supply dan demand, ini dua sisi berbeda, di mana kalau kita supply banyak, ternyata demand yang kita dapat tidak sebanyak itu, sebaliknya kalau salah nebak demand kita kira rendah, ternyata yang datang banyak sehingga kita tidak punya supply. Dua-duanya bisa membuat kita mati. Menemukan balance antara ke-2 hal ini benar-benar susah dan tidak bisa dipelajari tanpa benar-benar terjun dan menjalankan.

Best practice untuk menghadapinya adalah margin harus besar, kalau di fashion memang ongkos produksi harus 1/3 dari harga jual, supaya kalau kita salah perkiraan sampai multiplier 2 pun, kita masih tidak masalah, bukan berarti tidak masalah “masih untung”, tetapi setidaknya duit yang sudah kita keluarkan sudah kembali dulu supaya bisa produksi lagi.

Best practice lainnya adalah monitoring dengan sangat ketat. Ini kegiatan yang sulit ditinggal, dimonitor every single day, untuk demand dan supplynya harus dipelajari datanya dengan benar, kalau sudah sekali jangan sampai salah ke-dua kalinya, dalam 1 tahun nanti pola akan terlihat, mungkin penjualan akan naik tapi pola akan tetap sama (kalau sudah stabil) dari pola itu dijadikan acuan supaya tahun depan bisa lebih efisien.

Masalah lain adalah cashflow, harus punya cashflow yang cukup, di retail tidak boleh berhenti produksi, karena ketika berhenti produksi berarti berhenti jualan, mau untung, rugi, naik, turun, produksi harus jalan terus, tinggal mau kita turunkan atau naikkan sesuai pola yang sudah terbentuk, cashflow ini penting supaya cyclenya tidak berhenti.

 

Arnold Nugroho (Rumahsegar.com)

Malam itu kami juga bertemu Arnold, founder dari Buzzle-Mall, yang mendapatkan pendanaan dari East Venture Alpha, yang ternyata melakukan pivot (mengubah konsep) menjadi ecommerce Rumahsegar.com .

Alasannya ?

Revenue di ecommerce lebih jelas

Tetapi product Buzzle-mall tidak ditutup dan masih dimaintain.

 

Ferry Guntoro (Pelaku bisnis online, Adwords certified, salah satu tim online liputan6.com) :

Untuk newbie, biasanya masalahnya adalah membawa traffic datang ke websitenya karena masih belum punya knowledge cukup. Masalah lain adalah mendevelop design tetapi terkadang terbentur ke biaya untuk meng-outsource design juga tidak tahu meng-outsource ke mana. Orang-orang newbie biasa meng-outsource ke Kaskus atau yang “sekenalnya”.

Dhiku (Kartumu, Inababy.com)  :

Saya juga baru membuka online shop baby, “Inababy” karena saya orang teknis jadi saya mengerti bahwa bisa pakai beberapa opsi, misalnya Bigcommerce yang tinggal setting dan jadi, kalau mau free bisa Magento, Opencart tetapi perlu basic knowledge seperti web hosting, tetapi menurut saya masalah utama adalah di management stock. Karena kalau untuk Inababy yang produknya bukan punya kita, pilihannya ada 2 : Beli putus atau konsinyasi, kalau beli putus kan perlu modal banyak, balik lagi ke masalah demand dan supply, karena bisa aja barangnya mati kalau traffic kita belum banyak. Kalau beli konsinyasi, harganya jadi mahal. Ecommerce seperti BliBli kan modalnya kuat jadi mungkin tidak bermasalah dengan hal ini.

Kesulitan utama dalam ecommerce UKM menurut saya adalah management stock. Awalnya kami jualan di Facebook dan BBM, lalu juga buka di TokoBagus, Multiply, Tokopedia, kami memang buka semua channel karena belum punya website. Kesulitan waktu itu adalah update stock di banyak tempat bersamaan, karena waktu itu kami belum tahu mendalam tentang ecommerce ternyata ada permasalahan seperti ini. Baru kemudian kami buat website sendiri untuk mempermudah management stock.

Tantangannya adalah “memaksa” customer untuk belanja di satu tempat saja supaya tidak repot me-manage banyak channel, hal ini akan tergantung dari tipe customernya, kalau seperti Berybenka mungkin segmennya adalah anak muda yang biasa berinternet, bagaimana dengan produk saya Inababy yang mentarget ibu-ibu yang tua dan tidak terbiasa buka website, apalagi belanja pakai cart ?

Yang saya alami baru-baru ini dengan Inababy, dari sekian banyak transaksi terjadi yang masuk lewat cart itu hanya 1, lainnya lewat Blackberry dan telpon. Enaknya sekali dia sudah mengerti lewat cart, dia akan terus transaksi lewat cart tanpa nawar, tinggal konfirmasi pembayaran, beda dengan lewat BBM kadang suka nawar harganya Rp.105 ribu minta dilempengin Rp.100 ribu. Rese kan ? Kalau kita buka terlalu banyak channel komunikasi lewat BBM, SMS, email, jadinya tidak bisa dimaintain dan tidak scale, informasi stock juga susah, misalnya di Facebook jualan lupa mengurangi stock.

Website jadi pun baru 10 % perjalanan. Masih banyak PR lainnya.

Goal akhirnya adalah memaintain website sendiri, channel lainnya yang performanya kurang baik akan ditutup, sekarang yang masih ada sih Tokobagus, Facebook dan website sendiri. Yang sulit memang membandingkan channel mana yang paling tinggi hasilnya karena di semua channel kami pasang nomor telpon. Untuk target market saya mungkin juga yang paling perform juga channel BBM karena cocok dengan target market saya, yang kebanyakan ibu-ibu pakai BBM yang mintanya “sis tolong dong dikirimkan gambar produk ini” terus langsung beli, conversionnya kencang banget, tapi ya pakainya BBM, waktu diminta buka website alasannya “aduh sori, BBM saya bisanya Cuma chatting dan social network doang, tidak bisa untuk internet” tapi ya memang konsumennya kelasnya begitu.

Beda kalau kita mengincar customer yang muda, aware dengan teknologi.

Challengenya dari sisi konsumen kita adalah kebiasaan customer akan mempengaruhi channel komunikasi kita, bisa saja dengan web tidak pas. Challenge lainnya adalah manajemen stock, kalau sudah habis produknya bagaimana belinya lagi ?

Rata-rata transaksi sehari 20 selama Desember sebelum ada website, website saya launch pertengahan Februari, page viewnya pelan-pelan naik lumayan,  Cuma dengan page view naik lumayan, transaksinya tetap segitu-segitu saja. Logikanya kan kalau pageviewmu banyak harusnya sales dan conversion naik? Tapi di tempat saya tidak terjadi.

Ini yang menjadi pertanyaan saya, apakah saya mengincar target market yang tidak pas dengan website ? yaitu si ibu-ibu ini.

Yang menarik sebenarnya seperti Bilna, dia mentarget premium product, ibu-ibu yang lumayan advance, kalau saya mentarget ibu-ibu yang mencari harga murah, bisa jadi kurang tepat sasaran, buktinya dari sekian banyak yang pakai cart dan bayar cuma 1 setelah 2 bulan tetapi transaksi dari BBM banyak. Ini yang menurut saya unik. Apa website salah? Tapi jumlah page view dan page per visit banyak. Artinya mereka beneran browsing. Mungkin website hanya jadi katalog aja.

Menurut saya kembali ke target konsumennya.

 

SB meetup 2

 

Obrolan antara Ray Sada, Denny Santoso, Dhiku dan Revatta : 

Ray Sada (bisnis online furniture anak) :

Target market usaha toko online saya adalah ibu-ibu menengah ke atas, kami sudah mencoba lewat SEO dan SEM (adwords) tetapi rasanya yang masuk kok bukan segmen yang saya target. Apa memang untuk segment ibu-ibu premium memang spendnya ke search engine belum waktunya ya ? Target yang masuk lumayan banyak tetapi konversinya kecil, kata kunci sudah benar, apa iya ya target market tertentu seperti ibu-ibu tidak biasa beli di internet. Konversi penjualan lebih efektif dari Facebook. Kami sudah coba juga adwords dan SEO masih kalah efektif dibandingkan FB ads.

Dhiku (Kartumuu, Inababy.com) :

Sesuatu yang menarik saya dengar dari Denny Santoso, di Fellinshop.com ada tulisan “add to cart” nah orang-orang pada nanya “add to cart” itu apa ? Nah ini diganti jadi “beli” ini punya pengaruh, terus ada lagi “checkout” diganti “bayar” pergantian kata seperti ini memiliki pengaruh.

Denny Santoso (Duniafitnes, Startupbisnis, Beautiplan) :

Pengalaman saya di Fellinshop.com konversi dari FB ads rendah. Untuk iklan di Google coba pakai Google Display Network (GDN) karena GDN kan gambar, adwords kan text, produk furniture anak kan yang didisplay diwebsite kan gambar, kalau orang lihatnya adwords berupa text, mereka jadi menebak, setelah di klik tidak cocok mereka tidak jadi beli. Perkiraan bentuk furniture di otak mereka tidak cocok dengan gambar yang mereka hadapi.

Ray Sada : Apa mungkin kata kuncinya berpengaruh? Orang tertentu kan pakai keyword “baby shop” tempat tidur anak orang bilang “toddler” tergantung pangsa pasar high end atau low end.

Denny Santoso : Coba tembak semua saja, di tes.

Ray : Saya coba dari Facebook lumayan, karena bisa target usia, tempat tinggal, hobi.

Denny Santoso : Database kamu capture tidak ? Traffic yang datang dari SEO atau yang lainnya, masuknya ke landing page atau database ?

Ray : Landing page.

Denny Santoso : Harusnya ke database dulu saja, di pop up dulu saja, dapatkan emailnya, setelah isi baru masuk. Alternatif lain, kalau isi email bisa dikirimkan penawaran diskon.

Revatta : Annoying tidak sih ?

Denny : Statistik bro, saya dapat ratusan juta dari situ.

Revatta : Pop up Denny di Duniafitnes tidak bisa ditutup, come on man gue udah subscribe tapi masih terus disuruh isi.

Denny : Cookiesmu nyala tidak ?

Revatta : Tidak, saya sering delete cookies.

Denny  Santoso :  Ya yang gitu Cuma kamu doang. Email ini sumber duit, Duniafitnes awal-awal dapat 1500 email per day, sekarang sih 500-600 email.

sb meetup 3

 

Hermawan Tjakradiwiria, Founder Onigi.com dan Jasakirim :

Permasalahan utama yang saya lihat adalah logistic dan edukasi pasar yang di luar Jakarta, saya lihat masih belum terlalu aware, kalau payment masing-masing player nampaknya membuat sendiri. Kami sendiri juga membuat payment solution sendiri.

Logistic masih terpaku pada dua besar, kita kan kirim ke provider logistic terus dapat invoicenya, repotnya kalau masih model invoice, harga sering berubah, masalahnya kan kita nge-charge ke customer di depan ? jadinya harganya beda. Lalu kita harus mengurusnya lagi. Kalau ecommerce besar kan bisa pakai kontrak di awal untuk setahun, beda kalau yang jualan online baru, tidak bisa kontrak dulu. Ini masalah yang kami hadapi jadi kami buat logistik sendiri, jadiah Jasakirim yang bekerja sama dengan Lorena. Kami melihat next big thing di logistics karena big player sudah bermunculan tetapi logistics sebagai backbonenya masih kurang.

Terkait dengan target market ibu-ibu, ada 1 klien kita target marketnya ibu-ibu, websitenya rendah, dulu sebelum online di web, masih menggunakan sms order, sehari 10-15 order, paling rendah 10 order sehari, begitu masuk web? Paling 3-4.

Ibu-ibu ini kan malas dan jarang buka website, open web, login, pilih barang, cek out, bayar, pilih logistik, invoice …. pusing ???  harus transfer lagi.

Bagaimana solusinya ?

Kami buat SMS gateway yang masuk ke system. Sistem Onigi bisa terima order lewat SMS. Tujuannya supaya ecommercenya bisa scale dengan cara yang simple dan sesuai dengan behavior customer.

Karena behavior mereka biasanya liat produk di FB, liat kodenya terus mau beli.

Jadi impulsive buying decision mereka makin cepat jika makin simple.

Dengan SMS gateway kan harus ada formatnya yang standar, masih saja sih mereka SMS “beli yang ini dong gan” kan formatnya salah, kalau sudah salah gitu ya kita reply otomatis “format yang benar begini.”  Kita masih mendevelop ini dan nantinya bisa untuk online store lainnya.

Online kan buying impulsivenya lebih mendominasi, step pembelian harus dikurangi nanti kalau kepanjangan impulsive buyingnya jadi hilang.

Masalah lainnya adalah reseller. Online store di Indonesia belum menemukan solusi yang simple untuk reseller system.

 

Lilianti Wibisono (cosmetic business) :

Saya melihat BBM sangat kencang, karena ibu-ibu pegangannya BB, itu “the most highest gadget” yang mereka punya.

BB di Indonesia eksis karena dipakai jualan. Saya pakai BB karena customer saya pakai BB.

Kalau di BB orang bisa cek setiap saat, beda dengan web yang harus connect dengan internet. Tanah Abang yang jualan juga semua pakai BB, jualannya ke teman-teman sendiri yang meng-add teman-temannya ke group BB. Cara sederhana yang duitnya lumayan terutama yang target marketnya ibu-ibu.