Cara Menjual di Social Media : Mempelajari Kreatifitas Konten dari Oreo

The content is there to make people feel good and to give them something that they’d be eager to share.

Editor’s note : Scott Monty adalah global head social media dari Ford Motor

Di tahun 2012, Oreo – brand dari Kraft, secara konsisten membagikan konten yang  kreatif dan memiliki tingkat engagement tinggi. Jika Anda tidak mengikuti Oreo Daily Twist, Anda kehilangan tambang emas kreatifitas, humor dan suatu inisiatif yang memiliki karakter.

Campaign ini didesain untuk merayakan ulang tahun ke-100 dari Oreo dan mampu menjangkau 28 juta Fans Facebook dari Oreo dengan cara yang tidak biasa, 4 agency yang berbeda berkolaborasi untuk mengerjakan campaign ini, mereka adalah DraftFCB, 360i, Weber Shandwick, dan MediaVest.

Antara 25 Juni sampai 2 Oktober 2012, tim kreatif harus menemukan cara membuat 100 individual content yang menarik dan terkait dengan produk Oreo. Tidak cukup dengan itu, team creative juga bekerja membangun konten real time untuk memberikan respon terhadap event-event yang terjadi di sekitar kita.

Berikut ini adalah slideshow dari the complete 100 “twists” :

Konten-konten ini bisa dibagi menjadi beberapa kategori :

  • Mengingatkan pada hari libur : Hari kemerdekaan, hari buruh dll
  • Hari special lainnya atau milestones yang bukan hari libur : International joke day, piano month, bulan apresiasi budaya, dll
  • Selebrasi lainnya : “Talk like a pirate day”, “Elvis week”, “Comic-Con opens”, “Launch iPhone 5″.
  • Sports : Moment olimpiade termasuk konten yang baik, selain gold, tennis, basket, NFL dan sebagainya.
  • Cultural events : Video music awards, Emmy, Fashion week.
  • Integrasi dengan brand lain : Batman, Super Mario, Ice Age
  • Astronomy : Pendaratan rover di Mars, gerhana matahari, pendaratan pertama di bulan, penerbangan terakhir Endeavor dll
  • Berita dan memes real time : Adanya angin panas yang menerjang Amerika, kelahiran hewan yang hampir punah, meninggalnya Neil Amstrong, penemuan lukisan Leonardo Da Vinci yang hilang, adanya laporan singa yang berkeliaran di wilayah perumahan, Gangnam Style.

Di saat campaign ini mendekati akhir periode campaign, mereka mengumumkan bahwa gambar terakhir akan di-crowdsourced. New York Times mengulasnya, mengingatkan tentang inisiatif yang dilakukan di tengah-tengah Times Square di mana semua orang bisa men-submit dan memberikan voting pada konsep favorit mereka.

Fans dari Oreo menontonnya secara live saat tim creative menyiapkan final image-nya (di mana pemenangnya adalah telapak tangan dengan title “Anniversary of 1st high five”).

Di samping mekanisme yang melibatkan real time content dan mekanisme offline pop up shop di tengah kota, hal yang keren dari campaign ini adalah konten itu sendiri.

Ketika Anda memperhatikan gambar yang mereka buat, tidak satupun menanyakan kepada audience “apa pendapat mereka tentang Oreo ?” atau mengkaitkan dengan fitur produk Oreo atau meminta audience membeli Oreo. Tidak hard sell sama sekali.

Konten ini ada di sana untuk membuat orang “feel good” dan memberikan audience sesuatu yang menarik untuk dibagikan.

Pikirkan hal ini,

Berapa kali Anda atau tim Anda membagikan Facebook post yang terdengar seperti :

Kami sangat bersemangat membagikan tentang produk baru kami ____________ dengan fitur super X  yang membantu Anda untuk ___________ lebih baik dari sebelumnya

Atau

Sudahkah Anda mencoba produk baru kami ___________ ? Like gambar ini jika kamu sudah mendengar tentang Y

Siapa yang di pikirannya akan membagikan postingan seperti ini kepada temannya ? kita harus berhenti berpikir seperti “message-driven marketers” dan mulai berpikir seperti seorang manusia, “human beings.” Kita harus membuat konten yang cocok dengan mindset konsumer, tanpa memaksa mereka untuk mendengar pesan kita setiap waktu.

Saya membagikan hal ini dengan CMO saya baru-baru saja, responnya adalah “Menurutmu kita ngapain masuk dalam bisnis ?”

Tentu kita harus menjual produk, tetapi kita tidak akan melakukannya dengan melakukan hal yang “annoying”, “interuptive” atau  mengganggu. Kita melakukannya karena orang akan mengenali kita, mereka berpikir konten kita “cool”, mereka akan membaginya dan asosiasi brand yang positif akan membuat orang berpikir tentang kita. Mereka akan mempercayai kita karena mereka memiliki interest yang bisa kita penuhi, bukan sebaliknya.

Lihatlah dengan perspektif lain, jika Anda pernah melakukan dating dengan seseorang dan yang mereka lakukan adalah  bercerita tentang diri mereka sendiri, apakah kamu ingin melihat ia lagi ? Mungkin saja tidak.

Ketika kita selalu menunjuk ke dada kita sendiri dan membuat postingan “hey-look-at-me”….  memangnya siapa yang kita pikirkan di era konten ini ?

Akhir 2012, Infinigraph memposting gambar di Facebook yang mengingatkan kita tentang 10 konten yang selalu kita cari :

  1. Konten yang menyampaikan sebuah cerita
  2. Konten yang menginspirasi kita untuk melakukan action
  3. Konten yang menantang asumsi kita
  4. Konten yang membuat kita tertawa atau tersenyum
  5. Konten yang mengkonfirmasi asumsi kita
  6. Konten yang tidak terduga
  7. Konten yang membuka rahasia
  8. Konten di mana David mengalahkan Goliath
  9. Konten yang mengingatkan bahwa diri kita memiliki arti
  10. Konten yang mengigatkan bahwa impian kita bisa menjadi kenyataan

Singkatnya, konten yang memberikan value.

Cara menjual di Social Media

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *