Bagaimana Memaksimalkan Efektifitas Marketing Bagi Startup Anda

Startup memiliki banyak pilihan marketing yang berbeda: SEO/SEM, print, radio, TV, mail, afiliasi, content marketing.. dan masih banyak lagi. Dengan dihadapkan oleh pilihan ini, bagaimana startup bisa memaksimalkan efektivitas marketing mereka?

Di awal, tujuan startup adalah menemukan channel marketing dengan unit ekonomi yang menguntungkan (di mana biaya akuisisi customer / Cost Per Acquisition lebih rendah dari margin kotor pada time range estimasi customer lifetime value atau CLV) dengan investasi sekecil mungkin untuk meminimalkan pengeluaran.

Untuk menemukan channel akuisisi yang sesuai membutuhkan banyak testing, siklus testing yang cepat pada taktik beriklan yang berbeda adalah hal yang terpenting untuk menentukan apakah channel tersebut efektif atau tidak. Iterasi yang cepat biasanya berada di dasar sales funnel, ketika potensial customer berada di titik dimana ia harus memutuskan untuk membeli atau tidak. Biasanya, titik ini berada ketika startup memulai eksperimen dan mengejar kesuksesan dari iklan yang hasilnya bisa langsung dirasakan seperti cost-per-click, cost-per-lead, cost-per-install, dan bentuk iklan lainnya.

Channel ini bisa menawarkan jumlah hasil yang lumayan besar dan memungkinkan perusahaan untuk tumbuh lebih besar lagi. Tetapi pada saat channel marketing ini mulai jenuh, unit ekonomi (CPA dan CLV) dari channel ini akan mulai stabil (bisa jadi menjadi lebih murah atau mahal), selanjutnya, startup mulai mencari channel direct response lainnya dan menggunakan strategi yang sama.

Di titik tertentu, margin yang didapat pada investasi yang berkelanjutan di dasar funnel pada strategi akuisisi customer ini mulai mengecil (karena mulai banyak yang menggunakan strategi ini dan menjadi saturated, CPA – Cost per Acquisition – akan naik). Sebelum titik ini terjadi, startup seharusnya naik dari dasar funnel dan mulai bereksperimen dengan taktik yang berada di tengah corong, di mana potensial customer diberikan edukasi dan “dirawat”. Dengan menaiki corong/funnel ini berarti anda masuk ke ranah customer yang baru yang lebih luas dan lebih beresiko karena membuat waktu konversi customer menjadi lebih lama dan efektifitas biaya marketing akan semakin sulit diukur.

Tetapi, dengan membangun sistem dan proses untuk mengukur efektifitas kinerja marketing pada cara ini, startup akan berada di posisi yang lebih baik untuk mengevaluasi iklan yang berada di tengah corong ini, seperti content marketing, lifecycle-marketing (marketing untuk meningkatkan loyalitas customer secara berkelanjutan dan meningkatkan pendapatan dari mereka)dan lain-lain.

Terakhir, dengan mengimplementasikan channel marketing yang berada di tengah corong ini, mengukur dan melakukan berbagai adjustment akan memungkinkan startup untuk bergerak naik lagi ke puncak corong untuk membangun awareness perusahaan yang lebih luas seperti memanfaatkan billboard, radio, TV, dan lain-lain. Dan ingat, karena startup telah menggunakan dan rutin mengukur bagian paling bawah dan tengah dari sales funnel, akan membantu untuk mengukur efektifitas bagian sales funnel paling atas (branding) sampai batas tertentu.

Mari kita perjelas lagi, startup seharusnya fokus pada customer yang akan terkonversi dalam 30 hari, fokus pada channel ini dan kuasai. Setelah standar telah ditetapkan, startup boleh mengincar audience yang lebih luas lagi dengan resiko channel marketing yang semakin sulit diukur, yaitu corong/funnel menengah dan atas.

Dengan cara ini, startup akan bisa memenuhi kebutuhan dari growth dan kebutuhan memantau unit economics yang strateginya bisa diulang (repeatable).

Sumber: tomtunguz.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *