T-shirt Sebagai Community Rooted Product

Posted by & filed under Running a Business.

Saya bertemu dengan Febby Lorentz ketika saya menggelandang di Bandung dan tertidur di markas Bandung Creative Hub, di Galeri Padi Bandung, tempat anak muda kreatif berkonsultasi dengan para expert di bidang kreatif untuk bersama-sama memajukan kota Bandung (kapan ya ada beginian di Jakarta?).

Febby Lorentz memulai usaha Two Clothes (distro untuk penggemar skateboard) pada tahun 1998 di mana ia sedang tidak bisa bermain skateboard karena patah tulang tangan. Namun, karena passionnya yang memang di bidang itu, musibah itu justru memicu dia untuk berpikir bagaimana menyalurkan hobby-nya dalam bidang yang lain. Akhirnya justru hal itulah yang menjadi awal mula ia membangun Two Clothes. Dengan bermodalkan hanya 500rb rupiah, ia bermimpi untuk menjadi brand terbesar untuk komunitas skateboard di Indonesia. Oleh karena itu, ia lebih suka menyebut dirinya Indiepreneur yang dimana pada saat memulai usahanya, modalnya benar-benar dikeluarkan sendiri tanpa bantuan bank atau sejenisnya. (sumber : blog Nuansa Lembayung)

Berikut ini adalah obrolan saya dengan Febby Lorentz.

Distro, Zine, Skate sebagai Indie movement

Saya melihat siklus industry distro sudah mencapai peak dan sekarang sedang menuju ke bawah.

Kalau dulu distro berkembang pesat karena masih relative baru, belum banyak yang tahu, orang penasaran, break the rules, kami tidak ada di mall, tidak ada di pusat perbelanjaan modern yang umum, barangnya terbatas, kalau hanya 2 lusin, ya 2 lusin itu langsung dibagikan ke beberapa distro, kalau sekarang kan sifatnya banyak yang mass product, kalau mass product apa bedanya dengan product major yang punya nama besar yang ada di mal besar? Tidak ada bedanya kan? Beda tempat dan pelakunya saja. Sekarang pemain distro mulai kehilangan jati diri dan karakter karena pemain terlalu banyak tanpa pengetahuan memadai, latah asal jadi dengan konsep mass dan murah saja.

T shirt sebagai community rooted product

Product distro yang sebenarnya itu tidak mass product, tetapi unique product, dan ada treatment khusus yang tidak dapat dijelaskan dengan teori, hanya bisa dijelaskan oleh yang terlibat di industry distro dan komunitas ini dari awal, kalau kita lihat ke belakang, produk distro sebenarnya merupakan produk komunitas, bukan  diciptakan oleh umum dan dijual ke komunitas – tetapi memang berawal dari kebutuhan komunitas yang dilihat oleh bagian dari komunitas itu sendiri.

Misalnya di komunitas skateboard,  50% main skateboard, 25% nongkrong sambil nonton skateboard, 25% lagi nongkrong tapi bisa melihat peluang yang 75% temannya butuh  produk seperti kaos atau majalah, karena mereka terlibat di situ, dan punya deep connection dengan komunitas itu, mereka tahu kebutuhan teman-temannya, dari situ muncullah t shirt, majalah indie, band indie, yang tadinya hanya untuk teman-teman atau komunitas sendiri, makin berkembang makin ramai yang ikut2an, orang luar melihat momen ini, berusaha menjadi bagian, tetapi gagal, akhirnya pasar merasa bosan, karena dijejali terus. Menurut saya pengusaha umumnya berpikir supply sebanyak mungkin supaya income besar, tapi sulit berlaku di komunitas penggemar t shirt di Bandung, karena tipikal anak muda di sini banyak yang idealis, tidak mau pakai baju sama.

Sekarang banyak yang buat distro bangkrut, penjualan teman-teman yang memang bergerak dari grassroot, community root jadi kena imbasnya. Sekarang seperti itu kejadiannya, sedangkan yang latah oportunis itu mencari bisnis.

Sedangkan saya dan teman-teman yang lain memang bisa dibilang seniman, saya buat 100 biji, kalau laku ya alhamdulilah, kalau tidak laku, ya saya bagikan ke teman-teman, teman-teman senang, komunitas senang, yang penting ide yang saya punya untuk berkarya sudah disalurkan dalam bentuk produk, beda dengan prinsip oportunis pebisnis, mereka berpikir bagaimana menjual produk yang bisa dijual ke orang.

Yang saya lihat, clothing dan distro yang bisa bertahan itu yang punya konsep yang jelas, karakter jelas. Dari keseluruhan distro yang ada menurut saya 85%nya latah, konsepnya urban streetwear yang mass, umum. 15%nya punya karakter, tiap brand punya ciri khas masing-masing, ditambah strategi mereka untuk bisa bertahan, jika sudah bisa masuk ke komunitas khusus akan lebih kuat.

Industri  distro di Bandung ini menurut saya aneh, lebih ke arah vandalisme karena keterbatasan dana, buat stiker ditempel di mobil-mobil orang, bagi flyer di tempat yang tidak kepikiran.

Pernah yang benar-benar mendekati vandalisme, dia tidak langsung mengarahkan ke misalnya “Distro X, Jalan Y”, tetapi dia membuat karakter dan menyebarkannya di seluruh sudut kota, ditempel, dicat di tembok besar kosong, orang-orang jadi penasaran, memang sih ketahuan oleh satpol PP, didatangi dan dimintain pajak, tetapi anak-anak muda teman kita semua tahu itu merek siapa, tetapi orang umum sulit memahami, karena komunikasi memang untuk kalangan sendiri, “wah si X gila ya, semua tiang listrik ditempelin di Bandung”, menandakan si X sangat serius dalam bisnisnya”.

 

Distro dan industri TV

Strategi pemasaran distro sebenarnya lebih mengandalkan pertemanan dalam suatu komunitas. Pendekatan personal sangat kuat berpengaruh, misalnya, sekarang ini kan banyak baju distro dipakai di acara TV, lawak dan lain-lain, sejarahnya itu pertama kali baju distro masuk industry TV pertamakali adalah MTV Indonesia karena ada bagian dari komunitas kami kerja di sana, kalau hostnya suka akan dipakai, makin berpengaruh ke acara lain dan stasiun TV lain, ada juga teman yang kerja di TV lain, awalnya pertemanan dan full gratis, namun sekarang mulai banyak permainan di belakang dan harus bayar, padahal sebenarnya di bagian wardrobe TV tidak menarik bayaran, disesuakani kebutuhan konsep acara, kalau cocok, bajunya dipinjam lalu dikembalikan dalam keadaan sudah di laundry, kalau sekarang banyak yang tidak begitu, baju tidak balik, harus bayar lagi, sekarang ini hostnya cuma satu tapi harus kirim 3 lusin, terlalu banyak makelar, sebenarnya yang merusak kondisi ini bukan hanya di TV, tapi juga di industry distronya, pemain distro yang tidak punya hubungan pertemanan dengan orang TV, tapi mereka punya uang, sehingga uang bermain.

Sekarang hanya beberapa brand yang murni tidak bayar untuk masuk TV, full barter, tetapi sisanya bayar, karena memang sudah dari awal dan memiliki hubungan baik.

Bahkan saya pernah ditawari proposal untuk menampilkan brand di episode acara, dan impactnya nampaknya tidak sebanding dengan biayanya.

Industri  distro di Bandung selain connect dengan industry TV, juga connect dengan industri music, malah lebih erat dengan industry music, misalnya band.

Suply chainnya ke filmnya (TV), music, publishing, kuliner, semua nyambung.

Hubungannya dengan music misalnya, Two clothes punya saya diendorse oleh band indie bugs and bagel, tiap mereka perform, saya yang mensupply, juga Harapan Jaya nya si Eddy Kribo, bandnya naik, brand saya juga naik, band ini tiap kali manggung akan mengucapkan terima kasih pada brandnya, kalau tidak bilang pun tidak apa-apa, karena fans band ini akan memakai apa yang dipakai oleh brandnya, bahkan tidak di komunikasikan oleh bandnya pun fans tetap mengamati, pernah ada fans bugs and bagel menanyakan apakah toko saya menjual CDnya, padahal saya tidak pernah komunikasikan  bahwa saya ada hubungan kerjasama dengan band ini.

Zine

Hubungannya dengan publishing, bisa disebut dengan majalah atau zine. Kalau majalah itu komersil, sedangkan zine itu indie sekali, hanya beberapa lembar, fotokopian, punya materi/konten tetapi tidak punya uang/modal, ini adalah pergerakan indie yang sangat kuat, punya efek kuat dan loyal, mereka kerjasama dengan brand tertentu untuk barter support hadiah atau mengganti ongkos fotokopi, benar-benar saling membantu, kalau band mau rilis album, di poster mereka ada logonya clothing. Zine ini sudah dari dulu sekali. ZIne ini tidak dijual, tetapi gratis, jumlah oplahnya tergantung idealisme dan keadaan ekonomi si pembuat zine, kalau ada duit ya bisa tiap bulan bikin zine. Arian , @Arian13 pernah buat zine, vokalisnya Seringai, dulu redakturnya Playboy, lalu Trax Magz, orang ini di komunitas anak band indie termasuk legenda. Orang zine rata-rata pure idealisme, tidak banyak mengharapkan iklan atau pendapatan, biasa minimal 4 halaman (alias 2 lembar), mereka hanya ingin pemikirannya dibaca orang lain, zine yang mencari iklan malah tidak jalan, zine yang tidak root di community juga tidak jalan.

Akhir-akhir ini juga banyak brand distro yang melupakan komunitas, mereka lupa kulitnya, misalnya ada band mau rilis album atau manggung, kurang dana lalu meminta support dari distro, distronya menggunakan perhitungan yang “terlalu professional” lalu merasa keberatan mensupport band, memang sih mungkin distro ini secara teori menggunakan perhitungan yang benar, namun menurut saya, ada etika tertulis bahwa mereka besar dari komunitas indie, sesulit apapun jangan melupakan komunita yang membesarkan mereka juga.

SociaBuzz

Tags: ,