Transformasi Microsoft dalam Men-support Tech Startup Entrepreneur

“Kalau sudah mau lulus, setelah wisuda, kalau bisa jangan langsung cari kerja. Setahun pertama, create your own startups, do anything”

“We’re in the business to help you make money”. Maksudnya adalah “we’ll not make money, if you not make money.”

Beberapa teman developer muda pasti sudah mendengar bahwa Microsoft saat ini ingin berubah dari sebuah Operating System menjadi “platform,” hal ini terjadi seiring dengan akan di launchnya Windows 8 dan Microsoft Surface yang juga akan menjadi channel baru bagi produk yang dibuat para developer aplikasi.

Terkait dengan hal ini kami menjumpai Norman Sasono, Technical Evangelist Microsoft untuk menggali informasi tentang transformasi Microsoft, peluang apa yang tersedia bagi para developer, aplikasi apa yang bisa dibuat untuk menyasar opportunity yang ada dan hal-hal lain terkait Windows 8.

Apa latar belakang yang membuat Microsoft sekarang membantu para startup technopreneur?

Microsoft adalah sebuah platform company, jadi kita harus build something, agar ada people build something on top of that, setelah itu baru platformnya memiliki value. OS itu tidak berarti apa-apa kalau tidak ada aplikasinya. Kalau selama ini, mungkin Microsoft lebih banyak fokus ke enterprise, corporate, atau perusahaan-perusahaan besar, untuk menjual aplikasi dan server. Tapi kelihatannya consumer space jadi agak loosen untuk Microsoft. Sementara Apple dan Android mulai kuat di situ, bahkan akhirnya malah jadi threat, karena mereka masuk ke enterprise juga. Ada istilah “bring your own device”, di mana orang-orang mulai membawa iPad-nya ke kantor.

Biasanya para direktur malah ingin mengakses network access internal lewat iPad-nya. Orang-orang juga berpikir bahwa MacBook Air dan MacBook Pro itu keren, sedangkan Windows machine itu tidak terlalu keren. Apple dengan Apple Store Apps seperti membentuk ekosistemnya sendiri, di situ sepertinya Microsoft a bit lack behind. Di situlah yang ingin kita set the course, bahwa kita ingin stop “gerusan” consumer landscape ini di enterprise. Tapi pada waktu yang bersamaan, kita juga ingin reach out ke consumers. Makanya kita come up dengan strategi di mana sekarang kita meluncurkan Windows 8, Windows Phone, dan yang sekarang sedang trend juga Windows Azure. Di sinilah fokusnya Microsoft sekarang, around these 3 products. Agar 3 produk ini bisa reaching out ke customer, akhirnya Microsoft has to engage with different partners.

Kalau sebelumnya mungkin software-software developer yang membuat software untuk enterprise, itu yang kita engage, sekarang sudah tidak lagi. Kita lihat di market, seperti Apple dan Android, developernya mungkin hanya 1 atau 2 orang, tidak perlu dari big software companies. Tapi mereka bisa making money, and people are downloading their apps. Itu berarti trendnya sedang ke arah sana. Dan yang banyak playing around di sini tidak perlu yang big mains, justru kebanyakan adalah para startup. Akhirnya sukses dari Windows 8, Windows Phone, dan Windows Azure ini, salah satu critical piece-nya itu startup. Makanya Microsoft akan lebih agresif lagi merangkul startup.

Sebelumnya kita sudah punya program-program yang sistematik, seperti BizSpark. Nanti kita juga akan mengirimkan invitation ke VC / incubator business untuk menjadi network partner. Jadi VC / incubator bisa approve juga startup yang apply ke BizSpark, tidak perlu dari Microsoft yang selalu mencari.

Semua yang ada di bawah sebuah VC / incubation yang sudah kerjasama dengan kami bisa kita cover dengan BizSpark. Mereka bisa mendapatkan semua benefit BizSpark, seperti software free 3 tahun, Azure access 3 tahun, dan sebagainya. Jadi kita mau merangkul para startup communities, bisa secara langsung ke startupnya, ataupun ke inkubator-inkubator bisnisnya. Kita mau drive dalam setahun ke depan ini, at least Windows 8 akan launch di bulan Oktober. Kita mau mempersiapkan, agar pada saat launch nanti kita sudah punya banyak application di situ.

Dan mungkin di bulan Agustus 2012 sudah release to manufacturing, jadi enterprise dan developer sudah bisa download yang versi release di bulan Agustus. Sementara di bulan Oktober, untuk yang general availability. Jadi nanti mulai bulan Oktober, semua PC, laptop, maupun tablet yang ada di toko-toko sudah menggunakan Windows 8 semua seharusnya.

Kita juga akan launch Windows Phone yang baru, namanya Apollo Windows Phone 8, most likely juga di timeframe yang sama. Kalau Azure sebenarnya sudah launch dari 2 tahun yang lalu, tapi 7 Juni 2012 kemarin kita baru launch infrastructure reserve service. Jadi kita mau rangkul startup untuk create apps sebanyak-banyaknya. Kalau misalnya untuk konteks Indonesia, kita ingin ada apps sebanyak-banyaknya dari Indonesia, baik itu di Windows 8 maupun di Windows Phone. Juga website-website seperti startupbisnis.com atau goindonesia.com, websites para startup yang kehadirannya memang di web, itu mungkin postingannya tidak di hosting sendiri atau di hosters lain, tapi mungkin bisa di Azure, seperti itu juga yang mau kita drive.

Engagement dengan Venture Capital Teknologi kami rasa cukup strategic. VC / incubator pasti tidak hanya bekerjasama dengan satu principal, startup juga biasanya up to their choice. Para startup juga biasanya follow the money, seperti iPhone dan iPad, Apple itu take off google sendiri. Jadi mungkin VC/startup di saat bersamaan bisa engage dengan Apple, dengan google, dengan amazon, dengan RIM, dengan Microsoft, dan yang lainnya. Di Microsoft sendiri kita juga engage dengan beberapa inkubator lain, seperti Merah Putih Inkubator, Ideosource atau Incyte. Masing-masing inkubator ini mungkin punya unique characteristic, dan startup binaannya pun mungkin juga punya ciri khasnya tersendiri. Microsoft coba engage dan support semuanya, nanti kita lihat yang mana yang lebih bermanfaat, di situlah kita akan lebih intens dengan mereka.

Setiap VC/incubator juga punya karakteristik sendiri-sendiri, ada juga inkubator yang lebih ke games atau mobile games, ada yang condong ke website, kami pelajari karakteristiknya seperti apa, crowdnya yang ada di situ bagaimana, dan startup-startup yang direkrut itu karakteristiknya seperti apa. Kalau di Microsoft sekarang ini, saya melihatnya seperti “We’re in the business to help you make money”. Maksudnya adalah “we’ll not make money, if you not make money”.

Seperti misalnya Azure, di situ kita charge usage-nya by capacity usage. Kalau misalnya ada startup membuat satu sites yang take off, banyak kebutuhan cloud-nya, artinya lebih memungkinkan bagi dia untuk monetize lebih banyak. Pada saat yang bersamaan juga, akan butuh more capacity ke Azure. Artinya “you get more traffic, you get more money, you will pay more to Microsoft for the capacity used”. Tapi kalau kalian tidak take off, yang artinya website kalian hanya menggunakan capacity yang kecil, jadi pendapatan untuk Microsoft juga kecil. Sehingga kita mau push agar para startup juga bisa benar-benar tumbuh, because we make money if you make money. Business platform kan seperti itu. Makanya kita engage all these startups, inisiatif apapun akan kita support. Seperti event yang dari luar, Tech in Asia, kemarin mereka membuat event Startup Asia, kita juga support di situ. Kita jadi sponsor, dan kita juga kenal dengan founders dan timnya mereka. Misalnya dengan Dailysocial dan Rama, mereka punya plan setahun ke depan yang di-share. Kita mau rangkul komunitas-komunitas ini.

Microsoft is changing. Sejujurnya saya ingin memberi sanjungan kepada Apple, karena mereka change a landscape dengan mereka punya Apple store, mereka yang mengubah ekosistemnya. Kalau Microsoft dianggap mengikuti, saya tidak terlalu peduli. Karena it’s not about the first or innovate first, tapi siapa yang bisa leverage the most of it.

Dan yang selalu saya share ke teman-teman startup, ada 40 juta iPad worldwide dan 112 juta iPhone, ada 12 juta Android tablet, tapi ada 250 juta Android phone. Jadi kalau saya mau membuat sesuatu yang berkaitan dengan phone, mungkin lebih ditargetkan ke Android.

Sebagai informasi, Existing Windows 7 install based itu ada 600 juta. Bayangkan kalau semuanya ini diupgrade ke Windows 8, and all new devices will be Windows 8. Dan ketika kemarin kita announce Windows Phone 8, ternyata sharing code base yang sama dengan OS Windows. Jadi kalau di dunianya Apple, startup membuat apps untuk iPhone atau iPad, apps tidak akan running di Mac. Dan kalau membuat aplikasi di Mac dengan Mac OS, juga tidak akan running di iPhone atau iPad dengan iOS, karena OS-nya berbeda. Sementara kalau di dunia Microsoft itu tidak akan terjadi. Karena tablet, laptop, maupun PC, semua OS-nya sama. Jadi membuat satu app di PC, itu akan running di tablet, membuat aplikasi di tablet, itu juga akan running di PC. Windows Phone juga sama seperti itu. Kita membuatnya pakai C++, all cross the board, jadi opportunity untuk developers cukup besar. Message itu yang ingin kita sampaikan.

Dan kalau perlu services backend, kita juga punya Azure. Tapi dari BizSpark kan ada kuota, hanya dapat berapa CPU, berapa memory, berapa storage. Tapi kalau ternyata take off, dan butuh lebih banyak dari itu, it’s a good problem. Artinya you should be able to monetize, jadi bisa bayar lebih banyak juga ke Microsoft untuk usagenya. Idealnya hanya sekitar 15% cost dari revenue yang dibayarkan ke Azure, tidak boleh lebih dari itu. Kalau sudah sampai 50% atau 60% yang dibayar ke Azure, berarti something wrong with your business model.

Dan kalau misalnya mau tetap pakai iPhone, iPad, ataupun Android, juga tidak masalah. Backend-nya tetap bisa pakai Azure. Message ini yang mau kita sampaikan ke startup, bahwa ada opportunity besar dari Microsoft. Karena sekarang tahunnya Microsoft, kita punya Windows Phone 8, Windows 8, dan Windows Azure. Ada opportunity, you can make money, we’re going to support you up and running. We provide technology, we provide access, we provide readiness technology, and also some kind of business training. Itu semua ada di BizSpark. Kita juga engage dengan VC / business incubator. Jadi dari sisi teknologi ada, dari sisi business model dan operation knowledge juga ada, apalagi sih yang dibutuhkan? Kecuali memang dari kalian sendiri yang memutuskan untuk “realize your idea, start selling your idea, and then make money from it”.

Aplikasi apa yang menjadi unggulan di Windows 8?

Kalau Angry Birds itu kan seperti trademark-nya iPad, karena itu dikembangkan pertama kali memang untuk iPad. Fruit Ninja juga sepertinya di iPad, lalu mulai di-port ke mana-mana. Jadi salah satu strategi yang dilakukan Microsoft juga mengembangkan top apps di platform lain, semuanya itu harus bisa diport ke Windows 8. Kita engage dengan orang-orang yang membuat top apps di situ. Seperti misalnya di Indonesia, top apps di Indonesia juga akan kita port. Jadi apps apapun yang ada di platform lain, itu juga akan ada di Windows 8, yang pada dasarnya itu transferable. Kalau yang menjadi trademark-nya Windows 8 sendiri, kelihatannya sampai sekarang ini kita belum dapat karena memang baru di launch.

Dari 3 jenis apps yang booming di semua platform, kenapa selalu games yang ada di urutan pertama?

Karena people tend to play games. Kalau yang saya lihat, games itu being consumerize karena trend. Kalau dulu kita dengar digital games, itu bayangan kita biasanya yang hardcore, perlu mesin yang besar, CPU tinggi, grafis yang canggih, baru bisa puas main games digital. Kalau di website, biasanya lebih banyak games seperti flash games atau casual games, tapi akhirnya yang take off justru yang sederhana seperti itu. Awalnya juga mungkin karena kita bosan ketika sedang menunggu di airport atau di suatu tempat, daripada kita bengong, biasanya kita lebih memilih untuk mengisi waktu dengan bermain games yang not so serious, atau yang seperti casual games. Sepertinya yang lebih populer sekarang kebanyakan adalah casual games. Justru games yang hardcore seperti dulu, yang butuh high processing power segala macam itu, malah sekarang sepertinya kurang diminati. Di sisi device juga seperti itu.

Dulu Sony Playstation dan Xbox itu untuk para hardcore gamer, dan akhirnya mereka compete di situ. Tak tahunya, Nintendo doing it the other way. Dengan membuat games yang secara grafis tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ada di Xbox atau Sony Playstation. Bisa dibilang “cupu banget”, kemampuan mesinnya juga, CPU dan memorinya itu sangat kecil kalau dibandingkan dengan Sony playstation atau Xbox. Tapi dengan gaya yang seperti itu, akhirnya malah take off dan banyak orang yang pakai. Ini menjadi tamparan keras bagi Sony dan Microsoft, bahwa pasar games itu tidak hanya hardcore gamers saja, tapi casual gamers yang justru lebih banyak. Akhirnya kita membuat Kinect. Ini juga sepertinya menjadi trend untuk casual games, karena orang-orang itu tidak suka menunggu dan tidak melakukan apa-apa.

Yang bisa menjadi opportunity buat developer apa saja?

Sometimes, yang dibuat oleh owner aslinya tidak melulu itu yang akan take off. Seperti misalnya twitter, akhirnya twitter client yang paling ngetop malah uber twitter, bukan dari twitternya sendiri. Itu yang di iPhone dan Blackberry. Sementara di Windows Phone, sepertinya yang paling banyak dipakai adalah Rowi. Jadi tetap ada peluang bagi developer untuk bisa mengembangkan aplikasi-aplikasi. Tapi kalau untuk publishing, orang lebih suka yang official. Seperti misalnya ada kompas.com news reader, pasti orang lebih prefer yang dari kompas.com. Lalu juga Social apps seperti chat messaging, karena orang-orang suka messaging. Ada yang build in dari Windows 8, bisa connect ke live dan connect ke Facebook. Jadi bisa sekalian chat ke facebook dan chat ke live langsung dari aplikasi ini. Selain chat, biasanya yang paling banyak dipakai itu yang day to day seperti twitter client. Dan hal-hal yang bukan games tapi entertaining, seperti interest based app.

Kalau yang interest, misalnya book, content, dan tutorial-tutorial. Itu harusnya cukup luas segmennya, karena interest orang-orang variasinya macam-macam, malah ada segmen yang sangat niche. Kalau para developer benar-benar bisa play around di market interest, mereka bisa monetize cukup banyak dari situ. Di Indonesia apa saja yang sedang trend sekarang? Kamera misalnya, jadi aplikasi-aplikasi fotografi seperti instagram itu bisa populer. Interest itu ada 2 jenis, content dan tools. Kalau yang tools itu kebanyakan aplikasi-aplikasi untuk fotografi, untuk apply filter editing. Ada juga tools fitness yang untuk mengukur kecepatan, namanya accelerometer. Selebihnya lebih banyak ke konten kalau kita bicara mengenai interest-based app. Saya kan praktisi jujitsu, jadi teknik-teknik jujitsu itu ada yang membuat kontennya. Di iPad dan iPhone itu sudah ada. Hal seperti ini bisa dengan mudah di monetize. Makanya kalau kita bisa menemukan content of interest di Indonesia, apa yang sedang trend, kita bisa membuat konten tentang itu. Contohnya aplikasi sneak peek , aplikasinya ini dijual di iPad dan iPhone, isinya itu biasanya video-video. Praktisi seperti saya, kalau melihat ada jurus-jurus yang keren seperti ini, pasti langsung beli. Jadi seperti itulah mereka monetize.

Kalau di Indonesia ada yang punya interest di satu bidang dan dia punya content, tapi tidak bisa develop apps, mungkin dia bisa engage dengan developer. Atau developernya sendiri yang punya interest. Seperti misalnya saya bisa membuat konten yang sesuai interest saya, lalu dijadikan apps. Konten bisa banyak macamnya, karena interest itu variasinya luas sekali, bisa sport, beauty, dan sebagainya. Dan untuk setiap interest, marketnya itu pasti seperti bentuk pyramid. Ada orang yang willing to pay premium for the content, ada yang cuma mau gratisannya saja. Jadi opportunitynya makin banyak. Di samping casual games, content of interest juga bisa menjual. Kalau seperti publishing itu agak susah untuk developer, karena most likely si publisher sendiri yang akan membuat apps-nya. Tapi kalau konten, siapapun bisa membuatnya. Asalkan ada 2 komponen, yang punya konten dan yang bisa membuat aplikasinya, itu harus bergabung. Kalau tidak, nanti developernya hanya jadi outsourcer aja. Dan harusnya model seperti itu jangan diikuti lagi, kita sebagai developer yang punya Intellectual Property (IP) sekarang.

Di Indonesia, pengguna internet bisa sampai puluhan juta orang, memang market yang sangat luas, orang luar negeri juga berbondong-bondong ke Indonesia. Tapi itu jangan sampai membuat developer di Indonesia jadi menutup diri, dan scopenya hanya di Indonesia saja.

Jangan sampai para developer hanya ingin menjual di Indonesian market. Kalau bisa malah mereka harus mencoba sampai ke luar negeri juga. Indonesia memang punya market yang besar, tapi mungkin ada opportunity lain di luar negeri. Jadi Indonesian developer harus mulai untuk menargetkan something yang bisa dibawa ke Internasional. Lagian juga channel distributionnya ada, bisa lewat Microsoft, so why you limit yourself? Games Fruit Ninja ini berasal dari Australia. Australia saja bisa come up dengan games seperti ini, kenapa di Indonesia tidak bisa? Lalu Angry Birds (Rovio) juga berasal dari Finland. Jadi yang seperti ini tidak melulu harus dari Amerika, dari mana saja bisa, tinggal kita yang memutuskan apakah mau membuatnya atau tidak.

Ada tips bagaimana caranya menyasar market di luar negeri?

Yang seperti ini sebenarnya tidak melulu sains, ada art nya juga. Bahkan kadang, timing dan opportunity juga sangat mempengaruhi. Sometimes, ada juga games yang sukses dengan genre character. Seperti angry birds, itu ada burung yang merah, burung yang kuning, burung yang hitam, dan sebagainya itu kan seperti karakternya. So, it’s not just about the game. Education sepertinya juga bisa menjual, tapi education untuk yang childhood education, seperti learning how to read. Sekarang, human-computer interaction sudah lebih enak, tidak hanya mouse dan keyboard, tapi juga bisa touch, bahkan di beberapa device ada yang sudah bisa multi touch.

Idea is not cheap, sekarang justru developmentnya sudah jadi cheap. Ide itu mahal. Sekarang store dan channel sudah ada, teknologi ada, business coaching juga ada. Jadi yang membedakan antara satu startup dengan startup lainnya ini adalah idenya, dan seberapa “ngotot” dia untuk mengeksekusi idenya, itu balik lagi ke orangnya. Kalau dari Microsoft, kita akan menyediakan teknologi, menyediakan akses, kita juga punya store. Jadi opportunity sudah ada, tinggal mau diisi seperti apa. Kalau learning dari Microsoft di tablet, kita belum punya, karena baru akan dirilis. Tapi learning yang ada di iPad dan Android itu harusnya transferable ke Windows 8 juga.

Saya dengar kalau amazon mau masuk ke phone juga. Seperti Android based, tapi istilahnya mereka “google-less Android”, jadi bukan Android yang dikontrol oleh google. Developer peluangnya makin banyak, tapi persaingan juga akan semakin ketat. Resep untuk menyasar market global tidak perlu ada, seperti misalnya games itu harusnya sesuatu yang cukup universal, dan siapapun bisa mendapatkannya. Tidak mengarah ke satu culture tertentu misalnya. Jadi dengan membuat sesuatu yang universal, seperti games, sebenarnya secara tidak langsung kita sudah bisa menyasar market global.

Ini juga menjadi kesempatan bagi 2-3 developer untuk bisa compete dengan satu perusahaan yang punya 90 atau 200 developer

Apa kaitannya dengan entrepreneurship?

Basically startups are entrepreneurs, orang-orang bilangnya technopreneur, karena mereka doing entrepreneurship using technologies. Jadi, idenya tetap entrepreneurship. They have an idea, they execute the idea, they sustain the idea. Make a real business yang benar-benar menghasilkan uang. Basically startup technology is another form of entrepreneurship.

Karena entrepreneurship juga ada yang tidak di dunia teknologi. Kalau kita membuat batik atau kursi misalnya, itu juga bisa dibilang entrepreneur. Sekarang ini yang lebih happening memang technopreneur. Mungkin karena di dunia yang non-digital, masih bermasalah dengan distribusi dan ekspor-impor yang mungkin lebih “njelimet” kalau kita mau jual ke Negara lain. Termasuk masalah shipping, forwarding, dan warehousing. Pokoknya yang non-digital akan menghadapi lebih banyak tantangan. Seperti misalnya kalau kita membuat restaurant, kita harus memikirkan supply chain, dapur, operation, dan sebagainya. Kalau digital entrepreneur harusnya lebih mudah di banyak hal. Seperti supply chain, sudah tidak jadi masalah, warehousing tidak perlu, tax juga harusnya sudah solved by the store.

Karena saat principal set up satu store, issued tax itu sudah clear di Negara tersebut. Seperti misalnya sekarang Windows Phone market place itu belum available di Indonesia bukan karena secara technically tidak available. Untuk membuat satu store di satu Negara, bagi Microsoft itu gampang. Tapi solving issue tax dengan government di Negara tersebut, yang butuh waktu panjang untuk berdiskusi. Itu yang membuat jadi makin panjang karena diundur-undur. Tapi sepertinya tahun ini akan masuk ke Indonesia. Dan ketika store sudah available untuk satu country, semuanya sudah di-settle secara otomatis.

Seperti misalnya suatu app di-define dengan harga lokal, lalu mau dijual, bisa dibeli di Amerika oleh developer Amerika. Currency convertionnya itu store Microsoft yang automatically doing it. Nanti ketika dia beli di sana, pasti perlu bayar pajak, karena beli sesuatu pasti kena pajak. Di sini, developer Indonesia pasti mendapat revenue, dan itu juga kena pajak. All those itu sudah settle, once the store is available in one country. Kalau entrepreneurship yang lain di bidang non-digital, seperti misalnya saya membuat cool t-shirt, saya harus ship out ke luar negeri, apa saja sih yang harus saya urus? Itu kan agak rumit mengurusnya, begitupun kalau misalnya saya menargetkan ke local market. Artinya kalau dihubungkan ke entrepreneurship, digital entrepreneurs startup ini jauh lebih mudah dari sisi operation hassle-nya, dibanding entrepreneur yang non-digital. Tapi sepertinya juga persaingannya sekarang semakin ketat, karena barrier to entry-nya relatif rendah.

Tapi ini juga menjadi kesempatan bagi 2-3 developer untuk bisa compete dengan satu perusahaan yang punya 90 atau 200 developer. Itu dimungkinkan sekarang, kalau dulu memang tidak ada kesempatan. Jadi, sebenarnya kalau sekarang mau jadi entrepreneur itu jauh lebih mudah dibandingkan sebelum ada era store dan market place, sebelum ada era consumer devices ini.

Kalau misalnya dulu saya mau jadi entrepreneur IT, paling pilihan saya hanya jadi reseller hardware, atau jadi software house yang membuatkan software berdasarkan pesanan orang atau mencari project. Bisa juga saya mencari produk, dan produknya itu dijual lewat Gramedia atau di suatu tempat. Dulu kan jamannya Zahir, software accounting, Andal Software. Di jaman dulu, kalau saya ingin menjadi entrepreneur teknologi atau software, bisa seperti itu. Dan kalau saya punya development team, mungkin harus besar juga kalau saya provide outsourcing. Sementara sekarang untuk menjadi entrepreneur IT jauh lebih mudah. Kalau misalnya kita bertiga punya ide membuat application, dan kita bisa monetize dari situ, kita sudah menjadi entrepreneur IT.

Makanya sekarang kita juga selalu mendorong mahasiswa, karena segalanya sudah begitu dimudahkan sekarang ini. Seperti ada yang pernah bilang, “kalau sudah mau lulus, setelah wisuda, jangan cari kerja. Setahun pertama, create your own startups, do anything”. Karena entrepreneurship digital sekarang kan gampang, maksudnya kerumitannya berkurang. If you have an idea, realize the idea, execute the idea, sustain the idea, try for one year. Kalau sustain dan bisa take off, lanjutkan bisnis tersebut.

Kalau misalnya gagal, ya sudah cari kerja. Tapi learning kita selama setahun running that startup, itu tidak bisa dibeli lagi nanti. Lebih baik gagal ketika baru lulus, umurnya juga masih 20an, masih muda. Gagal it’s okay, kalau bisa take off lebih baik lagi. Kalau misalnya gagal tapi masih mau mencoba lagi, ya silahkan coba lagi. Tapi kalau sudah benar-benar too tough, kita juga harus kompromi, karena harus ada bill yang dibayar, ya sudah get a job. Dan pada saat nanti kita kerja di tempat lain pun, entrepreneurship experience itu akan sangat berguna. Karena di company besar seperti Microsoft, kita seperti jadi intrapreneurs sebenernya. It’s like “you running your own business”. Seperti misalnya saya dan rekan saya punya ide untuk mengembangkan Windows 8, it’s like our own business. Karena kita yang mengerjakan semuanya, kita jadi seperti little startup inside the Microsoft which doing our business. Jadi kita punya target some goals, kita eksekusi untuk mencapai itu. How we’re going to do that? Planning, execution, dan segala macamnya itu kita sendiri yang define.

Bagaimana prosesnya agar para startup bisa submit apps-nya ke Windows Store?

Di Indonesia, Windows Store memang belum available, nanti akan kita umumkan kapan availablenya. Intinya Windows 8 akan available softwarenya untuk PC dan tablet itu bulan Oktober. Windows storenya juga akan available bulan Oktober untuk world wide. Indonesian consumer sudah bisa membeli apps, tapi untuk Indonesian developer submit apps-nya seperti apa, itu kita belum tahu kepastiannya. Untuk submit apps sebenarnya mirip seperti di Apple store dan Windows phone juga. Jadi developer perlu punya account di Windows store untuk submission. Sekarang itu untuk yang individual, biayanya $49 untuk registration annual, sementara kalau coporate $99. Ketika dia punya account, dia bisa submit application yang dibuat ke store. Nanti Microsoft akan review secara quality, dan kalau dianggap ada yang error atau “cacat”, akan dikembalikan lagi sampai akhirnya siap untuk di-submit di store. Setelah di-submit, akan available di “etalase” store, dan bisa di-highlight. Masalah pembagiannya itu 70:30. Artinya 70% untuk developer, 30% untuk Microsoft. Dan ketika sudah mencapai limit tertentu sampai berapa downloads, nanti akan secara otomatis berubah menjadi 80:20. Jadi akan semakin besar lagi pendapatan yang diterima developer, jika jumlah apps yang didownload semakin banyak.

Sebenarnya se-simple itu aja. Punya ide, di-compile, buka developer account, submit applicationnya. Kalau diterima, bisa dimonetize. Monetizenya juga beda-beda, mau jadi free apss atau buy apps. Dan ads-nya juga bermacam-macam, bisa ads sendiri, atau yang disupport dari Microsoft juga ada.

Ada hal lainnya yang ingin disampaikan?

Setiap Venture Capital / Incubator kan ada banyak startups yang teraffiliate dengannya, kita berharap mereka bisa membantu kita menyampaikan pesan, bahwa selain di google dan Apple, Microsoft juga punya similar scheme. Dan kalau dilihat dari business opportunity-nya, harusnya kita jauh lebih besar daripada platform lain. At least you should target all these. Apa salahnya seperti itu? Jadi misalnya kita membuat Angry Birds, awalnya hanya ada di iPad dan iPhone, tapi akhirnya di Android juga ada. Dan rencananya nanti akan dibuat di Windows Phone, dan di Windows 8 juga akan masuk.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *