Misi Mencari Mentor oleh Anastasia Hambali @Hambalia Community Manager @Growlabs

Editor’s note : Anastasia Hambali adalah diaspora Indonesia yang berkarir di Growlab Startup Accelerator di Kanada sebagai community manager dan seksi repot. Saat ini Growlab sedang membuka pendaftaran aplikasi winter 2014 (Deadline 13 Januari 2014).

Memulai teknologi startup tidaklah sulit. Ide hasil ngobrol tengah malam bisa disulap jadi ide bisnis. Memulai tidak sulit, tetapi .. membangun dan mensukseskan? Beda cerita. Tidak heran banyak entrepreneur yang mencari bantuan dari mentor. Jika anda dalam misi mencari mentor, ingatlah dua hal ini: kuantitas tidak menjamin kualitas dan nama besar bukan jaminan.

Kuantitas tidak menjamin kualitas

Beberapa hari yang lalu komen dibawah ini muncul di facebook newsfeed saya:

Inkubator X kurang keren karena mentornya kurang banyak

Komen tersebut membuat saya berpikir, berapa banyak orang yang merasa banyaknya mentor berarti memperbesar kemungkinan sukses. On the contrary, banyak mentor sebenarnya bisa bikin pusing tujuh keliling.

Don’t get me wrong, I value mentorship – a lot. Namun kalau jumlah mentornya terlalu banyak, anda harus waspada. Apakah mentor-mentor tersebut semuanya aktif dan engaged di inkubator/akselerator tersebut? Bagaimana dengan experience and skills mentor-mentornya? Check if they are adding values to the companies they are mentoring dan bukan hanya modal pasang nama saja.

Selain itu, kadang anda akan mendapatkan saran yang bertolak belakang dari mentor yang berbeda. Makin banyak mentor = makan banyak opini. Mana yang paling benar untuk bisnis anda? (blog post ini banyak membantu saya dan entrepreneur di GrowLab dalam memilah saran dan masukan dari mentor)
Nama besar bukan jaminan

Salah satu value preposition yang ditawarkan inkubator dan akselerator adalah mentorship dari entrepreneur kawakan dan eksekutif perusahaan. Mentorship dari nama beken memang kedengarannya keren, namun salah satu hal yang harus anda pikirkan adalah waktu. Tentunya orang-orang sukses ini jadwalnya padat bukan main. Tanya pengelola inkubator dan akselerator, seberapa sering mentor itu datang dan menyisikan waktu untuk bertemu mentee-nya. Biasanya makin besar namanya, makin sedikit waktu yang disisikan untuk mentoring.

Bukan berarti kita harus menghindari nama besar. Bagaimanapun juga koneksi dan pengalaman mereka bisa membantu kita membangun bisnis, atau bahkan menghindari kita dari membuat kesalahan fatal. Kalau anda punya mentor yang jadwalnya super padat, pastikan anda tidak mensia-siakan waktu anda maupun waktu si mentor.

Memaksimalkan mentorship session anda

Beberapa hal yang saya pelajari dari mentor saya:

1. Datang ke meeting dengan persiapan matang

Anda harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diacukan pada anda, misalnya: burn rate per bulan, growth bulan ini, conversion rate dari hasil campaign kemarin dll.

2. Siapkan 1-2 pertanyaan untuk dibawa di dalam meeting

Maksimalkan face time anda dengan si mentor. Bawa pertanyaan atau challenges yang anda hadapi dan minta saran dari si mentor. Kalau anda tahu bahwa si mentor punya hubungan baik dengan client atau distribution partner yang sedang anda incar, minta si mentor untuk memperkenalkan anda entah dengan mengatur meeting bersama atau via email.

3. Email pertanyaan anda sebelum meeting agar mentor anda tahu hal-hal yang anda ingin diskusikan, especially kalau anda meminta saran. Berikan mentor anda waktu untuk berpikir jadi anda tidak menghabiskan waktu meeting dengan memberikan background information.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *