Studi Facebook Menemukan Bahwa Konten yang Dikirimkan Via Smartphone Lebih Menarik Daripada Via TV | Startupbisnis.com

Free Education for Indonesia Startup Entrepreneur

RSS

Studi Facebook Menemukan Bahwa Konten yang Dikirimkan Via Smartphone Lebih Menarik Daripada Via TV

Posted by & filed under Facebook, Social Media, Technology.

shutterstock_232803883(1)

Mana yang lebih menarik bagi Anda—mengonsumsi konten di handphone Anda atau melihatnya di sebuah layar besar seperti TV? Anda akan berpikir bahwa TV yang akan memenangkannya, tapi studi terakhir dari Facebook menemukan bahwa smartphone ternyata memberikan experience lebih menarik dibandingkan TV dalam hal attention, positive emotion, dan engagement. Tapi, Anda seperti sudah memprediksi Facebook akan mendapatkan hasil seperti itu, bukan? Bisnis mereka adalah bisnis mobile bukan TV, jadi tidak heran bahwa riset mereka menemukan bahwa mobile lebih menarik. Tapi data dan riset mereka sebenarnya menarik, menggabungkan neuroscience dan analisis kognitif untuk menentukan metode penyampaian yang lebih menarik perhatian kita dan mengapa. Facebook belum lama ini merilis penemuan mereka melalui Facebook IQ Industry Research blog.

Mobile-minded

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kita menanggapi saluran media yang berbeda, Facebook ditugaskan oleh agency neuromarketing US, SalesBrain, untuk melakukan riset.

Penelitian mereka melihat bagaimana otak merespon 4 bidang utama—engagement, perhatian, emosi dan retensi—ketika melihat konten di TV versus mobile, pertama kalinya sebuah studi neuroscience melakukan pembandingan terhadap tontonan iklan dalam hal ini. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan definitif tentang bagaimana orang memproses informasi merek dan konten untuk membantu pemasar lebih memahami pemicu internal yang menyebabkan konsumen lebih memperhatikan satu hal dan mengabaikan yang lain, dan bagaimana proses ini bekerja di penonton modern.

Baca Juga : Cara Beriklan di Facebook Dengan Menggunakan Sistem Pembayaran Bank Lokal (Tanpa Kartu Kredit)

Untuk memahami ini, peneliti SalesBrain membagi peserta penelitian menjadi dua kelompok berdasarkan usia dan jenis kelamin. Para peserta kemudian ditunjukkan serangkaian iklan, masing-masing mulai dari 30-120 detik dalam durasi. Kelompok pertama melihat iklan pertama pada TV kemudian smartphone, sementara kelompok kedua melakukan hal yang sama dalam urutan terbalik, melihat konten pada smartphone lebih dulu. Analisis ini memberikan para peneliti data neurologis tentang bagaimana proses masing-masing kelompok dalam menanggapi konten, dan melihat metode delivery mana yang lebih baik, dalam hal respon kognitif—peserta dimonitor perubahan dalam denyut jantung dan irama EEG serta pengukuran-pengukuran lainnya dari reaksi alam bawah sadar.

fbiq-neuro_inline_graphics_experimental(1)

Apa yang peneliti temukan pada para peserta secara keseluruhan adalah:

“Orang-orang cenderung merasa lebih positif terhadap informasi yang disajikan oleh ponsel daripada TV. Dengan TV, otak lebih terganggu dan harus bekerja lebih keras untuk memproses informasi. Kami menemukan bahwa, secara keseluruhan, ponsel adalah setara dengan TV dalam hal intensitas emosional dan engagement. Karena itu, emosi dan engagement secara signifikan lebih tinggi untuk beberapa iklan. Orang-orang sama-sama cenderung menjadi lebih engage pada ponsel ketika mereka berada di TV. ”

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa peserta mengingat pesan lebih baik ketika melihat konten di TV daripada melihatnya di smartphone—meskipun temuan itu didapat dengan mengambil sample sebagian kecil peserta.

NEURO_GRAPHICS 2

 

Adaptasi Psikologis

Temuan menunjukkan bahwa pengalaman mobile lebih mendalam dari yang diharapkan. Dalam catatannya, pendiri SalesBrain, Dr. Christophe Morin mengatakan:

“Tampaknya ketika melihat stimulus, sistem saraf kita tidak terlalu memerlukan pengalaman besar untuk merespon. Dan dalam beberapa hal, karena ukurannya, smartphone dapat memberikan yang pengalaman yang lebih efisien dan tidak memerlukan energi terlalu banyak.”

Ini masuk akal ketika Anda memikirkan bagaimana ponsel telah digunakan dari waktu ke waktu—pesan dan konten yang dikirim ke ponsel Anda selalu memiliki fokus yang lebih pribadi, dengan pesan SMS dan panggilan telepon diarahkan ke Anda dan hanya Anda, informasinya hanya yang Anda butuhkan.

Ketika Anda mungkin senang memberikan email Anda atau memberikan rincian kontak Anda kepada orang lain, nomor telepon pribadi Anda selalu hanya itu, pribadi, sesuatu yang hanya digunakan untuk komunikasi penting, komunikasi langsung. Penekanan yang sekarang mungkin memainkan peran adalah bagaimana otak kita memproses pentingnya informasi yang disampaikan melalui perangkat mobile, sebuah adaptasi psikologis yang mungkin juga memainkan peran dalam popularitas aplikasi pesan langsung seperti Facebook Messenger, WhatsApp dan Snapchat.

Berdasarkan penelitian ini, peneliti SalesBrain mampu menyimpulkan bahwa, secara keseluruhan, pengalaman smartphone lebih mendalam daripada pengalaman menonton TV. Konten yang sama yang disampaikan melalui smartphone menghasilkan tingkat perhatian yang lebih besar, emosi positif dan engagement, meskipun tingkat definitif lebih rendah pada titik terakhir.

Pertimbangan Penting

Untuk meringkas temuan, Head of Audience Insights Facebook IQ, Helen Crossley, mengatakan bahwa pengiklan tidak boleh meremehkan kekuatan mobile:

“Kedekatan fisik kita ke layar ponsel telah menggeser persepsi kita tentang ukuran perangkat. Hal ini menarik kita untuk lebih perhatian dan merasa lebih positif tentang konten yang disajikan di dalamnya dan menciptakan peluang bagi pemasar untuk berhubungan dengan orang.”

Apakah Anda mengambil perspektif Facebook atau tidak – seperti yang dicatat sebelumnya, mereka memiliki kepentingan dalam mempromosikan kekuatan mobile atas media lain. Akhir-akhir ini, orang selalu fokus pada ponsel mereka, selalu menatap dan mengetik dengan serius, senyum terlukis di wajah mereka ketika mereka membaca tanggapan terakhir atau balasan pesan yang mereka terima melalui platform pilihan mereka.

Ponsel telah menjadi link langsung ke kerangka nadi interaktif kita, provider fasilitatif dalam hubungan sosial kita. Informasi yang disampaikan melalui telepon ditujukan kepada kita—dan bahkan ketika tidak langsung fokus kepada kita, secara pribadi, data ini menunjukkan bahwa kita mungkin mendapatkan penekanan secara kognitif.

Ini adalah studi yang menarik, dan sementara kita semua tahu mobile meningkat menjadi lebih penting, data ini memberikan perpektif lain mengapa hal itu bisa terjadi.

Kesimpulan

Dr. Morin: Kesimpulan kami adalah experience yang dihasilkan melalui smartphone lebih menarik dan lebih mendalam daripada experience yang dihasilkan melalui TV secara keseluruhan. Ketika stimulus iklan yang sama diplay di smartphone dan di TV, reaksinya akan lebih besar di smartphone daripada  TV dari segi perhatian dan positive emotion, dan untuk beberapa tingkat, terjadi engagement yang sangat luar biasa.

Helen: Kami juga melihat beberapa hasil penting yang dihasilkan dari sifat komplementer 2 jenis layar tersebut. Dalam menganalisis survei post-exposure, ada pesan yang diangkat ketika peserta melihat stimulus yang sama pada TV lebih dulu, lalu diikuti dengan smartphone. Dengan membuat campaign di dua jenis layar yang bertolak belakang ini, para marketer dapat membantu meningkatkan tingkat retensi iklan mereka.

Anda dapat melihat videonya di sini:

 

Baca Juga

Cara beriklan lead generation Facebook Ads

Social Media Trend Report Di Indonesia : Bagaimana 14 Industri di Indonesia Menggunakan Facebook dan Twitter

 

sumber informasi dapat dilihat di peduli sehat ya.

mobiles10 is free apk downloader website for download best android apps and top games. APKBOX.ME | APKINSIDER.INFO | APKID.INFO | APKMAIN.INFO.