Startup Indonesia | Bisnis Online | Cara membuat toko online | Peluang Dan Ide Bisnis Online

RSS
new

Wempy Dyocta Koto, Entrepreneur Indonesia yang Terlibat dengan Startup di Berbagai Belahan Dunia

Posted by & filed under Interview, Startup.

Wempy Dyocta Koto IMG_8212 GB

Saya mendengar nama Wempy Dyocta Koto pertama kali dari Sati Rasuanto director Endeavor Indonesia, saya bertemu dengan Wempy sekitar tiga kali dan menganggap Wempy adalah seorang management expert, CEO Wardour And Oxford yang tidak terkait dengan teknologi ataupun internet.

Sampai pada pertemuan ke-empat barulah saya iseng-iseng bertanya “Wempy, apakah pernah bekerjasama dengan startup teknologi?”, pada saat itu barulah saya tahu ternyata Wempy bukan hanya seorang management expert tapi dia juga paham tentang teknologi karena beliau merupakan advisor Kalibrr, salah satu startup yang saya kagumi karena konsepnya memiliki potensi untuk “change the world”, salah satu portofolio dari Y Combinator. Wempy mengaku sangat mencintai Indonesia meski dia dibesarkan, berkarir, dan banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Itu yang membuat Wempy setahun lalu memutuskan pindah dari London dan mulai bekerjasama dengan startup Indonesia, untuk membawa merek mereka ke luar negeri. Salah satu merek yang sudah berhasil dibawanya adalah Kebab Turki Baba Rafi.

Berikut ini adalah pengalaman Wempy bekerjasama dengan Kalibrr.

“Kalibrr is the Khan Academy for jobs. It is the world’s first Massive Open Assessments and Training platform that prepares and secures employment for its graduates. Kalibrr is an ambitious startup with an online curriculum that people can study at their own pace. Once they have learned and passed Kalibrr’s tests, our first class employer partners will contact our graduates for a job interview, which we will help them secure.”

Awalnya saya sudah bersama Paul Rivera (Founder dan CEO Kalibrr) dalam pembuatan ide Kalibrr. Paul  Rivera awalnya bekerja di Google (2006), lalu ia resign dari Google untuk membuat bisnis sendiri, yaitu sebagai partner di OAM (Open Access Marketing – 2007) di Filipina, OAM adalah perusahaan yang menerima beberapa pekerjaan outsourcing dari perusahaan lain, misalnya call centre operations, memproses dokumen kartu kredit dan lain-lain. Klien-kliennya antara lain Mint.com, Friendster, StumbleUpon, Goodreads, dan TripAdvisor.

Orang-orang Filipina berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen baik, dan biaya tenaga kerjanya relatif lebih rendah dari negara di regional lainnya. Selama menjalankan bisnis outsourcing dari kegiatan-kegiatan seperti call centre, document processing ini, Paul melihat selalu ada skill gap yang menjadi masalah dari perusahaannya sendiri.

Kemudian sekitar 3 tahun lalu, saya berbicara dengan Paul di Embarcadero, San Fransisco tentang skill gap ini yang nantinya menjadi bibit dari Kalibrr. Maksud skill gap ini misalnya, kebanyakan orang memang bisa memproses dokumen tetapi kalau sudah melakukan kegiatan customer service, itu tidak mudah, karena kebanyakan orang terbiasa bergaul dan berbicara dengan bahasa sehari-hari, tetapi kalau sudah masuk pada kegiatan customer service, kebanyakan pekerja outsource harus bisa berbicara dengan bahasa formal standar tertentu dengan SOP tertentu, hal ini membutuhkan biaya untuk employer memberikan training. Kalibrr berperan sebagai jembatan, Kalibrr adalah “online training that gets you a job” orang-orang bisa membuka website Kalibrr dan mendapatkan training gratis tentang bagaimana berbicara sebagai customer service, jika customer menanyakan hal ini, maka jawabannya ini, dan banyak hal lainnya, Kalibrr melakukan semua training sampai tenaga kerja siap masuk dunia kerja. Ketika orang-orang ini “lulus” Kalibrr juga meng-introduce tenaga kerja kepada network of employers yang dimiliki Kalibrr. Jadinya Kalibrr mensupport tenaga kerja end to end.

Kami melaunch Kalibrr awalnya dengan bootstrap (dana sendiri) pada Januari 2012, kemudian pada November  2012  kami mendapatkan initial seed investment dari Kickstart ventures (startup incubator di Filipina) sebesar US$100k lalu pada Januari 2013 diterima masuk di program Y Combinator.

Pada saat launch Kalibrr, kurang dari 2 bulan Kalibrr mendapatkan 100 ribu lebih fans di Facebook, sebabnya bukan karena marketing campaign, tetapi karena Kalibrr menyentuh aspek sangat penting dari kehidupan masyarakat Filipina, Kalibrr memberikan harapan untuk orang yang tidak punya pekerjaan, atau, memiliki pekerjaan tetapi tidak memberikan apresiasi tenaga kerja dengan layak, misalnya, ada seorang lulusan perawat, mencoba mencari pekerjaan di mana-mana tidak mendapat pekerjaan yang ia inginkan, akhirnya ia harus bekerja di minimarket, bayangkanlah seorang lulusan perawat harus kerja di minimarket untuk bisa mendapatkan uang, sekarang dengan Kalibrr, kami memberikan training kepadanya dan mencarikannya pekerjaan yang memberikan apresiasi yang layak untuknya, sekarang sudah banyak sekali story di Filipina dari orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dari Kalibrr. Saat ini Kalibrr ada di hati banyak orang di Filipina, saya percaya sebuah startup harus memberikan impact dengan melompat dari “core product” ke hati banyak orang.

Saya sangat bahagia dan merasa terhormat, menjadi bagian dari Kalibrr sejak awal dan menjadi advisor Indonesia pertama dari startup yang masuk ke program Y Combinator. Kalibrr juga startup pertama dari Filipina yang masuk program Y Combinator. “Goverments create borders, entrepreneurs erase them” – jika idemu adalah ide yang powerful, tidak masalah kamu berasal dari mana.  Kalibrr masuk program Y Combinator dengan mengalahkan banyak sekali kandidat startup lain, dan sekarang sudah banyak investor mengantri untuk menempatkan investasi dan banyak perusahaan terbesar di Filipina sudah menjadi klien Kalibrr, seperti HSBC, Accenture dan brand besar lainnya.

Menjalankan Kalibrr tidak mudah, kami banyak mengalami masa sulit, dari aspek strategi product development dan mencari talent untuk tim, semuanya tidak mudah pada awalnya.  Dalam mencari talent, kami berkompetisi dengan banyak perusahaan global, untung dari segi talent kami memiliki CTO dari MIT yang pindah ke Filipina, tim Kalibrr bisa dilihat di website Kalibrr. Kami menyumbangkan pikiran dan tenaga kami untuk memastikan Kalibrr bisa menjadi company yang scale ke seluruh dunia di masa depan.

Wempy Dyocta Koto bersama Paul Rivera di Bali

Wempy Dyocta Koto bersama Paul Rivera di Bali

 

Monetising Kalibrr

Saya dan Paul sama-sama cukup keras satu sama lain, kami banyak berdiskusi bahwa Kalibrr harus bisa dimonetise dari awal. Monetisation (proses menghasilkan uang) selalu merupakan proses yang tidak mudah karena banyak startup dibuat tetapi tidak tahu bagaimana menghasilkan uang. Misalnya Yahoo mengakuisisi Tumblr dengan nilai Rp 10 Triliun, tetapi bisakah Yahoo me-monetisenya? Saya bisa mengatakan dengan bangga bahwa Kalibrr adalah startup yang bisa menghasilkan uang.

Bisa dibilang Kalibrr mendapatkan uang dari proses rekrutmen, misalnya seorang tenaga kerja belajar di Kalibrr dengan free, ia ikut ujian dan lulus, lalu manager HRD dari HSBC mau meng-hire tenaga kerja ini, maka ia harus membayar ke Kalibrr karena Kalibrr sudah membantu proses-proses yang seharusnya dikerjakan oleh HRD.

Ujian yang harus dilalui tenaga kerja di Kalibrr juga tidak semudah yang kita kira. Karena value dari Kalibrr ada di tenaga kerja yang diluluskan.

 

Listen!

Ada suatu hal yang dilakukan Paul Rivera dengan baik sekali. Ia adalah pendengar yang baik, mungkin ia adalah “one of the best listeners in the world.”

Ketika kami berdiskusi, saya menerima beberapa argumen dari dia, kemudian dia mendengarkan dengan seksama, ia lebih banyak mendengar daripada mendebat.

Kualitas founder bisa dilihat dari kemampuannya untuk mendengarkan orang lain dan menurunkan ego untuk memenangkan segalanya dan mulai mendengarkan cofounder, mendengarkan advisor, mendengarkan mentor, customer, market, ini adalah kualitas yang sangat penting untuk founder startup.

Pengalaman Wempy bersama dengan Kalibrr dan membuat perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan bisa menjadi pengalaman yang berharga bukan hanya bagi Kalibrr itu sendiri, tapi juga bagi pengusaha lainnya. Konsep mendengar yang dijabarkan oleh Wempy menjadi salah satu hal yang bisa membantu perusahaan bertumbuh lebih baik. Selain itu, Wempy juga melihat masalah lain yang terjadi pada pengusaha di Indonesia.

Indonesian Founders

Seringkali masalah dari para founder Indonesia adalah karena market domestik yang sangat besar, sehingga banyak founder terlalu terikat dengan market lokal dan lupa bahwa market dunia itu sedemikian luas.

Kebanyakan entrepreneur yang di-highlight di media lokal kebanyakan sama-sama saja, tetapi sebenarnya dengan teknologi startup semua orang punya kesempatan untuk change the game, kita semua berada di platform yang sama, tidak masalah dari universitas mana kamu berasal, tidak masalah berapa usia kamu, tidak masalah berapa tahun pengalaman kamu, yang paling penting adalah bisa mengidentifikasi masalah dan membangun winning solution yang bisa mengubah permainan – disruption.

Inventive Economy, Daripada Copy Paste Economy

Entrepreneur Indonesia seharusnya lebih berani memasang target untuk menjadi lebih baik dari negara lain.

Di dunia startup Indonesia, menurut saya sebuah kata yang hilang adalah “invention”, startup entrepreneur seharusnya lebih inventive daripada copy-pasting, saat ini lebih banyak entrepreneur yang copy paste alias clone. Hanya dengan cara invention kita bisa berada di depan negara lain. Memang cloning sering dilihat negative, tetapi yang dijalankan oleh para cloner seperti Rocket Internet misalnya itu “proven” business model.

Untuk saya sendiri, dari hati terdalam saya ingin sekali melihat startup Indonesia, sebuah “diamonds” yang bisa go global dan ingin menjadi bagian yang menumbuhkan ekosistem startup ini, yang benar benar bisa berkembang dan bukan hanya diakuisisi oleh perusahaan lain.

 

Grafetee

Grafetee

Salah satu startup teknologi yang saya advise adalah Grafetee – location based bookmarking app yang banyak digunakan di Finlandia yang sensitive terhadap local time dan lokasi dari user, hanya menampilkan konten yang relevan dengan user. Misalnya kamu berada di bank dan sedang terjadi perampokan, apabila kamu menelpon polisi, bisa saja lama dijawabnya, karena channel telpon terbatas, dengan Grafetee bisa dilaporkan dengan lebih cepat. Kepolisian Finlandia menggunakan Grafetee sebagai public safety app, app ini juga digunakan untuk news, review, status apapun yang bersifat location based dan sekarang sedang ekspansi ke luar negeri.

LimeandTonic

Lime&Tonic

Lime&Tonic memiliki HQ di Prague, dan sekarang banyak memiliki user di London, Rio de Janeiro, Sydney dan Dubai.

Lime&Tonic adalah tentang social experiences, di mana orang bisa membeli tiket acara-acara paling cool di kota mereka. Mereka juga mengadakan supper club untuk para entrepreneur.

Lime&Tonic memiliki Julie Meyer sebagai advisor, Julie Meyer adalah Top 30 wanita paling berpengaruh di Eropa dan salah satu early influential business partner di Skype.

Saya bekerja dengan banyak startup, namun saya tidak ingin bekerja dengan ratusan startup, tetapi hanya sedikit startup yang memiliki produk dan founder terbaik yang saya percaya memiliki impact. Goal saya adalah membawa startup Indonesia ke luar negeri dan menjadi jembatan untuk mereka menuju market global.

Petikan pengalaman Wempy Dyocta Koto bukan saja sarat ilmu tapi juga inspirasi. Wempy yang kini membawa Sour Sally ‘go international’ juga sedang membantu salah satu merek populer di Indonesia yaitu Maicih menjadi populer juga di seluruh dunia. Selain itu, Wempy juga baru memenangkan Asia Pacific Entrepreneurship Awards serta 120 Top Social CEO di dunia. Dia satu-satunya CEO asal Indonesia yang berada dalam daftar ini, CEO yang lain memimpin di daftar ini adalah Oprah Winfrey, Richard Branson, Rupert Murdoch, Warren Buffett, Tony Fernandes, Marissa Mayer dan Donald J. Trump.